Thursday, April 2, 2015

Air Kehidupan

Kotbah Minggu itu diakhiri dengan sharing dari beberapa orang yang telah berhasil melewati pergumulan dengan emosi-emosi negatifnya.
Salah satu di antaranya adalah istri dari Pak Pembicara. 
Tidak lagi memusingkan "apa kata orang nanti kalau tahu ternyata di dalam rumah tangga saya (pernah) ada masalah?", dia menceritakan bagaimana pergumulan yang dia alami karena (sadar atau tidak) merasa kurang dikasihi oleh suaminya.

Rupanya kesaksian Ibu Pembicara itu mengena di hati suami saya. Sore itu dia menanyai saya.
Suami : kamu pernah merasa tidak dikasihi suami ga?
Saya : (kenapa baru tanya sekarang?) Ya iya lah, kayaknya sih semua perempuan pernah merasa begitu.
Suami : padahal gampang ya, tinggal positive thinking saja, turunkan standard. Kalau turun segini masih bete, ya turunkan lagi, terus sampai mentok aja.
Saya : positive thinking dan turunkan standar itu ga semudah ngomong lah. Kalo ga benar-benar muncul kesadaran dari hati dan pikirannya sendiri, bisa-bisa meledak kalau suaminya ga sadar-sadar.
Tapi buat aku sudah lewat lah masa-masa itu. Dan kamu juga untungnya orangnya ga keras kayak Pak Pembicara itu. (kalau saya ngaca, saya juga banyak kekurangan dalam mengasihi suami, jadi impas sajalah daripada kalau saya diungkit-ungkit juga tidak menang hahaha)
Suami : hahaha... Pak Pembicara itu kalau ada masalah sama istrinya pinginnya langsung cepat beres, ga ada masalah lagi.
Saya : iya, tapi beresnya versi dia, versi istrinya lebih baik nurut aja, melipir wae (menghindar aja).
Suami : Pak Pembicara maunya istrinya setuju, tapi maksa. Aku bayangin istrinya lagi berusaha kabur dipegang lagi dihajar terus dengan ide-idenya hahaha...
Saya : wkwkwk... Kalo di kita, kamu yang berusaha menghindar dari keributan. Hahaha... Tapi aku sekarang sudah lewat lah masa-masa (merasa tidak dikasihi suami) itu. Ga tau ya kalau lagi kumat (bete akibat hormon atau menstruasi). Tapi sekarang aku udah jauh lumayan lho, antara kumat sama ga kumat bedanya udah ga terlalu jauh.
Suami : mungkin karena sekarang sering kumat terus.
Saya : hahaha...asem!
Suami : kalo sekarang kamu sudah ga peduli ya, mau disayang atau ga disayang?
Saya : ya sudah turun banget lah standarnya.
Suami : lha kalo kamu dulu ngapain (untuk lepas dari masalah merasa kurang dikasihi suami itu)?
Saya : aku dulu udah sampai merasa mentok sih ya, jadi ya ...
Suami : akhirnya kamu berpikir lebih baik mengubah diri sendiri daripada mengubah orang lain?
Saya : hahaha.. Ya begitulah
Suami : huak diesk *dengan gerakan meninju ke pipi saya, tapi tinjuan sayang 😛*
Saya : ya Tuhan lah itu. Ditolong Tuhan. Susah juga bilang turunin standar, positive thinking, aku dulu ya sempat berontak karena merasa ga tahan, tapi mungkin ya intinya serahkan sama Tuhan aja.

Dikasihi sebenarnya adalah kebutuhan semua manusia. Seorang pria butuh dikasihi dengan cara dihormati, dihargai. Seorang wanita butuh dikasihi dengan cara dilindungi, didengarkan dan diperhatikan. Yeah..mungkin tidak semua, tapi rata-rata begitulah 😄.

Banyak masalah yang susah diselesaikan ketika kita merasa tidak dikasihi. Sebenarnya bukan hanya oleh pasangan saja, orang-orang yang melajang pun punya kebutuhan yang sama untuk dikasihi. Jadi sebetulnya, bukan kesalahan pasangan kita ketika kita merasa kurang dikasihi. Dan bukan pasangan lah sumber kasih yang kita butuhkan itu.

Iblis sering menyamarkan kebutuhan untuk dikasihi itu dengan kebutuhan seks, kebutuhan untuk merasa spesial dengan orang lain, dan kebutuhan akan sensasi-sensasi lainnya, sehingga banyak pasangan selingkuh, mabuk-mabukan, mengonsumsi narkoba, atas nama kebutuhan-kebutuhan yang (menurut mereka) tidak dapat dipenuhi oleh pasangannya itu, padahal setelah selingkuh atau melakukan semua yang dia kira menyelesaikan masalah, bukan kedamaian yang didapat karena kebutuhan sudah terpenuhi, tapi masalah yang sama akan berulang lagi dengan orang yang berbeda. Bukan itu yang kita butuhkan. Kita hanya butuh diterima dan dikasihi.

Banyak orang memasuki pernikahan dengan membawa "gelas kosong" (hati yang kekurangan kasih), dengan harapan, nanti saya bisa minta pada pasangan saya untuk mengisinya.
Tapi bagaimana pasangan kita akan mengisinya kalau gelasnya juga kosong? Bisa-bisa yang terjadi pasutri ini akan berebut air karena sama-sama haus.

Idealnya yang terjadi adalah : masukilah pernikahan dengan gelas yang penuh dan isinya tidak pernah habis. Sehingga pernikahan kita tidak akan kekurangan air.

Dari manakah air itu?
Air itu ada di buku kuno bernama Alkitab. Jika kita membukanya di Yohanes 4:14, kita akan menemukan air itu : "tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

Saya tidak tahu bagaimana cara mendapatkan air itu, tapi saya tahu siapa pemiliknya, jadi saya hanya bisa meminta kepada pemiliknya. Ternyata pemilik air itu murah hati. Dia tidak menjual airnya dalam kemasan botol dan membandrolnya dengan harga mahal, supaya kita bekerja keras untuk membelinya setiap hari. Dia memberikannya gratis, bahkan Dia ingin memberikan sumber air itu supaya gelas kita tidak kosong lagi.

Ketika saya menyerahkan kebutuhan untuk dikasihi itu pada Tuhan (mengakui kebutuhan itu dan mengharapkan pemenuhannya dari Tuhan), Dia memuaskan saya tanpa syarat.

Jadi ketika kita merasa kurang dikasihi oleh pasangan, bukan pasangan kita lah yang harus kita salahkan (meskipun mungkin memang dia ada salahnya, kesalahan manusia itu urusan Tuhan, bukan urusan kita), bukan mereka lah yang sebenarnya kita butuhkan. Kita perlu sumber air kehidupan (kasih) yaitu Tuhan Yesus.

Mungkin pasangan kita memang tidak tahu cara mengasihi, mungkin mereka tidak dibesarkan dalam kehangatan sehingga tidak tahu bagaimana cara menghangatkan hati pasangannya. Apakah kita akan ngotot menuntut pasangan yang tidak tahu itu untuk jadi tahu? Yang saya alami, semakin saya ngotot dengan apa yang saya mau, keadaan bukan semakin baik, malah menjadi semakin runyam. Masalah kecil jadi besar.

Ketika kita mendapatkan air hidup itu dari Tuhan yang murah hati, kita malah akan bisa mengasihi pasangan dan otomatis itu akan mengisi gelas pasangan kita.

Sumber air itu tidak jauh. Dia bahkan selalu menunggu kita untuk disapa, Dia pun menunggu kita datang untuk meminta airNya, karena dia begitu lemah lembut dan tidak akan memaksa ketika kita merasa tidak membutuhkanNya.
Kita hanya perlu mencari tempat yang tersembunyi dan memanggil namaNya, Dia pasti datang. 😊

Sunday, August 4, 2013

Tour d Java 2013

RancanganKu bukanlah rancanganmu

Saya dan suami sepertinya memang tidak bisa berjalan dengan rencana jangka panjang. Kalau sesuai rencana, seharusnya sekarang kami sedang berada di London, UK atau Aachen, Jerman. Tapi sekarang kami sedang berada di Jawa Tengah, di kota Jepara, dan bersiap untuk pergi ke Karimun Jawa :D

Rencana yang dapat kami buat hanyalah rencana untuk "besok". Itu pun, karena kondisinya sudah terdesak : berangkat ke Jepara, tapi sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kondisi dan apa yang harus dilakukan di sana. Saya baru kemarin pagi mencari agen tour ke Karimun, suami saya menghubunginya, dan untungnya mereka bisa melayani turis model kami yang pesannya serba dadakan dan mintanya "hari itu juga".

Ketika tiba di Pekalongan, kami bahkan masih belum tahu, setelah dari Pekalongan mau ke mana dulu, karena ada beberapa tempat di Jawa Tengah yang ingin kami kunjungi, baik untuk sekedar liburan atau sudah ditumpangi urusan bisnis. Berangkat pun, saya tidak bersemangat yang menggebu-gebu seperti ketika akan ke Eropa 2 tahun yang lalu. Malah sempat-sempatnya berpikir, "apa lebih baik tidak usah pergi ya?" karena saya ingin leyeh-leyeh di rumah, belajar merajut dan mengurus kandang sapi.
Tapi kalau tidak pergi, kasihan juga anak-anak hanya bertemu dengan komputer dan kolam renang selama 10 hari. Mereka tidak keberatan sih, malah Isaac sebetulnya protes dengan acara pergi-pergi ini, karena dia ingin main komputer. Tapi saya merasa, adalah kewajiban saya untuk menyeret mereka dari zona nyaman di rumah dan memberikan pengalaman-pengalaman yang baru di luar rumah.

Setelah melewati 2 hari kemarin dan hari ini saya melihat ke belakang, ternyata semua yang saya alami ini sudah diatur oleh Tuhan.
Saya melewati jalur pantura tepat 1 hari sebelum puncak mudik, sehingga tidak mengalami macet berkepanjangan dan berlama-lama di jalan. Yang membuat kami akhirnya menghabiskan 12 jam perjalanan adalah karena kami berhenti untuk tidur dan makan.
Saya tiba di Jepara tepat 1 hari sebelum jadwal keberangkatan kapal yang tidak akan bisa kami beli lagi tiketnya. Hari ini masih ada kursi kosong, tapi besok (Senin) kapal sudah penuh, tiket sudah habis terbooking.
Semalam saya juga mendapat hotel yang cukup murah, Rp 360.000 untuk family room, di mana kamar ini besoknya (hari ini) sudah dibooking orang. Maka, kalau saya tiba di Jepara terlambat 1 hari saja, saya tidak akan dapat apa-apa, hanya bisa nyengir :D Kamar pun sudah lebih mahal lagi karena besok sudah termasuk high season di sini.
Sebenarnya kami sudah merencanakan tidur di mobil, karena kurang suka dengan penginapan di pelabuhan yang pengap dan jadi cukup mahal kalau dibandingkan dengan hotel yang ini karena minimnya fasilitas. Entah mengapa, ketika melewati hotel ini rasanya sreg untuk bermalam di situ meskipun belum melihat kamarnya, ketika kami melihat kamarnya, lebih sreg lagi :)
Ternyata, betapa mepetnya kedatangan kami, tapi toh masih dapat tempat juga.

Perlu melenturkan hati untuk mengikuti rancanganNya

Satu hal yang benar-benar di luar perkiraan saya, bahwa sekali saya melangkahkan kaki naik kapal ke Karimun Jawa, saya akan "terkunci" di sana selama 4 hari 3 malam, karena jadwal kapal tidak setiap hari ada. Padahal saya tidak berencana selama itu di sana, saya inginnya keliling Jawa Tengah dan berlebaran di Pekalongan, bukan berhari-hari di Karimun Jawa. Ketika flashback ini, saya baru menyadari, saya ini ternyata orangnya tidak bisa santai, sukanya buru-buru, cepat-cepat, bahkan dalam liburan sekalipun. Tuhan lebih tahu apa itu liburan hahahaha... Jadi baiklah, saya melenturkan hati dan berusaha melambatkan irama otak saya untuk menikmati liburan ini.

Saya berkata pada Tuhan, "terima kasih sudah merencanakan dan mengatur yang terbaik untuk kami tanpa menghilangkan unsur petualangannya."

Saya akhirnya menyadari, bahwa Tuhan serius memberikan liburan, karena saya stop berencana dan hanya bisa menikmati saja. Ketika Dia memberikan liburan, Dia bahkan menjadi tour guide untuk kami yang mengatur setiap perjalanan.

Tuesday, February 21, 2012

Akhirnya Kutemukan

Saya punya hobby baru, mendownload filem dan buku-buku digital.
Tentu saja tidak semua saya kerjakan. Untuk download filem dan musik, suami saya lebih jago, jadi saya biarkan dia yang melakukannya :D

Salah satu buku yang cukup berharga, karena menurut saya berisi "harta karun", adalah buku yang berjudul "Semakin Dibabat Semakin Merambat".
Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, ketika saya masih berpacaran dengan suami saya dan blio masih full time pelayanan di gereja, saya pernah membaca buku itu karena tergeletak di rumahnya. Waktu itu bukunya sudah cukup kumal, tapi bisa bikin orang tenggelam keasikan membacanya.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah googling mencari buku tersebut, tapi tidak banyak link yang menampilkannya. Penerbit BPK GM menjualnya secara online tapi stok kosong. Saya bilang, saya mau dikabari kalau buku tersebut dicetak lagi. Tapi tentu saja mereka lupa :D
Kemarin, saya iseng-iseng googling lagi. Kali ini saya menemukan e-book onlinenya di google books, dan ada toko buku online juga menjualnya.

Buku "Semakin Dibabat Semakin Merambat" ini menceritakan tentang penganiayaan yang dialami oleh pengikut-pengikut Yesus dari masa ke masa. Ketika membaca buku ini, saya menjadi sangat dikuatkan, bahwa penderitaan-penderitaan dan masalah yang kita hadapi di bumi sekarang ini, sebetulnya nyaris tidak ada artinya. Membaca tentang keberanian para martir yang dengan gagah berani menerima penganiayaan sampai hembusan napas terakhir karena iman mereka, membuat kita jadi lebih berani dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidup kita. Apalagi kalo masalahnya cuma diputus pacar hihihi .. (geli membayangkan ada orang yang lebay, sampai mau mati saja gara-gara diputus pacarnya).

Di Indonesia, baru gedung gerejanya aja yang dibakar, dianiaya, dihalang-halangi pembangunannya, belum sampai gereja yang sesungguhnya, yaitu orangnya. Sebetulnya penganiayaan atau masalah itu membuat iman kita semakin kuat kalau kita menghadapinya dengan berserah sama Tuhan. Banyak mukjizat justru terjadi di tengah penganiayaan, bukan di tengah kenyamanan.

Coba deh cicipin buku ini, terutama untuk kalian yang mengaku dirinya pengikut Kristus. Buku ini bagus banget!

Wednesday, February 1, 2012

Nobody is Perfect ...

Kita sering mendengar slogan "nobody is perfect". Bahkan ketika saya googling, saya baru ingat lagi kalau slogan itu sudah jadi judul lagu. Maafkan saya karna kurang ingat perkembangan dunia hiburan x_x.


Beberapa hari yang lalu, sahabat saya mengajak saya keluar malam, ke diskotik. Sahabat saya ini rupanya diajak oleh teman saya yang datang dari luar kota dan ingin bersenang-senang bersama suaminya. Awalnya saya ingin menolaknya, karena saya sudah mulai terbiasa bangun pukul 4 pagi dan kebiasaan baru ini membuat saya mengantuk sebelum larut malam tiba. Saya juga sudah membayangkan, karena suami saya kebetulan pulang cepat, kami akan tidur-tiduran dan menonton film-film yang telah didownload oleh suami saya.
Sungguh, ini bukan masalah dosa atau maksiat atau bukan, diskotik dan segala keriuhan yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang saya inginkan malam itu.


Ketika saya menceritakan hal ini ke suami saya, sambil makan malam di sebuah warung nasi, suami saya berkata, "Yah ga papa, kamu pergi aja, sapa tau kamu bisa observasi, kenapa orang-orang pada suka ke sana." Saya sudah pernah ke diskotik bersama suami saya, dan saya tidak tahan berada di dalamnya berlama-lama karena penuh dengan asap rokok. Tetapi jawaban suami saya membuat saya berpikir, "Mungkin saya tidak menginginkannya, tapi mungkin sahabat saya membutuhkan saya. Mana tahu dia mabok dan tidak bisa menyetir sendiri untuk pulang."
Selain itu, rupanya teman yang mengajak sahabat saya ini juga mengajak saya bertemu, meskipun tidak ke diskotik. Dia tidak pede untuk mengajak saya ke tempat-tempat yang punya image negatif karena dia pikir saya ini pendeta :)). Beda dengan sahabat saya, sahabat saya merasa nyaman membawa saya ke mana saja, karena dia tahu saya menerima dia apa adanya.


Akhirnya saya katakan pada sahabat saya, bahwa saya mau pergi bersamanya, saya akan menjemputnya dan malam itu saya yang jadi supirnya :D. Biasanya dia yang jadi supir saya. Rupanya sahabat saya juga sudah merencakan begitu hehehe ..


Ketika akhirnya kami bertemu bertiga di depan sebuah cafe tempat teman saya itu mengajak bertemu, kami akhirnya ngobrol-ngobrol di mobil, menunggu teman suami saya. Teman saya sepertinya heran kenapa saya mau diajak ke diskotik dan lebih heran lagi kenapa sahabat saya mengajak saya ke diskotik. Bertambah lagi keheranannya ketika dia bertanya bagaimana saya ijin dengan suami saya, dan saya jawab bahwa saya ijin apa adanya, malah suami saya yang memanaskan mobil yang akan saya pakai untuk pergi.


Saya bilang, "Saya pergi demi menemani sahabat saya." Sahabat saya bilang, "Nobody is perfect lah, saya sih apa adanya aja sama Lea."
Saya mengamini kata-katanya, tapi hati saya menjadi tidak sejahtera.
Nobody is perfect ..
Trus kenapa?
Apakah karena manusia tidak sempurna lalu silahkan nyemplung ke jurang maut dan berbuat seenaknya selama hidupnya?


Lalu saya jadi teringat dengan kata-kata Paulus, "Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?" (Rm 6:1)


Begini maksud saya, kita sering menggunakan alasan "tidak ada manusia yang sempurna", lalu kita memaklumi perbuatan atau pemikiran yang kita tahu bahwa itu salah atau tidak benar atau merugikan kita.
Kita lupa bahwa Tuhan menciptakan kita sempurna. Bahkan kita ini dilahirkan dari benih pemenang. Dalam proses penciptaan kita, hanya sperma yang berhasil menembus sel telur saja lah yang bisa membuahinya dan menghasilkan janin. Ketika ada sel sperma yang berhasil menembus sel telur, maka dialah pemenangnya, karena yang lain tidak akan mendapat kesempatan lagi sesudahnya. 


Bukankah itu menunjukkan Tuhan tidak main-main dengan penciptaan kita? Bahkan dosa yang diwariskan oleh Adam pun tidak membuat SOP (standard operating procedure) penciptaan kita berubah menjadi terlahir dari benih yang tidak sempurna.
Dia juga sudah menyiapkan tujuan yang mulia untuk hidup kita, yaitu menjadi "mempelaiNya", menikmati kemuliaan bersamaNya. Apakah tujuan semulia itu bisa dicapai jika kita tidak sempurna? Apa ada mempelai pria yang mau menikah dengan gembel?


Saya terus merenungkan hal itu, dan menemukan ternyata Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48)
Apakah mungkin, kita diberi perintah untuk menjadi sempurna jika kita memang tidak bisa sempurna? Apakah Tuhan asal saja memerintahkan sesuatu yang tidak bisa kita kerjakan?


Perintah yang kedengaran sangat berat itu ternyata ada kuncinya, dalam kalimat Paulus di atas dia memberikan kuncinya, "Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya" (Rm 6:2)


Manusia memang tidak sempurna, Adam telah mewariskan dosa untuk kita dan kita akhirnya berkubang dalam ketidaksempurnaan itu. Tetapi kasih Allah yang begitu besar, telah mengambil kita yang awalnya adalah gembel ini, dari kubangan dosa dan membersihkan kita dengan darahNya ketika Yesus mati di kayu salib. Kematian Yesus adalah kematian yang harus kita alami, yaitu kematian kehidupan lama kita, maka kita memasuki kehidupan yang baru, yang sudah Allah sediakan untuk kita. 
Jadi ... (saya suka ketika seorang pendeta menggambarkan ini begitu mudah bagi saya), kita sudah mati bagi dosa, dan sekarang hidup bagi Kristus. Kita ini seperti mayat bagi dosa. Mungkinkah mayat melakukan sesuatu? Tetapi kita dibangkitkan bagi Kristus, sehingga kita bisa melakukan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan.


Jadi, kesempurnaan memang tidak mungkin kecuali kita mengalami "kematian Kristus" (kematian kehidupan lama) dalam hidup kita. Karena itu, hanya Yesus yang berani memerintahkan kita untuk menjadi sempurna, karena Dia saja yang bisa menyempurnakan hidup kita. Hanya dengan melekat kepadaNya dan hidup di dalam kasihNya kita bisa menjadi sempurna seperti yang diinginkanNya. 


Seringkali slogan "nobody is perfect" berakhir dengan "jadi ya sudah, begini-begini saja, tidak usah jadi lebih baik lagi". Slogan ini akhirnya menutupi mata kita dari melihat tujuan mulia penciptaan kita. 


Apakah ini hanya monopoli untuk umat Kristiani saja? Tidak! Yesus mati untuk semua manusia di bumi tanpa kecuali. Pasti Dia ingin semua manusia mati terhadap dosa dan dibangkitkan dalam Dia.


Cerita yang LainMenyimpang dari judul kali ini, saya cukup terkejut ketika saya menemukan dalam kitab suci agama lain yang sebetulnya mengakui tentang Yesus, mereka menyebutnya dengan nama yang lain. Yang membuat saya terkejut adalah bahwa selama ini saya menganggap agama-agama yang lain itu tidak benar, tapi sebetulnya ada beberapa agama yang Tuhan ijinkan untuk muncul yang ujung-ujungnya sebenarnya adalah Tuhan yang sama dengan yang saya sembah. Saya merasa bahwa agama sebenarnya tidak penting diperdebatkan, agama adalah usaha manusia untuk mencari Allahnya, agama seperti budaya, semua berisi usaha manusia untuk hidup yang lebih baik.Tetapi apapun namanya, Tuhan sebenarnya sudah menyatakan diriNya, dan Ia ingin kita menerima dan hidup dalam kasihNya.
Awalnya saya iseng-iseng googling tentang salah satu aliran agama yang dianggap sesat, ketika saya membaca beberapa postingan pengikutnya, saya terkejut karena mereka ternyata menyembah Tuhan yang sama dengan saya meskipun dengan cara yang berbeda. 
Namun dalam perkembangannya, agama itu disebarkan atas dasar pemikiran pribadi orang-orang yang menyebarkannya, ayat-ayat dalam kitab suci itu dicomot sebagian-sebagian sesuai kebutuhan pribadi, sambil ditunggangi kepentingan politik dan sebagainya, sehingga yang terjadi, umatnya tidak diberitahukan jalan keselamatan yang sebenarnya, malah ujung-ujungnya menimbulkan keributan yang sebetulnya tidak ada artinya. Penyimpangan terjadi ketika ada pengkultusan individu, sehingga pokoknya orang ini yang paling benar, yang lain salah.
Beberapa hari yang lalu saya sempat menghabiskan waktu saya untuk membaca kitab suci tersebut, meskipun tidak bisa semuanya karena keterbatasan waktu saya.


Nobody is Perfect .. slogan itu tidak boleh diakhiri dengan titik, karena kasih Allah telah dikaruniakan kepada sehingga kita adalah ciptaan yang sempurna. Maukah kita mati dalam kebodohan jika pada awalnya kita diciptakan dengan sempurna dan diberi tujuan yang mulia?


Slogan di atas sebetulnya menempatkan kita dalam persimpangan, dalam ketidaksempurnaan kita, apakah kita akan berkubang dalam kegelapan atau mensyukuri bahwa pribadi yang tidak sempurna ini dikasihi oleh Allah yang sempurna sehingga menjadi sempurna.


Kita pasti punya kelemahan, tetapi itu untuk mengingatkan kita supaya tidak menghakimi orang lain, supaya kita tidak bisa lepas dari kasih Allah dalam hidup kita, bukan untuk membuat kita putus asa dan menyerah.

Tuesday, January 31, 2012

Beli Piala

Kejadian ini hampir 2 minggu yang lalu. Sore-sore ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah, Isaac bilang pada saya, "Mami, aku mau beli piala di sekolah, harganya Rp 45.000".
"Ha? Apa Saac? Beli piala? Emang ada apa sekolahnya jualan piala?" tanya saya.
"Iya, pialanya dijual di sekolah harganya Rp 45.000," kata Isaac.

Secara refleks, sebagai orang tua yang saat itu memang tidak merasa kekurangan uang dan ingin membiarkan anaknya memegang-megang piala, saya tidak keberatan mengeluarkan uang segitu untuk memenuhi keinginan anak saya. Tapi saya berpikir lagi, "Apakah bijak saya membiarkan anak saya membeli piala yang notabene sebenarnya tidak diperlukan?"
"Ga papa kan anggap saja seperti beli mainan lainnya."
"Tapi anak saya ini bosenan, buat orang bosenan seperti dia, mainan seharga Rp 45.000 seharusnya masuk kategori mahal, dan piala itu .. apa yang bisa diperbuat dengan piala itu selain untuk dipegang-pegang, dibuat mainan yang gak karuan?"
"Biarin lah, wong namanya juga pingin megang, pingin nyoba."
"Tetap rasanya aneh membeli piala."

"Bukannya piala itu seharusnya dilombain ya, Saac? Di sekolahnya kamu ada perlombaan apa?" tanya saya lagi.
"Iya, ada lomba, ada yang menang, tapi bukan aku. Yang menang itu dapet piala. Aku engga. Tapi aku pingin piala itu Mami," jawab Isaac.
"Kalau kamu pingin piala kamu harusnya ikut lomba dong, trus berusaha biar menang, atau kamu deketi aja temen kamu yang menang itu, pinjem pegang pialanya sebentar," kata saya.
"Tapi aku gak suka ikut lombanya,"
"Ya kalo gitu kamu gak perlu punya piala."
"Tapi aku pingin pialanya."
"Kalau gitu kamu harus ikut lomba."
"Yaaa Mami .. boleh ya... kan aku pingin."
"Ya kalau pingin kamu harus ikut lomba dan menangin lombanya. Begitu caranya dapat piala, bukan dengan membeli."
Isaac diem ...

"Gini ya, Saac, yang namanya piala itu kan lambang kemenangan. Kalau orang ikut lomba, trus menang, dia dapat piala, supaya bisa dipajang di rumahnya, trus kalau ada orang lihat, nanti tanya, "Wah kamu ikut lomba apa? Juara berapa?" Kalau kamu gak ikut lomba tapi kamu punya piala, nanti orang tanya, kamu jawab apa?"
"Tapi aku gak suka ikut lombanya."
"Ya ga papa, tapi kamu ga bisa punya piala kalau gak pernah menangin lomba. Itu juga ga papa. Kalau kamu pingin pegang pialanya, kamu pinjem aja pialanya temen kamu yang menang itu. Dulu Papi sering dapat piala juga karena juara, ga pernah beli. Kalau kamu cuma pingin mainan piala, nanti kita ambil aja pialanya Papi yang di Pekalongan."

Di rumah, Isaac masih berusaha minta uang, bahkan dia mengambil uang saya yang tergeletak di meja, dan bilang pada saya, "Ini ya Mami, buat beli piala ya."
Tetap saya jawab, "Engga Isaac."
Walaupun kecewa dia tetap mengembalikan uang tersebut di meja.

Keesokan harinya saya mengirim message di fesbuk gurunya dan menanyakan perihal jual beli piala di sekolahnya Isaac. Ternyata memang ada di sekolah. Jadi sekolah mengadakan lomba apaaa gitu, lalu ada juara satu, dua, dan tiga. Sementara anak-anak yang tidak menang, kalau ingin memiliki pialanya, bisa membelinya dengan harga Rp 45.000.

Saya akhirnya menyampaikan kepada bu guru, bahwa saya tidak mengijinkan Isaac untuk membeli piala, mohon koordinasinya kalau nanti ternyata Isaac mendapat bantuan dana dari pihak-pihak lain, misalnya neneknya atau siapapun juga, atau menggunakan uang yang ada di mobil, supaya ditolak.
Saya juga menyampaikan kepada bu guru, mengenai keberatan saya dengan penjualan piala tersebut. Apakah sekolah tidak sedang menanamkan benih-benih korupsi dengan menjual benda yang oleh anak lain diperoleh dengan susah payah dan seharusnya menimbulkan kebanggaan karena memperolehnya, sementara anak lain bisa mendapatkannya dengan mudah hanya dengan minta uang kepada orang tuanya?

Seharusnya anak belajar, walaupun yang menang itu bukan dirinya, dia juga ikut senang dengan keberhasilan orang lain, karena perlombaan itu kan untuk kesenangan bersama, dan yang menang tidak boleh sombong tapi membagi kebahagiaannya dengan orang lain.

Saya tidak protes ketika bu guru memberi nilai 58 di raport untuk nilai pelajaran moral anak saya, karena saya tahu bagaimana cara penilaian di sekolah formal yang serba terbatas, dan saya tahu bagaimana sebenarnya anak saya, jadi saya tidak menjadikan nilai dari sekolah sebagai acuan untuk anak saya. Bahkan saya katakan padanya, nilai tidak penting, yang penting, kamu ke sekolah untuk belajar supaya menambah pengetahuan kamu. Saya bahkan tidak membawa pulang raportnya Isaac karena nantinya juga harus dikembalikan lagi, dan tidak sedikitpun membahasnya dengan Isaac karena saya pikir, yang penting anak saya mendapat ilmu yang berguna untuk hidupnya. Untuk apa saya bahas nilai-nilai, nanti anaknya malah berfokus ke situ daripada ke ilmu yang seharusnya dia serap. Biar saja anak-anak belajar dengan senang hati, tanpa harus ada tuntutan harus dapat nilai sekian. Tapi jika ada praktek-praktek yang menurut saya menyimpang dari pelajaran moral, itulah yang saya anggap ancaman untuk anak saya.

Saya mungkin memang tidak bisa melindungi anak-anak dari menemukan fakta-fakta yang aneh-aneh di lapangan, tapi saya tetap harus melakukan semaksimal mungkin untuk menjaga hati anak-anak saya dari pengaruh-pengaruh asing yang buruk di luar rumahnya.

Monday, November 21, 2011

Tidak Jadi Dongkol

Sepulang dari kantor tadi, tiba di rumah, saya merasa dongkol karena supir saya tidak mengerjakan tugasnya seperti yang saya katakan padanya.

Rasa dongkol ini mungkin juga dipicu karena saya sudah lelah secara fisik, kedua anak saya ketiduran sejak dari kantor, sehingga saya harus menggendong mereka, ditambah lagi, suami saya yang walaupun pulang bersama saya saat itu, tapi sudah bilang kalau kondisi badannya kurang fit, sehingga saya rasa tidak mungkin meminta bantuan kepadanya. Meskipun pada akhirnya suami saya membantu saya menggendong anak kedua saya dan membawa tasnya sendiri, saya tetap dongkol.

Saya ingin ngomel ke supir saya itu, atau ke OB saya yang menurut dugaan saya buru-buru pergi dari rumah saya sehingga supir saya tidak mengerjakan perintah saya dengan baik. Tapi ketika saya menghubungi hp-nya berkali-kali tetap tidak bisa nyambung juga, akhirnya saya putuskan untuk memandikan anak bungsu saya dulu dan mandi. Saya pikir, lebih baik saya segar dulu, supaya ngomel pun lebih enak :D

Setelah saya memandikan anak saya, iseng-iseng saya membuka laptop dan melihat fesbuk saya. Ternyata teman saya mentag saya di fotonya dia tentang pendidikan. Entah mengapa, ketika melihat gambar itu, saya langsung terhanyut dengan tema gambar itu, bahkan sempat ngobrol dengan Milen, anak bungsu saya, karena dia menanyai saya tentang gambar itu.

Setelah beberapa saat terhanyut dengan gambar tersebut dan comment-comment di bawahnya, saya mengingat kembali tentang supir saya. Sebenarnya saya ingin posting status, untuk menumpahkan kedongkolan saya, tapi semangat saya untuk dongkol tiba-tiba redup bahkan setelah saya obok-obok hati saya, saya pastikan lagi, saya benar-benar tidak bersemangat lagi untuk tetap tinggal dalam kedongkolan itu. Saya bahkan sudah tidak ambil pusing lagi. Memang, saya tetap akan menanyai supir saya, karena saya perlu dia membantu meringankan beban kerja saya, dan kalau saya biarkan kejadian sekali ini dengan diam saja, jangan-jangan nantinya dia beranggapan saya tidak keberatan dengan kelalaiannya. Tapi saya sudah tidak emosi lagi.

Aneh ..

Apakah karena matahari sudah terbenam?
Apa hubungannya?
Karena kitab suci saya berkata, "janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu" (Ef 4:26) :))

Entahlah. Akhirnya, tidak jadi posting status dongkol, malah saya mengirim message kepada teman saya itu karena telah mengirim gambar yang bermanfaat sehingga pikiran dan hati saya yang sedang dongkol ini bisa terbelokkan fokusnya ke tema gambar dia.

Jadi, jika sedang marah, mungkin lebih baik kita berdiam diri saja, mengumpat dalam hati, namun berusaha mencari pengalih perhatian supaya fokus kita tidak melulu ke pemicu rasa marah itu.
Dan sekali lagi Tuhan membuktikan, Dia menghibur saya, menjadi penolong dan sahabat saya. Ketika seseorang sedang marah, karena keinginannya tidak terpenuhi, dan tidak mungkin terpenuhi lagi, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk membuatnya senang adalah dengan mengalihkan pikiran dan hatinya ke hal-hal yang lain. Itulah yang selama ini saya lakukan untuk orang-orang yang saya kenal, dan ternyata sekarang Tuhan melakukannya untuk saya :D

Friday, November 11, 2011

Sia-sia?

Ketika akan membacakan Alkitab untuk anak saya di malam hari, saya melihat Kitab Pengkotbah secara sekilas. Meskipun malam itu saya tidak membacakan Kitab Pengkotbah untuk anak saya, namun penglihatan yang sekilas terhadap Kitab Pengkotbah itu terngiang-ngiang di hati saya. Saya ingat, kitab itu sangat berkesan untuk saya (semua kitab di dalam Alkitab berkesan untuk saya dengan cara yang berbeda-beda) karena Pengkotbah menunjukkan banyak kesia-siaan dalam hidup ini.
Kekayaan sia-sia, kecantikan sia-sia, bahkan hikmatnya pun dianggap sia-sia karena baik orang bodoh maupun orang berhikmat sama-sama akan mati.

Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, sambil memasak saya merenungkan Kitab Pengkotbah yang kemarin saya lihat sekilas itu, dan merasa heran. Salomo dalam karunia hikmatnya yang sangat terkenal juga kekayaan yang melimpah dan kesenangan-kesenangan yang mengelilinginya, mengatakan bahwa segala segala sesuatu di bawah kolong langit ini adalah sia-sia, karena pada akhirnya semua manusia akan mati, dan ketika kita mati, kita tidak akan membawa semua itu.
Sungguh kontras dengan yang dikatakan oleh Paulus yang hobby keluar masuk penjara karena memberitakan imannya, dia tidak pernah mengatakan bahwa hidupnya sia-sia. Bahkan Paulus berkata, "hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan".

"Lihatlah!" kata Tuhan sambil menemani saya memasak :), "Salomo dengan karunia hikmatnya yang spektakuler menganggap sia-sia semua yang pernah diperolehnya karena menganggap semua itu tidak bisa dibawa dan hanya akan ditinggalkan untuk orang lain ketika dia mati. Tentu saja, semua sia-sia jika kita hanya memikirkan apa yang bisa kita bawa untuk diri sendiri. Tetapi Paulus, yang tidak tenar dengan karunia-karunia yang kelihatan hebat, malah sering keluar masuk penjara seolah-olah dia adalah seorang penjahat, telah membawa banyak orang ke jalan kebenaran, dan dia tidak merasa ada yang sia-sia dalam hidupnya."

Ya. Paulus telah mengumpulkan harta yang penting, harta yang dia simpan di sorga.

Seringkali kita mengukur kekayaan kita (maupun kekayaan orang lain) dari barang-barang yang dimiliki, bentuk rumah, merek mobil, merek baju dan aksesoris yang digunakan. Bahkan terkadang ada orang yang bangga karena bisa main perempuan, mabuk-mabukan, dan menikmati semua yang dia pikir adalah kesenangan-kesenangan bagi dirinya. Semua ukuran itu sifatnya egosentris dan hanya mementingkan diri sendiri. Pertanyaannya selalu, "berapa banyak yang sudah saya miliki atau pernah pakai?" Itu yang menjadi ukurannya untuk merasa kaya. Tidak heran, kita selalu merasa miskin dan kurang, karena manusia selalu merasa kurang ketika melihat orang lain kemudian melihat dirinya sendiri.

Padahal, orang yang (merasa) berkelimpahan tidak akan merasa sayang untuk memberi kepada orang lain. Kita mungkin tidak pernah mengukur kekayaan kita dari "berapa yang sudah/bisa kita berikan kepada orang lain atau bahkan Tuhan?" Hal itu tidak lazim :)

Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, pada akhirnya akan merasa semua yang dia lakukan sia-sia, karena dia tidak akan menikmati semua usahanya selama hidup ketika dia mati. Tetapi orang yang hidup untuk melayani Tuhan dan orang lain, tidak akan merasa sia-sia karena meskipun dia mati, dia telah menjadikan hidupnya berguna untuk orang lain dan menikmati sukacita yang Tuhan berikan ketika dia hidup.

Salomo pada akhirnya menyadari bahwa semua yang dia miliki sia-sia tanpa Tuhan.

Jadi, inilah pencerahan yang saya dapatkan pagi ini. Manusia tidak akan pernah bahagia jika hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan selalu merasa kekurangan, tetapi ketika peduli dan ingin melayani dan membangun orang lain, dia akan merasa bahagia dengan hidupnya sendiri. Coba saja :)