Baru saja aku merasa beruntung karena pembantu-pembantuku sekarang ini handal-handal. Nyaris gak ada celanya di mataku. Eh ... malam ini, aku denger laporan yang mengejutkan dan sempat bikin aku deg-degan, gemetar, dan .. ah .. gak tau apa aja yang campur aduk di dadaku.
Sudah beberapa bulan ini aku merasa terlalu nyaman akibat pelayanan dayang-dayangku. Mereka benar-benar ok mengurus rumah dan anak-anakku, pokoknya, aku benar-benar gak pusing lagi deh ninggalin mereka untuk kerja atau sekedar pacaran dengan bojoku.
Nah, beberapa hari terakhir ini, dayang-dayangku itu terbagi menjadi dua kelompok. Suasana agak panas di antara mereka, dan walaupun mereka tidak terang-terangan menceritakannya padaku, aku tahu lah. Pagi ini aku dengar mereka agak ribut di dapur, tapi aku memang males ikut-ikut urusan pribadi mereka, jadi aku diemin aja dan tetap meringkuk di kasurku :) Nanti toh salah satu dari mereka pasti akan cerita juga ke aku :D.
Di antara mereka, aku paling dekat dengan dayangnya Milen dan dayang yang tukang masak. Mungkin karena mereka itu yang paling cerewet dibanding yang lainnya :) Aku kan sebenarnya suka kalau ada yang ngajak ngobrol. Tapi justru mereka itulah yang sedang bertikai. Yang lainnya cuma pro kanan dan pro kiri :D.
Waktu lagi bareng Milen nonton tipi, dayangnya Milen menceritakan tentang keributan kecil tadi pagi. Tentu saja dengan cerita yang lebih memihak ke dia. Lalu aku berangkat ke kantor dan tidak ambil pusing dengan kejadian itu.
Malam ini, waktu si tukang masak hendak laporan hasil jualan mereka, dia cerita juga ke aku tentang keadaan hubungannya dengan dayangnya Milen yang sedang dalam pertikaian sengit. Menurut tukang masak ini, dayangnya Milen itu suka seenaknya kalau aku tidak di rumah, dan dia sering nasehatin dayangnya Milen. Tapi sepertinya nasehatnya tidak diterima dengan baik, sehingga malah membuat dayangnya Milen menjauhinya.
Perbuatan-perbuatannya dayangnya Milen itu, setelah dirinci oleh si tukang masak ini, benar-benar bikin aku lemas.
Contoh, dia keluarin ikan teri dari kulkas sejak pagi, dan baru mau masak malamnya, lalu akhirnya tidak jadi dimasak, malah dibuang.
Dia juga suka nyetel DVD dan pilem-pilem jorok kalau aku tidak ada di rumah, padahal anak-anakku sedang ada di depan tipi juga.
Milen ditidurin terus sepanjang siang dan begitu juga si dayang ikutan tidur di kasurnya anak-anak. Meskipun sebenarnya Milen udah bosan, nangis-nangis gak mau tidur tapi digendong terus, diajak tidur.
Dia juga suka nunyul kepala anak-anakku kalo gak mau nurut sama dia. Termasuk kepalanya Milen juga jadi korban. Duh .. bayi sekecil itu, apa sih yang gak bisa dimaklumi?
Duit-duit yang kadang ketinggalan di bajuku/Fredy dan di mobil, juga kadang diambil sama dia. Yang ketauan sama tukang masak ini sudah Rp 72.000 dalam dua kesempatan. Dan dia mengakui bahwa dia mengambil uang itu.
Huh! PRku banyak untuk berusaha membuktikan semua itu :)
Aku jadi bete. Sebab selama ini justru dayangnya Milen itu yang rajin cari muka di depanku. Seolah-olah dia memang sayang sama anak-anakku. Tapi ternyata kelakuannya munafik banget.
Dengan laporan itu memang tidak berarti si tukang masak berada di pihak yang benar sepenuhnya. Kalau mereka engga berantem, mana mungkin tukang masak menceritakan padaku kejadian sebenarnya?
Awalnya aku deg-degan, bingung, puyeng memikirkan harus bagaimana. Aku seperti kesambar petir mendengar penuturan si tukang masak ini. Memang sih, setiap ada kebusukan/ketidakjujuran yang berusaha menipu aku, pada akhirnya Tuhan pasti membukakan kebenaran di hadapanku, entah melalui apa saja :)
Tapi setelah kebenaran yang ternyata ada masalah di balik kenyamanan yang aku rasakan selama ini, aku rada puyeng memikirkan jalan keluarnya.
Tapi bukan Tuhan namanya kalo nunjukkin masalah tanpa memberi jalan keluarnya :D. Ada cengli? :) Setelah agak pusing sebentar, akhirnya aku dapat ide, kalau gak bisa disebut hikmat :D. Akhirnya aku putuskan, mulai besok aku akan bawa Milen dan dayangnya ikut ngantor bersamaku, setiap hari. Dengan demikian, aku bisa mengawasi dayangnya Milen ini. Pro-nya dia sih engga gitu berani bertingkah kalo dayangnya Milen engga ada, karena yang paling dominan memang dia.
Setidaknya, aku masih bisa percaya sama dayangnya Isaac dan Grace (yang aku ceritain di postingan sebelumnya) karena orangnya memang engga banyak tingkah selama ini. Yang terpenting dari semua ini adalah, kejadian ini memaksaku untuk bangun dari zona nyaman yang selama ini memanjakanku dari tugas-tugasku sebagai ibu. Rasanya aku harus mulai banyak ngantor di rumah lagi :)
Wednesday, September 2, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





















0 comments:
Post a Comment