Tuesday, December 8, 2009

aku, sahabatku dan sahabatnya :-)

Beberapa hari yang lalu, aku menerima kiriman buku dari seorang sahabat. Awalnya aku tidak tahu kalau buku itu dikirim atas permintaan sahabatku. Ketika aku ke Jogja akhir November kemarin, memang sahabatku itu bilang kalau aku akan menerima sesuatu dari dia nantinya. Tapi karena dia tidak menjelaskan detail apa yang mau dikasih ke aku, aku tidak terlalu memikirkannya, "Biar saja itu jadi kejutan waktu aku menerimanya nanti", begitu pikirku. Lagi pula, aku memang suka kejutan :-) Akhirnya aku lupa dengan pesan sahabatku itu.

Rupanya, sebelum tiba di kantorku, buku itu sudah melewati perjalanan panjang karena ternyata sahabatku ini salah memberikan alamat kepada sahabatnya. Akibatnya, si kurir bingung dan menelpon kembali sahabatnya sahabatku ini, supaya lebih singkat kita sebut saja dia Mrs. X. Kemudian Mrs. X menelpon sahabatku, dan diberilah nomor hp-ku.

Malang bagi Mrs. X, aku baru saja punya kebiasaan baru sejak 2 bulan yang lalu, yaitu tidak menerima secara langsung telepon yang masuk ke nomor hpku kecuali aku kenal nomornya. Ketika Mrs. X ini menelponku, aku melihat nomor asing, kemudian langsung memberikan hpku kepada salah satu stafku yang kebetulan orang Ambon. Disambutnya panggilan telepon Mrs. X dengan cara bicaranya yang keras dan "judes" menurut Mrs. X. Sungguh apes bagi Mrs. X, karena bicara soal kirim mengirim barang dan konfirmasi alamat, stafku ini melanjutkan saja pembicaraan dan berbicara mewakili aku dengan suara "judes"nya itu. Dia tidak merasa aku perlu direpotkan dengan urusan konfirmasi alamat, toh dia bisa melakukannya dan aku memang sedang fokus dengan kerjaanku.

Sebenarnya, stafku ini bukannya judes, tapi memang begitulah cara bicaranya. Dia kan orang Ambon, tidak mungkin mengubahnya menjadi orang Jawa, nanti Indonesia tidak bhineka tunggal ika lagi kalau orang Ambon harus bicara seperti orang Jawa.

Rupanya Mrs. X benar-benar berpikir bahwa akulah si penerima telepon itu.

Kemudian dia juga meninggalkan pesan di fesbukku, bahwa dia sudah menyampaikan alamat yang benar ke kargo. Aku yang tidak tahu menahu tentang pembicaraan antara Mrs. X dengan stafku ini, merasa kebingungan. Ya aku tahu bahwa dia adalah sahabatnya sahabatku. Tapi secara langsung aku belum pernah berhubungan dengan dia, bahkan lewat sahabatku pun belum pernah. Jadi aku berkesimpulan dia salah orang. Mungkin dia punya toko online dan akan mengirim barang ke pembelinya yang dikiranya aku.

Aku ingin menegurnya, tapi aku takut membuatnya malu atau tersinggung, jadi aku diamkan saja, toh tidak ada salahnya ada pesan nyasar di wall-ku. Kalau nantinya dia menyadari kesalahannya, nanti toh akan mengkonfirmasi kembali atau kalau tidak dikonfirmasi pun aku sungguh tidak keberatan ada pesan-pesan asing di wallku. Ternyata dia bukan salah orang, tapi akulah yang tidak sadar kalau aku memang sedang akan dikirimi buku olehnya :-))

Dan diam ternyata tidak selalu menghasilkan emas. Mengadulah ia pada sahabatku, karena aku menjawab teleponnya dengan judes dan tidak membalas pesannya di wall ku. Tetapi rupanya sahabatku ini tidak percaya dengan ceritanya, malah balik memarahinya karena sahabatku saat itu sebenarnya sedang fokus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya dan urusan seperti itu sebetulnya sangat menyita waktunya yang terbatas untuk menyelesaikan pekerjaan yang jadi sumber nafkahnya. Nafkah berarti makan buat dia, tidak dapat nafkah dia gak bisa makan.

"Kenapa kamu tidak bilang saja pada Mrs. X kalau kamu masih sibuk dan dia bisa telpon lagi nanti? Mestinya itu lebih bisa diterima daripada akhirnya kamu harus bicara kasar apalagi 'bukan urusan gue'." tanyaku yang selalu bingung, mengapa pria sering tidak bisa mengatakan "tidak" terutama pada wanita.

Tapi itulah sahabatku, tidak bisa bilang tidak dan akhirnya kesulitan sendiri ketika sahabatnya ternyata menyita waktunya dengan urusan yang tidak mendatangkan uang ini :D. "Bukan urusan gue", sungguh seperti disambar geledek mendengar kalimat itu diucapkan oleh orang yang kita anggap sahabat. Tapi akhirnya aku tahu, sahabatku ini benar-benar pening dengan masalah yang ditimbulkannya sendiri akibat tidak bisa bilang "tidak" atau "tunggu" di awal, dan tidak punya kata-kata lain untuk diucapkan.

Aku sudah menceritakan kejadian sebenarnya pada Mrs. X. Dan ketika Mrs. X akhirnya menerima aku kembali jadi teman di fesbuknya, yang aku anggap sebagai "pintu yang terbuka", aku lihat, ternyata Mrs. X sampai 5 kali berturut-turut memposting tulisannya yang berisi kekecewaannya padaku dan pada sahabatku itu. Wow!!! Siapa yang harus ge-er sekarang? hehehe ..

Sungguh unik, dari dulu sudah diadd di fesbuk, tapi tidak pernah saling sapa, sekarang .. ketika ada kejadian seperti ini, tiba-tiba dia jadi istimewa di mataku. Tentunya aku juga istimewa di matanya, karena postingan 5 kali berturut-turut itu (sssttt... sebenarnya sih berlebihannya postingan itu karena sahabatku ini pasti sangat istimewa bagi Mrs. X, sehingga ketika Mrs. X kecewa, kekecewaannya jadi teramat sangat dalam, berbanding lurus dengan kadar keistimewaan sahabatku di matanya, tapi biarlah aku numpang narsis di sini :D).

Komunikasi di dunia maya, atau lewat telepon sekalipun, selalu memiliki kekurangannya sendiri. Kita tidak bisa membaca mimik wajah ataupun bahasa tubuh orang yang sedang berbicara. Stafku yang dibilang judes oleh Mrs. X itu, hehehe .. pastilah Mrs. X tidak akan percaya kalau stafku itu bicara sambil agak membungkuk-bungkuk seolah-olah Mrs. X ada di depannya. Dan kesombonganku yang dibaca oleh Mrs. X itu, pastilah dia tidak mengira kalau pesannya di wall-ku membuat aku kebingungan dan merasa aneh dengan pesan itu. Karena memang tidak melihat secara langsung mimik muka dan bahasa tubuh kami.

Agak geli sebenarnya aku dalam hati membaca tulisan Mrs. X yang penuh dengan amarah, kepadaku dan sahabatku. Geli karena aku tahu keadaan yang sebenarnya, dan apa yang membuatnya nggerundel berhari-hari, ternyata hanya salah baca, salah paham. Tapi tentu saja sama sekali tidak menggelikan bagi Mrs. X karena dialah pihak yang tersiksa dengan sakit hati dan amarah. Seharusnya, setelah mengetahui kejadian sebenarnya Mrs. X bisa menertawakan kejadian ini bersama aku dan sahabatku. Kejadian ini, mau dibikin lawakan dan ditertawakan bersama, lalu kami menjadi teman, atau mau dibikin jadi tragedi yang akhirnya malah memisahkan Mrs. X dengan sahabatku .. itu adalah pilihannya. Aku sudah memilih yang pertama. Aku bahkan tidak tahu pilihan sahabatku, tapi dia setuju untuk tidak memperpanjang cerita lucu ini dengan kekecewaan. Aku harap Mrs. X bisa memilih dengan benar kali ini. Bukankah hidup ini berisi pilihan-pilihan yang bisa kita pilih dengan bijak?

0 komentar: