Tepat di akhir tahun 2008 kemarin, ketika sedang ngurus beberapa pembayaran di bank di Wiradesa, bojoku iseng-iseng nanya ke salah satu karyawan bank tersebut tentang tabungan prioritas. Ternyata minimal setoran untuk bikin tabungan prioritas di tiap kota beda-beda. Tapi apa asiknya mengendapkan dana hanya untuk mendapat perlakuan istimewa sebagai nasabah prioritas? Aku toh masih bisa nyuruh orang ke bank sehingga aku ga perlu ngantri juga.
Entah kenapa bojoku niat banget untuk bikin kartu prioritas tersebut. Tapi dia pinginnya aku yang bikin, karna aku yang biasanya berurusan dengan bank, bukan blio. Petugas bank nyaranin pengendapan dana berupa tabungan deposito aja, tabungan lainnya tetep bisa digunakan untuk transaksi tanpa harus jaga minimal saldo. Minimal saldo yang harus diendapkan di kota sekecil Wiradesa sudah pasti lebih rendah daripada Jakarta, sehingga suamiku lebih tertarik untuk bikin di Wiradesa aja.
Cukup lama proses pembuatan kartunya sehingga aku minta mereka mengirimkan kartu itu ke cabang Daan Mogot supaya bisa kuambil di Jakarta.
Baru Senin ini aku ambil dari Daan Mogot, sekalian aku juga sudah mengumpulkan beberapa transaksi yang harus aku lakukan di bank tersebut. Pikirku, sekalian aku langsung nikmati aja fasilitasnya.
Jadi hari itu aku melakukan transaksi di ruang prioritas mereka.
Di ruangan itu ada beberapa meja untuk CS dan teller, juga disediakan minuman hangat gratis. Setelah urusan aktivasi kartu selesai, aku disuruh ambil nomor antrian untuk dilayani oleh teller karena aku akan melakukan transaksi.
"Ouw!" pikirku, "Ada juga antrian di prioritas ya?"
OK, mungkin di Jakarta banyak nasabah prioritas. Saking banyaknya, sampai-sampai akhirnya jadi ga prioritas lagi :P
Aku duduk di kursi tamu, mengamati ruangan tersebut. Dalam hati bingung juga. Ada 4 meja dan 4 orang duduk di kursi teller, tapi hanya 1 orang yang melayani. "Yang lain ngapain yah?" pikirku.
Yang satu sedang ngitung uang, yang satu lagi jalan-jalan di ruangan tersebut, satu lagi .. klak klik juga di komputernya, matanya tidak beralih dari monitor di depannya.
Aku heran, ada 2 orang ibuk-ibuk sedang menunggu selain aku, tapi sepertinya teller-teller tersebut cuek aja bahwa nasabah itu lagi nunggu nomer antriannya dicantumkan di layar antrian. Bahkan ketika teller yang tadinya sedang melayani nasabah itu selesai dengan nasabahnya, dia tidak menekan tombol untuk antrian selanjutnya, malah keluar dari mejanya dan pergi ntah ke mana.
Becanda??? Atau memang begini layanan untuk nasabah prioritas, saking tidak formalnya sampe-sampe kami ini dianggap kagak perlu dilayani. Bukankah logikanya orang mau mendam uang di bank untuk jadi nasabah prioritas supaya mereka gak perlu ngabisin waktu untuk ngantri, disamping mungkin ada fasilitas-fasilitas lainnya, tapi aku rasa "gak usah ngantri" adalah alasan utama (sebab itu juga alasan utamaku :D).
Tidak lama kemudian, petugas bank yang tadinya jalan-jalan di ruangan itu, akhirnya mencet tombol untuk nomor antrian berikutnya. Nomor 12. Aku masih nomor 14.
Aku penasaran setengah mati, kenapa orang yang tadi malah meninggalkan mejanya setelah melayani nasabah? Jam makan siang? Masih pukul 11.
Lalu kenapa juga teller yang satunya lagi cuma klak-klik mousenya sambil matanya tidak mau lepas dari monitor kompinya? Apa dia lagi asik buka friendster atau facebook sehingga ogah ngelayani nasabah? Abis klak-klik dia lepaskan mousenya, tapi matanya tetep natap monitor, entah apa yang ditampilkan oleh monitor kompinya. Kalau itu website yang menarik, seharusnya bagian IT mereka ngeblock fasilitas brosing untuk karyawan mereka, karena fasilitas itu cuma bikin karyawan mereka jadi malas. Untuk kerjaan, gak ada gunanya.
Tidak lama kemudian, si teller ini bangkit dari kursinya, lalu menghampiri teman CSnya yang sedang melayani nasabah. Tapi cuma mondar-mandir aja. Lalu datanglah OB yang rajin dan baik hati mengelap meja sang teller yang sebenarnya masih bersih dan rapi karna memang tidak dipakai bekerja.
Kemudian aku menghampiri Mbak CS untuk iseng-iseng menanyakan apakah fasilitas mobile bankingku akan berubah juga sebab ATMku yang biasa itu kan akhirnya digantikan oleh si kartu prioritas itu. Setelah mendengar penjelasannya, aku akhirnya ngomong, "Ini sebenarnya tellernya ada berapa sih Mbak? Koq kayaknya tellernya banyak, tapi nomor antriannya gak maju-maju. Kita kan nunggu lama di sini."
Akhirnya Mbak CS menyuruh salah satu teller lainnya untuk memencet tombol antrian, dan majulah si Ibuk nomor 13.
Tapi teller yang klak-klik mouse tetep aja nyantai. Dia malah berdiri aja di belakang teller-teller cewe yang lagi ngelayanin nasabah. Malah ketika teller yang sedang melayani nasabah itu hendak memasukkan uang ke mesin penghitung uang, dia ikut mencet-mencetin mesin itu. Padahal si teller cewe itu gak butuh bantuannya.
Bah! Mau keliatan sibuk? Layani nasabah dong!
Aku masih berusaha berpikir positif. Mungkinkan dia tenaga magang di situ? Aku berusaha menajamkan pandangan ke name tag-nya, sapa tau dia tenaga magang, biasanya tercantung di name tagnya.
Tapi engga tuh. Malah dia pake pin dengan tulisan SMART.
Busyet deh. Apanya yang smart dengan tindakan dia seperti itu?
Atau jabatannya lebih tinggi dari pada teller-teller yang sedang sibuk ngadepin nasabah itu? Tapi pakaiannya sama aja koq dengan petugas yang lagi ngitung uang di meja yang lain. Sementara ada satu wanita yang memang berpakaian keren, gak pake seragam di situ, aku kira itu baru atasan karna gak pake seragam :D. Tauk dah. Tapi kalaupun dia tukang otorisasi, harusnya liat nasabah nunggu sementara meja kosong, dia engga diem aja.
Bener-bener keki ngeliatnya. Kalau dia karyawanku udah pasti kudepak dari kantor kalau kerjaan yang bisa dia lakukan cuma klak-klik mouse sementara ada nasabah yang lagi menunggu untuk dilayani.
Apa memang begitu layanan untuk nasabah prioritas? Mentang-mentang suasana di ruangan itu dibuat santai, lalu orang seneng aja nunggu sambil ngopi atau ngeteh di situ tanpa merasa perlu dikejar waktu?
Woi! Kerjaan gue bukan cuma main ke bank aja. Aku rasa kalo dari tadi ngantri di bawah mungkin malah udah lebih dulu dilayani ketimbang di ruangan prioritas. Cuma beda ga ada minuman dan bisa bertransaksi sambil duduk aja. Gak penting banget deh. Rasanya gak worth it mendam uang dalam jumlah banyak demi fasilitas dan kecepatan layanan, tapi ternyata tetep aja gak bisa menikmati diprioritaskan oleh pegawe bank. Tetep aja, yang prioritas ya pegawenya bukan nasabahnya.
Elu mau pake kartu prioritas kelas apa, kalo pegawenya masih mau nyantai ya tunggu dulu.
Weks!
0 komentar:
Post a Comment