Kejadian ini hampir 2 minggu yang lalu. Sore-sore ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah, Isaac bilang pada saya, "Mami, aku mau beli piala di sekolah, harganya Rp 45.000".
"Ha? Apa Saac? Beli piala? Emang ada apa sekolahnya jualan piala?" tanya saya.
"Iya, pialanya dijual di sekolah harganya Rp 45.000," kata Isaac.
Secara refleks, sebagai orang tua yang saat itu memang tidak merasa kekurangan uang dan ingin membiarkan anaknya memegang-megang piala, saya tidak keberatan mengeluarkan uang segitu untuk memenuhi keinginan anak saya. Tapi saya berpikir lagi, "Apakah bijak saya membiarkan anak saya membeli piala yang notabene sebenarnya tidak diperlukan?"
"Ga papa kan anggap saja seperti beli mainan lainnya."
"Tapi anak saya ini bosenan, buat orang bosenan seperti dia, mainan seharga Rp 45.000 seharusnya masuk kategori mahal, dan piala itu .. apa yang bisa diperbuat dengan piala itu selain untuk dipegang-pegang, dibuat mainan yang gak karuan?"
"Biarin lah, wong namanya juga pingin megang, pingin nyoba."
"Tetap rasanya aneh membeli piala."
"Bukannya piala itu seharusnya dilombain ya, Saac? Di sekolahnya kamu ada perlombaan apa?" tanya saya lagi.
"Iya, ada lomba, ada yang menang, tapi bukan aku. Yang menang itu dapet piala. Aku engga. Tapi aku pingin piala itu Mami," jawab Isaac.
"Kalau kamu pingin piala kamu harusnya ikut lomba dong, trus berusaha biar menang, atau kamu deketi aja temen kamu yang menang itu, pinjem pegang pialanya sebentar," kata saya.
"Tapi aku gak suka ikut lombanya,"
"Ya kalo gitu kamu gak perlu punya piala."
"Tapi aku pingin pialanya."
"Kalau gitu kamu harus ikut lomba."
"Yaaa Mami .. boleh ya... kan aku pingin."
"Ya kalau pingin kamu harus ikut lomba dan menangin lombanya. Begitu caranya dapat piala, bukan dengan membeli."
Isaac diem ...
"Gini ya, Saac, yang namanya piala itu kan lambang kemenangan. Kalau orang ikut lomba, trus menang, dia dapat piala, supaya bisa dipajang di rumahnya, trus kalau ada orang lihat, nanti tanya, "Wah kamu ikut lomba apa? Juara berapa?" Kalau kamu gak ikut lomba tapi kamu punya piala, nanti orang tanya, kamu jawab apa?"
"Tapi aku gak suka ikut lombanya."
"Ya ga papa, tapi kamu ga bisa punya piala kalau gak pernah menangin lomba. Itu juga ga papa. Kalau kamu pingin pegang pialanya, kamu pinjem aja pialanya temen kamu yang menang itu. Dulu Papi sering dapat piala juga karena juara, ga pernah beli. Kalau kamu cuma pingin mainan piala, nanti kita ambil aja pialanya Papi yang di Pekalongan."
Di rumah, Isaac masih berusaha minta uang, bahkan dia mengambil uang saya yang tergeletak di meja, dan bilang pada saya, "Ini ya Mami, buat beli piala ya."
Tetap saya jawab, "Engga Isaac."
Walaupun kecewa dia tetap mengembalikan uang tersebut di meja.
Keesokan harinya saya mengirim message di fesbuk gurunya dan menanyakan perihal jual beli piala di sekolahnya Isaac. Ternyata memang ada di sekolah. Jadi sekolah mengadakan lomba apaaa gitu, lalu ada juara satu, dua, dan tiga. Sementara anak-anak yang tidak menang, kalau ingin memiliki pialanya, bisa membelinya dengan harga Rp 45.000.
Saya akhirnya menyampaikan kepada bu guru, bahwa saya tidak mengijinkan Isaac untuk membeli piala, mohon koordinasinya kalau nanti ternyata Isaac mendapat bantuan dana dari pihak-pihak lain, misalnya neneknya atau siapapun juga, atau menggunakan uang yang ada di mobil, supaya ditolak.
Saya juga menyampaikan kepada bu guru, mengenai keberatan saya dengan penjualan piala tersebut. Apakah sekolah tidak sedang menanamkan benih-benih korupsi dengan menjual benda yang oleh anak lain diperoleh dengan susah payah dan seharusnya menimbulkan kebanggaan karena memperolehnya, sementara anak lain bisa mendapatkannya dengan mudah hanya dengan minta uang kepada orang tuanya?
Seharusnya anak belajar, walaupun yang menang itu bukan dirinya, dia juga ikut senang dengan keberhasilan orang lain, karena perlombaan itu kan untuk kesenangan bersama, dan yang menang tidak boleh sombong tapi membagi kebahagiaannya dengan orang lain.
Saya tidak protes ketika bu guru memberi nilai 58 di raport untuk nilai pelajaran moral anak saya, karena saya tahu bagaimana cara penilaian di sekolah formal yang serba terbatas, dan saya tahu bagaimana sebenarnya anak saya, jadi saya tidak menjadikan nilai dari sekolah sebagai acuan untuk anak saya. Bahkan saya katakan padanya, nilai tidak penting, yang penting, kamu ke sekolah untuk belajar supaya menambah pengetahuan kamu. Saya bahkan tidak membawa pulang raportnya Isaac karena nantinya juga harus dikembalikan lagi, dan tidak sedikitpun membahasnya dengan Isaac karena saya pikir, yang penting anak saya mendapat ilmu yang berguna untuk hidupnya. Untuk apa saya bahas nilai-nilai, nanti anaknya malah berfokus ke situ daripada ke ilmu yang seharusnya dia serap. Biar saja anak-anak belajar dengan senang hati, tanpa harus ada tuntutan harus dapat nilai sekian. Tapi jika ada praktek-praktek yang menurut saya menyimpang dari pelajaran moral, itulah yang saya anggap ancaman untuk anak saya.
Saya mungkin memang tidak bisa melindungi anak-anak dari menemukan fakta-fakta yang aneh-aneh di lapangan, tapi saya tetap harus melakukan semaksimal mungkin untuk menjaga hati anak-anak saya dari pengaruh-pengaruh asing yang buruk di luar rumahnya.
Blog e Lea
Tuesday, January 31, 2012
Monday, November 21, 2011
Tidak Jadi Dongkol
Sepulang dari kantor tadi, tiba di rumah, saya merasa dongkol karena supir saya tidak mengerjakan tugasnya seperti yang saya katakan padanya.
Rasa dongkol ini mungkin juga dipicu karena saya sudah lelah secara fisik, kedua anak saya ketiduran sejak dari kantor, sehingga saya harus menggendong mereka, ditambah lagi, suami saya yang walaupun pulang bersama saya saat itu, tapi sudah bilang kalau kondisi badannya kurang fit, sehingga saya rasa tidak mungkin meminta bantuan kepadanya. Meskipun pada akhirnya suami saya membantu saya menggendong anak kedua saya dan membawa tasnya sendiri, saya tetap dongkol.
Saya ingin ngomel ke supir saya itu, atau ke OB saya yang menurut dugaan saya buru-buru pergi dari rumah saya sehingga supir saya tidak mengerjakan perintah saya dengan baik. Tapi ketika saya menghubungi hp-nya berkali-kali tetap tidak bisa nyambung juga, akhirnya saya putuskan untuk memandikan anak bungsu saya dulu dan mandi. Saya pikir, lebih baik saya segar dulu, supaya ngomel pun lebih enak :D
Setelah saya memandikan anak saya, iseng-iseng saya membuka laptop dan melihat fesbuk saya. Ternyata teman saya mentag saya di fotonya dia tentang pendidikan. Entah mengapa, ketika melihat gambar itu, saya langsung terhanyut dengan tema gambar itu, bahkan sempat ngobrol dengan Milen, anak bungsu saya, karena dia menanyai saya tentang gambar itu.
Setelah beberapa saat terhanyut dengan gambar tersebut dan comment-comment di bawahnya, saya mengingat kembali tentang supir saya. Sebenarnya saya ingin posting status, untuk menumpahkan kedongkolan saya, tapi semangat saya untuk dongkol tiba-tiba redup bahkan setelah saya obok-obok hati saya, saya pastikan lagi, saya benar-benar tidak bersemangat lagi untuk tetap tinggal dalam kedongkolan itu. Saya bahkan sudah tidak ambil pusing lagi. Memang, saya tetap akan menanyai supir saya, karena saya perlu dia membantu meringankan beban kerja saya, dan kalau saya biarkan kejadian sekali ini dengan diam saja, jangan-jangan nantinya dia beranggapan saya tidak keberatan dengan kelalaiannya. Tapi saya sudah tidak emosi lagi.
Aneh ..
Apakah karena matahari sudah terbenam?
Apa hubungannya?
Karena kitab suci saya berkata, "janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu" (Ef 4:26) :))
Entahlah. Akhirnya, tidak jadi posting status dongkol, malah saya mengirim message kepada teman saya itu karena telah mengirim gambar yang bermanfaat sehingga pikiran dan hati saya yang sedang dongkol ini bisa terbelokkan fokusnya ke tema gambar dia.
Jadi, jika sedang marah, mungkin lebih baik kita berdiam diri saja, mengumpat dalam hati, namun berusaha mencari pengalih perhatian supaya fokus kita tidak melulu ke pemicu rasa marah itu.
Dan sekali lagi Tuhan membuktikan, Dia menghibur saya, menjadi penolong dan sahabat saya. Ketika seseorang sedang marah, karena keinginannya tidak terpenuhi, dan tidak mungkin terpenuhi lagi, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk membuatnya senang adalah dengan mengalihkan pikiran dan hatinya ke hal-hal yang lain. Itulah yang selama ini saya lakukan untuk orang-orang yang saya kenal, dan ternyata sekarang Tuhan melakukannya untuk saya :D
Rasa dongkol ini mungkin juga dipicu karena saya sudah lelah secara fisik, kedua anak saya ketiduran sejak dari kantor, sehingga saya harus menggendong mereka, ditambah lagi, suami saya yang walaupun pulang bersama saya saat itu, tapi sudah bilang kalau kondisi badannya kurang fit, sehingga saya rasa tidak mungkin meminta bantuan kepadanya. Meskipun pada akhirnya suami saya membantu saya menggendong anak kedua saya dan membawa tasnya sendiri, saya tetap dongkol.
Saya ingin ngomel ke supir saya itu, atau ke OB saya yang menurut dugaan saya buru-buru pergi dari rumah saya sehingga supir saya tidak mengerjakan perintah saya dengan baik. Tapi ketika saya menghubungi hp-nya berkali-kali tetap tidak bisa nyambung juga, akhirnya saya putuskan untuk memandikan anak bungsu saya dulu dan mandi. Saya pikir, lebih baik saya segar dulu, supaya ngomel pun lebih enak :D
Setelah saya memandikan anak saya, iseng-iseng saya membuka laptop dan melihat fesbuk saya. Ternyata teman saya mentag saya di fotonya dia tentang pendidikan. Entah mengapa, ketika melihat gambar itu, saya langsung terhanyut dengan tema gambar itu, bahkan sempat ngobrol dengan Milen, anak bungsu saya, karena dia menanyai saya tentang gambar itu.
Setelah beberapa saat terhanyut dengan gambar tersebut dan comment-comment di bawahnya, saya mengingat kembali tentang supir saya. Sebenarnya saya ingin posting status, untuk menumpahkan kedongkolan saya, tapi semangat saya untuk dongkol tiba-tiba redup bahkan setelah saya obok-obok hati saya, saya pastikan lagi, saya benar-benar tidak bersemangat lagi untuk tetap tinggal dalam kedongkolan itu. Saya bahkan sudah tidak ambil pusing lagi. Memang, saya tetap akan menanyai supir saya, karena saya perlu dia membantu meringankan beban kerja saya, dan kalau saya biarkan kejadian sekali ini dengan diam saja, jangan-jangan nantinya dia beranggapan saya tidak keberatan dengan kelalaiannya. Tapi saya sudah tidak emosi lagi.
Aneh ..
Apakah karena matahari sudah terbenam?
Apa hubungannya?
Karena kitab suci saya berkata, "janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu" (Ef 4:26) :))
Entahlah. Akhirnya, tidak jadi posting status dongkol, malah saya mengirim message kepada teman saya itu karena telah mengirim gambar yang bermanfaat sehingga pikiran dan hati saya yang sedang dongkol ini bisa terbelokkan fokusnya ke tema gambar dia.
Jadi, jika sedang marah, mungkin lebih baik kita berdiam diri saja, mengumpat dalam hati, namun berusaha mencari pengalih perhatian supaya fokus kita tidak melulu ke pemicu rasa marah itu.
Dan sekali lagi Tuhan membuktikan, Dia menghibur saya, menjadi penolong dan sahabat saya. Ketika seseorang sedang marah, karena keinginannya tidak terpenuhi, dan tidak mungkin terpenuhi lagi, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk membuatnya senang adalah dengan mengalihkan pikiran dan hatinya ke hal-hal yang lain. Itulah yang selama ini saya lakukan untuk orang-orang yang saya kenal, dan ternyata sekarang Tuhan melakukannya untuk saya :D
Label:
di ladang,
kabar-kabari
Friday, November 11, 2011
Sia-sia?
Ketika akan membacakan Alkitab untuk anak saya di malam hari, saya melihat Kitab Pengkotbah secara sekilas. Meskipun malam itu saya tidak membacakan Kitab Pengkotbah untuk anak saya, namun penglihatan yang sekilas terhadap Kitab Pengkotbah itu terngiang-ngiang di hati saya. Saya ingat, kitab itu sangat berkesan untuk saya (semua kitab di dalam Alkitab berkesan untuk saya dengan cara yang berbeda-beda) karena Pengkotbah menunjukkan banyak kesia-siaan dalam hidup ini.
Kekayaan sia-sia, kecantikan sia-sia, bahkan hikmatnya pun dianggap sia-sia karena baik orang bodoh maupun orang berhikmat sama-sama akan mati.
Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, sambil memasak saya merenungkan Kitab Pengkotbah yang kemarin saya lihat sekilas itu, dan merasa heran. Salomo dalam karunia hikmatnya yang sangat terkenal juga kekayaan yang melimpah dan kesenangan-kesenangan yang mengelilinginya, mengatakan bahwa segala segala sesuatu di bawah kolong langit ini adalah sia-sia, karena pada akhirnya semua manusia akan mati, dan ketika kita mati, kita tidak akan membawa semua itu.
Sungguh kontras dengan yang dikatakan oleh Paulus yang hobby keluar masuk penjara karena memberitakan imannya, dia tidak pernah mengatakan bahwa hidupnya sia-sia. Bahkan Paulus berkata, "hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan".
"Lihatlah!" kata Tuhan sambil menemani saya memasak :), "Salomo dengan karunia hikmatnya yang spektakuler menganggap sia-sia semua yang pernah diperolehnya karena menganggap semua itu tidak bisa dibawa dan hanya akan ditinggalkan untuk orang lain ketika dia mati. Tentu saja, semua sia-sia jika kita hanya memikirkan apa yang bisa kita bawa untuk diri sendiri. Tetapi Paulus, yang tidak tenar dengan karunia-karunia yang kelihatan hebat, malah sering keluar masuk penjara seolah-olah dia adalah seorang penjahat, telah membawa banyak orang ke jalan kebenaran, dan dia tidak merasa ada yang sia-sia dalam hidupnya."
Ya. Paulus telah mengumpulkan harta yang penting, harta yang dia simpan di sorga.
Seringkali kita mengukur kekayaan kita (maupun kekayaan orang lain) dari barang-barang yang dimiliki, bentuk rumah, merek mobil, merek baju dan aksesoris yang digunakan. Bahkan terkadang ada orang yang bangga karena bisa main perempuan, mabuk-mabukan, dan menikmati semua yang dia pikir adalah kesenangan-kesenangan bagi dirinya. Semua ukuran itu sifatnya egosentris dan hanya mementingkan diri sendiri. Pertanyaannya selalu, "berapa banyak yang sudah saya miliki atau pernah pakai?" Itu yang menjadi ukurannya untuk merasa kaya. Tidak heran, kita selalu merasa miskin dan kurang, karena manusia selalu merasa kurang ketika melihat orang lain kemudian melihat dirinya sendiri.
Padahal, orang yang (merasa) berkelimpahan tidak akan merasa sayang untuk memberi kepada orang lain. Kita mungkin tidak pernah mengukur kekayaan kita dari "berapa yang sudah/bisa kita berikan kepada orang lain atau bahkan Tuhan?" Hal itu tidak lazim :)
Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, pada akhirnya akan merasa semua yang dia lakukan sia-sia, karena dia tidak akan menikmati semua usahanya selama hidup ketika dia mati. Tetapi orang yang hidup untuk melayani Tuhan dan orang lain, tidak akan merasa sia-sia karena meskipun dia mati, dia telah menjadikan hidupnya berguna untuk orang lain dan menikmati sukacita yang Tuhan berikan ketika dia hidup.
Salomo pada akhirnya menyadari bahwa semua yang dia miliki sia-sia tanpa Tuhan.
Jadi, inilah pencerahan yang saya dapatkan pagi ini. Manusia tidak akan pernah bahagia jika hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan selalu merasa kekurangan, tetapi ketika peduli dan ingin melayani dan membangun orang lain, dia akan merasa bahagia dengan hidupnya sendiri. Coba saja :)
Kekayaan sia-sia, kecantikan sia-sia, bahkan hikmatnya pun dianggap sia-sia karena baik orang bodoh maupun orang berhikmat sama-sama akan mati.
Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, sambil memasak saya merenungkan Kitab Pengkotbah yang kemarin saya lihat sekilas itu, dan merasa heran. Salomo dalam karunia hikmatnya yang sangat terkenal juga kekayaan yang melimpah dan kesenangan-kesenangan yang mengelilinginya, mengatakan bahwa segala segala sesuatu di bawah kolong langit ini adalah sia-sia, karena pada akhirnya semua manusia akan mati, dan ketika kita mati, kita tidak akan membawa semua itu.
Sungguh kontras dengan yang dikatakan oleh Paulus yang hobby keluar masuk penjara karena memberitakan imannya, dia tidak pernah mengatakan bahwa hidupnya sia-sia. Bahkan Paulus berkata, "hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan".
"Lihatlah!" kata Tuhan sambil menemani saya memasak :), "Salomo dengan karunia hikmatnya yang spektakuler menganggap sia-sia semua yang pernah diperolehnya karena menganggap semua itu tidak bisa dibawa dan hanya akan ditinggalkan untuk orang lain ketika dia mati. Tentu saja, semua sia-sia jika kita hanya memikirkan apa yang bisa kita bawa untuk diri sendiri. Tetapi Paulus, yang tidak tenar dengan karunia-karunia yang kelihatan hebat, malah sering keluar masuk penjara seolah-olah dia adalah seorang penjahat, telah membawa banyak orang ke jalan kebenaran, dan dia tidak merasa ada yang sia-sia dalam hidupnya."
Ya. Paulus telah mengumpulkan harta yang penting, harta yang dia simpan di sorga.
Seringkali kita mengukur kekayaan kita (maupun kekayaan orang lain) dari barang-barang yang dimiliki, bentuk rumah, merek mobil, merek baju dan aksesoris yang digunakan. Bahkan terkadang ada orang yang bangga karena bisa main perempuan, mabuk-mabukan, dan menikmati semua yang dia pikir adalah kesenangan-kesenangan bagi dirinya. Semua ukuran itu sifatnya egosentris dan hanya mementingkan diri sendiri. Pertanyaannya selalu, "berapa banyak yang sudah saya miliki atau pernah pakai?" Itu yang menjadi ukurannya untuk merasa kaya. Tidak heran, kita selalu merasa miskin dan kurang, karena manusia selalu merasa kurang ketika melihat orang lain kemudian melihat dirinya sendiri.
Padahal, orang yang (merasa) berkelimpahan tidak akan merasa sayang untuk memberi kepada orang lain. Kita mungkin tidak pernah mengukur kekayaan kita dari "berapa yang sudah/bisa kita berikan kepada orang lain atau bahkan Tuhan?" Hal itu tidak lazim :)
Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, pada akhirnya akan merasa semua yang dia lakukan sia-sia, karena dia tidak akan menikmati semua usahanya selama hidup ketika dia mati. Tetapi orang yang hidup untuk melayani Tuhan dan orang lain, tidak akan merasa sia-sia karena meskipun dia mati, dia telah menjadikan hidupnya berguna untuk orang lain dan menikmati sukacita yang Tuhan berikan ketika dia hidup.
Salomo pada akhirnya menyadari bahwa semua yang dia miliki sia-sia tanpa Tuhan.
Jadi, inilah pencerahan yang saya dapatkan pagi ini. Manusia tidak akan pernah bahagia jika hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan selalu merasa kekurangan, tetapi ketika peduli dan ingin melayani dan membangun orang lain, dia akan merasa bahagia dengan hidupnya sendiri. Coba saja :)
Label:
christian,
lagi mikir
Monday, October 10, 2011
Belajar Moral Bersama Isaac #2
Ini berkat atau gara-gara pelajaran moralnya Isaac yang sekalian memaksa saya untuk memberikan pengalaman hidup dengan materi pelajarannya.
Masih ingat pertanyaan tentang ibu yang sibuk memasak dan dijawab oleh Isaac dengan menunggunya?
Awalnya saya berniat membicarakan ini dengan guru pelajaran moralnya Isaac. Mengapa tidak membuat soal yang lebih realistis untuk anak-anak kelas 1 SD ketimbang memperhadapkannya dengan kegiatan memasak yang pasti jarang dilakukan oleh anak-anak kelas 1 SD? Kenapa pekerjaan rumah yang ditanyakan harus "memasak"? Kenapa bukan "membereskan mainan", "membersihkan kamar tidur", dll?
Tapi saya berulang kali merenungkan soal tersebut. Si pembuat soal memang sudah memberikan suasana sendiri pada soal tersebut dengan memberikan sebuah kalimat di atas soal berbunyi :
Saya sayang pada ayah dan ibu, maka saya suka membantu ayah dan ibu.
Lalu di bawahnya ada soal : ketika ibu sibuk memasak, saya akan ....
Mungkin gurunya juga sudah membacakan kembali soal tersebut ketika anak-anak mengerjakannya, mungkin memang dasar Isaac yang tidak ngeh maksud kalimat di atas soal itu sebenarnya untuk memberitahukan jawaban soal di bawahnya :D
Saya mencoba berdiri di posisi sang guru, yang mungkin sudah digarisi oleh kurikulum dengan hafalan-hafalan yang mematikan potensi siswa .. ya sudah lah ..
Jawaban anak saya juga sebetulnya tidak salah, walaupun dia menyayangi saya, dia tidak perlu menunjukkan rasa sayangnya dengan membantu saya memasak.
Karena jika Mami sedang memasak, dia berpikir, lebih baik menunggu di radius yang aman, supaya tidak kena cipratan gorengan, atau karena dorongan rasa ingin tahunya jadi ingin memegang ini dan itu sehingga bisa saja menyebabkan kecelakaan di dapur yang berakibat acara masaknya Mami jadi berantakan dan tambah lama. Ini disebabkan karena saya jarang memasak karena sudah ada asisten atau Mami atau Mamah saya yang memasak, dan mereka pasti tidak akan mengijinkan anak kecil berada di dapur ketika mereka sedang memasak.
Saya tidak mengatakan bahwa dia salah dengan jawabannya, saya hanya mengatakan, "jawaban kamu ga apa-apa, lao shi hanya menginginkan jawaban yang lain". Entah bagaimana dia menangkapnya, semoga tidak ditangkap secara keliru seperti yang saya takutkan.
Beda ketika pertanyaan itu ditanyakan mungkin kepada anak kelas 3 atau yang lebih tinggi, mereka mungkin sudah lebih bisa berhati-hati di dapur, atau minimal, sudah lebih bisa munafik memberikan jawaban yang baik-baik saja :D.
Ketika saya merenungkan berulang-ulang kejadian itu, akhirnya saya berkeputusan mengurungkan niat saya untuk mendebat si guru atau pembuat soal. Teorinya sudah bagus, hanya penerapannya yang menurut saya terlalu tinggi untuk anak saya. Maka mungkin saya lebih baik "mengupgrade" diri saya sendiri supaya bisa mengupgrade anak saya. Bukan dengan mengajarkan hafalan teorinya, tapi dengan belajar mempraktekkan teori tersebut.
Kemarin saya iseng-iseng mengajak Isaac terlibat dalam acara memasak saya di dapur. Tentu saja, tidak hanya Isaac, tapi kedua adiknya juga. Bedanya, Isaac sudah lebih serius melakukannya karena dia sebenarnya memang suka membantu saya.
Walapun pada kenyataannya, kali ini sayalah yang membantu dia memasak :) Tapi pengalaman yang kami sebut dengan "membantu mami" itu tampaknya disukai oleh Isaac.
Ada beberapa makanan yang bisa dibuat tanpa perlu kompor yang menyala-nyala bisa dibuat sendiri oleh Isaac. Misalnya meramu koko crunchnya dengan susu, mengupas apel dan memotongnya, atau meracik roti tawarnya sendiri, malahan Isaac yang mengajari kami orang tuanya cara mengupas apel yang paling gampang dan aman.
Tapi karena dia jarang dilibatkan dalam kegiatan rumah baik oleh asisten rumah tangga ataupun nenek-neneknya, dia jadi jarang membuat sendiri makanannya dan terbiasa meminta dibuatkan meskipun sebenarnya bisa membuatnya sendiri.
Hanya kalau ada saya di rumah, tanpa asisten, bersama anak-anak, Isaac bisa bereksperimen sendiri dengan makanannya. Tapi kesempatan seperti itu bisa dibilang jarang, karena hampir sepanjang hari saya menghabiskan waktu di kantor.
Jika saya mengajak anak-anak ke kantor pun, tidak selalu ada kesempatan untuk belajar melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah, karena semua sudah ada yang melakukannya :D.
Sekarang saya berusaha untuk mengerjakan urusan kantor dari rumah selama tidak ada meeting atau orang yang membutuhkan kehadiran saya, supaya saya bisa lebih banyak bersama anak-anak. Dan kalau harus ke kantor pun, saya berusaha untuk melibatkan anak-anak lagi dalam kegiatan-kegiatan saya.
Ada satu soal lain lagi yang beda standar dengan saya :D Menurut saya, rasa malu adalah kontrol yang lebih kuat atas moralitas seseorang, karena muncul dari diri sendiri.
Ketika kemarin ada soal "saya terlambat datang ke sekolah, akibatnya saya...", anak saya menjawab malu, tetapi si guru menginginkan jawaban dimarahi guru.
Mengapa tidak lebih mengharapkan siswa punya kesadaran sendiri dengan merasa malu kalau terlambat ke sekolah, atau merasa rugi karena ketinggalan pelajaran ketimbang takut dimarahi guru?
Bagi saya, dimarahi guru karena terlambat datang ke sekolah bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti (apalagi ditanamkan kepada siswa), karena tidak ada manfaatnya terhadap proses belajar-mengajar. Bahkan saya mungkin bisa marah balik ke gurunya karena anak saya sebagai customer seharusnya diperlakukan dengan baik, bukannya dimarahi karena terlambat hadir di sekolah. Keterlambatan seharusnya menjadi kerugian di pihak siswa karena sebagai customer yang sudah membayar, mereka jadi ketinggalan materi pelajaran, atau menyebabkan mereka malu karena menjadi satu-satunya orang yang melintasi kelas sementara yang lain sudah duduk manis dan akhirnya dia menjadi pusat perhatian yang negatif.
Beda standar moral nih? :)
Label:
belajar jadi ortu
Sahabat dan Roti Gandum
Sejak beberapa bulan yang lalu, saya .. entah bagaimana caranya .. bertemu lagi dengan sahabat lama saya waktu SMU, Yennie Kurniawan.Yennie ini suka masak. Dulu ketika SMU kami pernah membuat pizza mini bersama di rumahnya.
Beberapa hari yang lalu, sahabat saya ini mengikuti seminar tentang gaya hidup sehat yang membahas pola-pola hidup sehat, terutama masalah makanan.
Dan rupanya dia pembelajar yang sangat baik. Tidak mau biaya seminar terbuang sia-sia, dia mempraktekkan semua yang dia dapat di seminar tersebut, termasuk mengganti roti sarapannya dengan roti gandum.
Ketika saya ajak dia mengikuti camp Wanita Bijak di Serpong minggu lalu, dia membawakan saya roti gandum yang sudah diberi selai sarikaya. Awalnya saya enggan, karena saya sudah pernah mencoba makan roti gandum, tapi ternyata saya tidak menyukainya. Tapi karena dia sudah bersusah payah membawakan saya, saya berusaha menghabiskannya, walaupun .. benar-benar bersusah payah. Saya menghabiskannya sampai keesokan harinya :)) haha .. Sebenarnya itu karena selain roti gandum dia juga membawa banyak jajanan pasar untuk saya. Ini sebenarnya sahabat atau mami sih? :))
Ketika potongan ke ... berapa yah .., saya sudah mulai merasakan enaknya. Roti gandum yang kasar dan seret itu sudah bisa diterima oleh lidah saya. Dan akhirnya sekarang saya mulai mengkonsumsi roti gandum juga, karena mulai menyukainya selain karena lebih sehat :) Kalau sekarang, karena semua kondisi masih sehat, kolestrol dan semuanya masih normal, saya hanya membiasakan diri saja, supaya kalau suatu saat tiba-tiba kolestrol saya buruk dan saya harus makan makanan yang aneh-aneh, paling tidak saya sudah terbiasa :)
Tapi ketika saya mulai mencari roti gandum ini, biasanya saya sering melihatnya di swalayan, tiba-tiba seperti menghilang. Bahkan ketika akhirnya saya mendapatkan 1 roti gandum di salah satu swalayan, itu sudah tinggal satu-satunya. Dan ternyata roti yang awalnya menurut lidah saya tidak enak itu harganya lebih mahal daripada roti tawar biasa x_x
"Koq bisa ya?" kata saya dalam hati.
Saya berterima kasih pada sahabat saya ini, sudah menshare ilmunya walaupun dia dapat dengan mahal tapi tidak pelit-pelit membagi ilmunya secara gratis bahkan memaksa saya mempraktekkannya :)
Rasanya saya tidak perlu menjabarkan mengapa roti gandum lebih sehat, karena sudah banyak yang melakukannya di dunia maya ini dan kita bisa mendapat informasi lengkap lewat google atau mesin pencari lainnya.
Label:
sahabat
Wednesday, October 5, 2011
Belajar Moral Bersama Isaac
Sebelumnya silahkan memirsa tulisan saya di http://candrajunior.blogspot.com/2011/10/isaac.html
Diyenggg!!!
Kali ini saya menghadapi dilema dengan pelajaran moral anak sulung saya.
Sebenarnya, walaupun menggelikan, saya kasihan juga pada anak saya yang sudah menjawab dengan tulus dan jujur :)
Saya selalu menasehati anak saya untuk menjawab soal tes sesuai keadaan dirinya. Kalau memang tidak bisa atau tidak tahu, ya sudah, tidak perlu melihat jawaban temannya, itu namanya tidak jujur. Kalau jawabannya salah, berarti dia tidak tahu, maka perlu belajar supaya bisa menjawab dengan benar.
Bahkan ada kalanya saya tidak terlalu memaksa dia untuk belajar walapun besoknya ada tes, untuk memberi "pelajaran" lain, bahwa kalau dia tidak belajar dengan serius, akan susah mengerjakan tes dengan benar.
Tapi kali ini bukan soal eksak seperti matematika atau science. Untuk hal-hal yang eksak seperti itu saya nyaris tidak perlu khawatir karena Isaac mudah mempelajarinya.
Ini adalah pelajaran moral, dan seperti ilmu sosial, jawabannya seringkali bergantung pada budaya masing-masing tempat atau bahkan keluarga.
Dalam kasus pertanyaan ini, memang secara teori, seorang anak yang dianggap bermoral sesuai standar ... entah standar mana yang digunakan :D, jika ibunya memasak, maka anak diharapkan membantu ibunya.
Tapi pada kenyataannya tidak semua ibu dapat menuntut si anak untuk membantu di dapur, dan tidak semua anak kelas 1 SD dapat dituntut untuk membantu ibunya di dapur. Baik karena kondisi dapur, kemampuan koordinasi motorik anak, kebiasaan dalam keluarga, maupun waktu yang terbatas.
Maka bisa jadi, bagi beberapa keluarga, menunggu adalah tindakan yang paling baik untuk dilakukan seorang anak ketimbang dia berusaha membantu di dapur yang mungkin berujung pada acara memasak si ibu malah bertambah lama dan dapur jadi kacau sehingga si ibu punya pekerjaan tambahan lagi :D.
Kalau saya suruh anak saya menjawab seperti yang diharapkan lao shi-nya, yaitu membantu, maka yang dibayangkan anak saya membantu ibu memasak adalah ikut terlibat di dapur, sementara pada prakteknya saya malah lebih suka dia mengerjakan hal lain sementara saya memasak, maka ada bahaya yang lain lagi yang mungkin timbul, yaitu munculnya pemikiran di benak si anak bahwa teori tidak harus sama dengan prakteknya, alias .. munafik.
Apakah hal-hal ini yang menyebabkan pelajaran moral tidak banyak berguna untuk membangun moral generasi muda sekarang? Sebab isinya hal-hal yang tidak terjangkau oleh anak, sulit dilakukan dan hanya teori. Sehingga sedari kecil anak sudah terbiasa dengan kegiatan menjawab sesuai yang diinginkan oleh gurunya, bukan apa yang menjadi kenyataan hidupnya supaya terukur pemahamannya akan moral.
Ini adalah salah satu resiko bersekolah formal hehehe .. Maka saya akan menanggung resiko ini dengan mengerahkan segala kreatifitas saya untuk meminimalkan akibatnya. Semoga tidak sering-sering berhadapan dengan yang seperti ini :D
Label:
belajar jadi ortu
Monday, October 3, 2011
Tuhan Memang Ada dan Menyertai Saya :)
Beberapa bulan yang lalu suami saya mengikuti camp Pria Sejati.
Sebenarnya bukan baru-baru ini saja kami mendengar tentang camp tersebut, tapi karena cara penyampaian di gereja terkesan lebay menurut kami, dan suami saya tergolong orang yang malas meluangkan waktu untuk acara-acara yang harus dijalani sendiri apalagi sampai nginep (kecuali acara meeting yang menghasilkan duit :D), maka dia tidak pernah mengikutinya .. sampai suatu saat .. rekan bisnisnya mendaftarkan dia untuk ikut camp bersama.
Suami saya tidak ada masalah dengan saya, sayalah yang rasanya ada masalah dengan dia karena kesalahannya yang menyebabkan saya terluka dan ketika saya berharap dia mengobati luka itu, dia malah membuat luka itu semakin parah :)
Kembali dari acara camp itu, dia share beberapa hal pada saya, antara lain :
1. bahwa ada beberapa pria non kristen yang juga ikut serta dalam camp tersebut
2. banyak mantan-mantan banci yang sudah dipulihkan kepriaannya dan ikut melayani dalam camp tersebut
3. beberapa kesaksian pria-pria yang dipulihkan dalam camp tersebut
Pulang dari situ pun, suami saya kelihatannya lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga daripada sebelumnya. Sehingga beberapa hari kemudian, saya memberanikan diri untuk membahas masalah luka hati saya dan lagi-lagi berharap dia akan melakukan sesuatu untuk mengobati luka hati itu.
Ternyata saya mengharapkan terlalu banyak, suami saya tetap tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika melukai hati istrinya. Dia benar-benar tidak tahu karena dia sendiri juga merasa bersalah sekali dengan kesalahannya itu sampai-sampai jika saya mengungkit kembali kejadian itu, dia merasa tidak nyaman dengan hatinya sendiri, sehingga kata-kata terakhir yang saya dengar dari mulutnya tentang masalah ini adalah, "Kalau kamu merasa takut dengan hal itu hadapilah sendiri ketakutanmu!"
Setelah itu, apapun yang dia ucapkan, secara psikologis saya "menutup telinga".
Karena saya harus menghadapi ketakutan saya sendirian, maka saya harus tegar. Berada dalam perlindungan dan kasih sayang seorang pria, hanya membuat saya menjadi lemah karena "kecanduan". Jadi cara yang saya pikir paling bisa saya lakukan untuk menjadi tegar adalah dengan menganggap bahwa saya hanya punya diri saya sendiri (dan Tuhan) untuk diandalkan (sampai sini masih benar), dan harus menghilangkan rasa sayang saya kepada suami supaya saya bisa kuat berdiri, karena rasa sayang itu membuat saya lemah (nah, yang ini sudah keliru :D).
Suatu hari entah bagaimana dan mengapa, saya merasakan perubahan pada suami saya. Sepertinya dia sangat mengerti saya dan "memanjakan" perasaan saya. Sejak saat itu, tanpa diminta luka hati saya terhadapnya langsung sembuh. Dan saya tidak lagi ingin membahasnya sama sekali, karena sudah tidak perlu lagi.
Kemudian suami saya meminta saya untuk menghadiri acara pertemuan pria sejati di Mangga Dua, di situ saya baru tahu, diapain saja suami saya selama camp :))
Merasa terberkati dengan perubahan suami saya, saya jadi ingin memberkati wanita-wanita lain. Jadilah saya kemarin membawa 4 orang teman ikut camp Wanita Bijak di Serpong dan beberapa karyawan di kantor mengikut camp Pria Sejati di Puncak. Harapan saya, semakin banyak pria dan wanita yang menyadari hakekat jenis kelaminnya (apaan sih? hihihi..), mudah-mudahan semakin berkurang kasus-kasus kejahatan dan kekerasan yang berhubungan dengan kelamin ini. Jauh sekali dari pemikiran untuk membuat orang menjadi Kristen.
Beberapa karyawan saya yang non kristen menolak tawaran untuk mengikuti camp pria sejati ini karena kuatir mereka akan "dikristenkan". Semudah itukah menjadi Kristen di pemandangan mereka? Suami saya sudah mengatakan pada mereka, "seperti makan buah, ambil buahnya, buang kulitnya". Tapi mereka tetap takut. Saya sungguh takjub, tidak menyangka kekristenan begitu hebatnya di mata orang-orang non kristen, sehingga mereka berpikir bahwa jika seorang yang non kristen hadir saja dalam sebuah camp, maka orang itu bisa jadi kristen wkwkw .. Sebenarnya mereka lebih beriman daripada orang kristennya sendiri, karena sadar atau tidak sadar mereka mengakui kehebatan Tuhannya orang kristen yang kalau mereka berani dekat-dekat saja, maka bisa jadi kristen :D.
Beberapa tahun yang lalu, saya sering sekali mendengar kotbah-kotbah Zainuddin MZ dan A'a Gym. Sampai-sampai saya dan suami pernah melalui beberapa minggu tanpa ke gereja karena memang belum bergereja di mana-mana, tapi sorenya malah menunggu A'a Gym tampil di TV untuk mendengarkan kotbahnya, karena menurut kami kotbah mereka lebih membumi daripada kotbah pendeta-pendeta di gereja (sampai akhirnya A'a Gym berpoligami dan tidak lagi ditampilkan di tipi, dan kami akhirnya menemukan sebuah gereja yang cukup "membumi"). Sehingga kalau orang tua kami bertanya, "kamu ke gereja mana hari ini?" maka mereka akan mendapat jawaban, "ke gereja A'a Gym" :D Tapi tetap sampai hari ini saya dan suami tidak juga memeluk agama yang sama dengan mereka.
Kembali ke WB ..
Sebenarnya, teori-teori yang saya dapatkan di Wanita Bijak, adalah rangkuman dari apa yang saya pelajari dari buku-bukunya Benny Hinn, T.D. Jakes, Gary Smalley, John M. Gottman, Joyce Meyer, dan penulis-penulis lain yang menuliskan baik tentang membangun roh kita maupun tentang pernikahan dan hubungan pria wanita.
Dimulai dengan pemulihan gambar diri wanita dan keberhargaannya, lalu kami belajar tentang pemulihan fungsi, dan akhirnya bagaimana menjadi teladan bagi generasi berikutnya maupun wanita lain. Sebenarnya semua itu secara umum ada dalam pelajaran di pemuridan, dan saya sudah belajar itu dari Tuhan, dari penulis-penulis buku rohani, dari bapak rohani saya, dan belajar praktek dengan suami dan anak-anak saya :D.
Hebatnya, Tuhan tidak pernah memberikan "makanan" yang basi untuk kita.
Ketika semua pelajaran itu diberikan dalam kemasan baru dan disajikan dalam kehidupan pernikahan, Tuhan menunjukkan pada saya yang selama ini suka ragu-ragu akan kehadiran Tuhan dan seringkali bertanya-tanya apakah Tuhan memang ada atau hanya sugesti psikologis para pendeta dan kaum agamawi belaka. Kali ini Tuhan membuat mata hati saya melihat dan hati saya menjadi hangat karena mengetahui bahwa Tuhan memang ada di sana ketika semua masalah terjadi dalam hidup saya dan semua itu memang latihan-latihan untuk roh dan jiwa saya supaya menjadi semakin dewasa dan kuat di dalamNya.
Melihat kejadian-kejadian dalam hidup saya diputar ulang seperti sebuah film, saya merasa, jika saya hanya sendiri, tanpa Tuhan, saya tidak mungkin mengambil keputusan atau tindakan-tindakan seperti itu. Saya ini impulsif, meledak-ledak, bodoh dan tidak bisa apa-apa, jika semua masalah itu terlewati dan saya masih selamat dan pernikahan saya masih utuh, maka pasti ada pribadi yang lain yang menggerakkan saya untuk berpikir dan bertindak dengan bijaksana dan menyelamatkan saya dari masalah-masalah yang terjadi.
Maka itu pastilah Tuhan yang sedang dan telah melatih saya selama ini, dan akan terus melatih saya sampai saya menjadi sempurna seperti Dia.
Berkat yang nyeleneh untuk ukuran "pulang dari camp wanita bijak". Ketika sesi demi sesi saya lalui, saya berkali-kali bicara pada Tuhan, "Ya, itu koq seperti saya ya, penyelesaiannya juga seperti itu, jadi selama ini Engkau memang mengajari saya dan tidak meninggalkan saya ya?"
"Dudul! Emangnya siapa lagi?" mungkin seperti itu Tuhan memaki saya, tapi tidak kedengaran oleh telinga jasmani saya :))
Label:
christian,
pernikahan
Subscribe to:
Posts (Atom)