Tuesday, December 22, 2009

Sialaaann!!!

Hari ini harusnya hari istimewa buatku, tapi sepertinya, sejak hari 5 hari yang lalu masalah belum puas menghajar dan menyayat-nyayat hatiku.

Mau curhat sama suami, dia sudah pusing dengan bisnisnya (meskipun kalau orang lain yang curhat pasti dia senang-senang saja mendengarkan). Mau curhat sama teman-temin, ah .. apa mereka kekurangan masalah sampai harus dibebani masalahku lagi?

Rasanya pingin mati, tapi sekarang lebih banyak alasan untuk tetap bertahan hidup. Aku masih belum mau menyerah dan membiarkan masalah yang bertubi-tubi ini membunuhku.

Thursday, December 10, 2009

acara demi acara

Kena pilek sejak tadi malam .. pantes waktu di kantor rasanya ni badan nggreges kayak mau kena sakit.

Hari ini aku udah bertekad untuk gak ngantor. Mo istirahat.
Eh, ternyata ini tanggal 10. Dari kemarin orang kantor juga lupa nyiapin SSP untuk bayar pajak, jadilah hari ini agak gedandapan bayar pajak, soalnya cukup gede juga jumlahnya, harus pake cek. Tapi akhirnya selesai juga urusan membayar pajak ini tanpa aku perlu ke kantor :)

Sabtu nanti, Isaac akan menghadapi tes masuk SDnya. Baru tahu, ternyata Isaac punya peran di acara natal sekolahnya nanti. Begitu juga dengan Grace, ada acara foto bareng orang tua di perayaan natalnya dia. Masalahnya, tes masuk, perayaan natal sekolahnya Isaac, dan perayaan natal sekolahnya Grace, tumplek blek jadi satu di hari Sabtu pagi. Sementara bojoku masih di Hong Kong sampai Sabtu pagi itu.

Hiks .. gini ya pusingnya jadi "single parent".

Aku menelpon calon SDnya Isaac, mudah-mudahan mereka mau mengijinkan Isaac nyusul ujiannya Sabtu siang, tapi mereka tidak bisa memberikan kebijaksanaan seperti itu.
Akhirnya aku menelpon sekolahnya Isaac, dan bicara dengan kepseknya, dan tanpa dipaksa, dia langsung menawarkan untuk menggeser acaranya Isaac supaya agak siangan. Tapi aku harus tiba di sekolah itu pukul 9.30. Yah, aku sangat berharap tidak ada macet hari itu. Tapi apa aku berani mengambil resiko itu??? Bagaimana kalau ternyata macet? Aku sangat tidak ingin mengorbankan acara natalnya Isaac karena itu kesempatan dia untuk tampil.

Aku juga harus menghadiri acara natal di sekolahnya Grace, karena ada acara foto anak bareng orang tua itu. Aku benar-benar sangat berharap suamiku bisa pulang lebih cepet kali ini :-(

Entah gimana aku akan ngatur acara demi acara yang bertumpukan di hari Sabtu nanti..
Semoga bisa dapet semuanya, walaupun mepet-mepet.

Tuesday, December 8, 2009

aku, sahabatku dan sahabatnya :-)

Beberapa hari yang lalu, aku menerima kiriman buku dari seorang sahabat. Awalnya aku tidak tahu kalau buku itu dikirim atas permintaan sahabatku. Ketika aku ke Jogja akhir November kemarin, memang sahabatku itu bilang kalau aku akan menerima sesuatu dari dia nantinya. Tapi karena dia tidak menjelaskan detail apa yang mau dikasih ke aku, aku tidak terlalu memikirkannya, "Biar saja itu jadi kejutan waktu aku menerimanya nanti", begitu pikirku. Lagi pula, aku memang suka kejutan :-) Akhirnya aku lupa dengan pesan sahabatku itu.

Rupanya, sebelum tiba di kantorku, buku itu sudah melewati perjalanan panjang karena ternyata sahabatku ini salah memberikan alamat kepada sahabatnya. Akibatnya, si kurir bingung dan menelpon kembali sahabatnya sahabatku ini, supaya lebih singkat kita sebut saja dia Mrs. X. Kemudian Mrs. X menelpon sahabatku, dan diberilah nomor hp-ku.

Malang bagi Mrs. X, aku baru saja punya kebiasaan baru sejak 2 bulan yang lalu, yaitu tidak menerima secara langsung telepon yang masuk ke nomor hpku kecuali aku kenal nomornya. Ketika Mrs. X ini menelponku, aku melihat nomor asing, kemudian langsung memberikan hpku kepada salah satu stafku yang kebetulan orang Ambon. Disambutnya panggilan telepon Mrs. X dengan cara bicaranya yang keras dan "judes" menurut Mrs. X. Sungguh apes bagi Mrs. X, karena bicara soal kirim mengirim barang dan konfirmasi alamat, stafku ini melanjutkan saja pembicaraan dan berbicara mewakili aku dengan suara "judes"nya itu. Dia tidak merasa aku perlu direpotkan dengan urusan konfirmasi alamat, toh dia bisa melakukannya dan aku memang sedang fokus dengan kerjaanku.

Sebenarnya, stafku ini bukannya judes, tapi memang begitulah cara bicaranya. Dia kan orang Ambon, tidak mungkin mengubahnya menjadi orang Jawa, nanti Indonesia tidak bhineka tunggal ika lagi kalau orang Ambon harus bicara seperti orang Jawa.

Rupanya Mrs. X benar-benar berpikir bahwa akulah si penerima telepon itu.

Kemudian dia juga meninggalkan pesan di fesbukku, bahwa dia sudah menyampaikan alamat yang benar ke kargo. Aku yang tidak tahu menahu tentang pembicaraan antara Mrs. X dengan stafku ini, merasa kebingungan. Ya aku tahu bahwa dia adalah sahabatnya sahabatku. Tapi secara langsung aku belum pernah berhubungan dengan dia, bahkan lewat sahabatku pun belum pernah. Jadi aku berkesimpulan dia salah orang. Mungkin dia punya toko online dan akan mengirim barang ke pembelinya yang dikiranya aku.

Aku ingin menegurnya, tapi aku takut membuatnya malu atau tersinggung, jadi aku diamkan saja, toh tidak ada salahnya ada pesan nyasar di wall-ku. Kalau nantinya dia menyadari kesalahannya, nanti toh akan mengkonfirmasi kembali atau kalau tidak dikonfirmasi pun aku sungguh tidak keberatan ada pesan-pesan asing di wallku. Ternyata dia bukan salah orang, tapi akulah yang tidak sadar kalau aku memang sedang akan dikirimi buku olehnya :-))

Dan diam ternyata tidak selalu menghasilkan emas. Mengadulah ia pada sahabatku, karena aku menjawab teleponnya dengan judes dan tidak membalas pesannya di wall ku. Tetapi rupanya sahabatku ini tidak percaya dengan ceritanya, malah balik memarahinya karena sahabatku saat itu sebenarnya sedang fokus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya dan urusan seperti itu sebetulnya sangat menyita waktunya yang terbatas untuk menyelesaikan pekerjaan yang jadi sumber nafkahnya. Nafkah berarti makan buat dia, tidak dapat nafkah dia gak bisa makan.

"Kenapa kamu tidak bilang saja pada Mrs. X kalau kamu masih sibuk dan dia bisa telpon lagi nanti? Mestinya itu lebih bisa diterima daripada akhirnya kamu harus bicara kasar apalagi 'bukan urusan gue'." tanyaku yang selalu bingung, mengapa pria sering tidak bisa mengatakan "tidak" terutama pada wanita.

Tapi itulah sahabatku, tidak bisa bilang tidak dan akhirnya kesulitan sendiri ketika sahabatnya ternyata menyita waktunya dengan urusan yang tidak mendatangkan uang ini :D. "Bukan urusan gue", sungguh seperti disambar geledek mendengar kalimat itu diucapkan oleh orang yang kita anggap sahabat. Tapi akhirnya aku tahu, sahabatku ini benar-benar pening dengan masalah yang ditimbulkannya sendiri akibat tidak bisa bilang "tidak" atau "tunggu" di awal, dan tidak punya kata-kata lain untuk diucapkan.

Aku sudah menceritakan kejadian sebenarnya pada Mrs. X. Dan ketika Mrs. X akhirnya menerima aku kembali jadi teman di fesbuknya, yang aku anggap sebagai "pintu yang terbuka", aku lihat, ternyata Mrs. X sampai 5 kali berturut-turut memposting tulisannya yang berisi kekecewaannya padaku dan pada sahabatku itu. Wow!!! Siapa yang harus ge-er sekarang? hehehe ..

Sungguh unik, dari dulu sudah diadd di fesbuk, tapi tidak pernah saling sapa, sekarang .. ketika ada kejadian seperti ini, tiba-tiba dia jadi istimewa di mataku. Tentunya aku juga istimewa di matanya, karena postingan 5 kali berturut-turut itu (sssttt... sebenarnya sih berlebihannya postingan itu karena sahabatku ini pasti sangat istimewa bagi Mrs. X, sehingga ketika Mrs. X kecewa, kekecewaannya jadi teramat sangat dalam, berbanding lurus dengan kadar keistimewaan sahabatku di matanya, tapi biarlah aku numpang narsis di sini :D).

Komunikasi di dunia maya, atau lewat telepon sekalipun, selalu memiliki kekurangannya sendiri. Kita tidak bisa membaca mimik wajah ataupun bahasa tubuh orang yang sedang berbicara. Stafku yang dibilang judes oleh Mrs. X itu, hehehe .. pastilah Mrs. X tidak akan percaya kalau stafku itu bicara sambil agak membungkuk-bungkuk seolah-olah Mrs. X ada di depannya. Dan kesombonganku yang dibaca oleh Mrs. X itu, pastilah dia tidak mengira kalau pesannya di wall-ku membuat aku kebingungan dan merasa aneh dengan pesan itu. Karena memang tidak melihat secara langsung mimik muka dan bahasa tubuh kami.

Agak geli sebenarnya aku dalam hati membaca tulisan Mrs. X yang penuh dengan amarah, kepadaku dan sahabatku. Geli karena aku tahu keadaan yang sebenarnya, dan apa yang membuatnya nggerundel berhari-hari, ternyata hanya salah baca, salah paham. Tapi tentu saja sama sekali tidak menggelikan bagi Mrs. X karena dialah pihak yang tersiksa dengan sakit hati dan amarah. Seharusnya, setelah mengetahui kejadian sebenarnya Mrs. X bisa menertawakan kejadian ini bersama aku dan sahabatku. Kejadian ini, mau dibikin lawakan dan ditertawakan bersama, lalu kami menjadi teman, atau mau dibikin jadi tragedi yang akhirnya malah memisahkan Mrs. X dengan sahabatku .. itu adalah pilihannya. Aku sudah memilih yang pertama. Aku bahkan tidak tahu pilihan sahabatku, tapi dia setuju untuk tidak memperpanjang cerita lucu ini dengan kekecewaan. Aku harap Mrs. X bisa memilih dengan benar kali ini. Bukankah hidup ini berisi pilihan-pilihan yang bisa kita pilih dengan bijak?

Sunday, December 6, 2009

orphan

Sore tadi kami sekeluarga ke Glodok, biasa .. kunjungan rutin .. belanja dvd bajakan :D.

Malam ini, karena suamiku pergi meeting, aku berencana akan nonton pilem yang suamiku udah jelas males nonton, horor :D. Entah kenapa aku suka penasaran pingin nonton pilem horor meskipun aku sebenarnya penakut hehehe ..
Aku sengaja menunggu anak-anak tidur untuk mulai nonton, soalnya kalau Isaac atau Grace ikutan nonton, mereka nanti pasti jadi penakut, berimajinasi yang engga-engga.

Pilem pertama yang aku tonton adalah "Orphan". Yang ini boleh ditertawakan, bagaimana aku memutuskan untuk menyalakan mesin cuci lebih dulu, menyiapkan air minum di sebelah tempat tidur dan merestart wi-fi supaya gak ngehang, supaya kalau pas pilemnya udah main dan ternyata aku jadi penakut, aku gak perlu keluar-keluar kamar lagi untuk sekedar ngerestart wi-fi atau bahkan ambil minum karna haus hihihi ..

Karna dari sampulnya aja udah ngeri, aku sebenarnya lumayan ngeri juga mau nonton pilem ini. Apalagi suamiku bilang, menurut stafnya dia ni pilem lebih ngeri (atau menegangkan ya?) dari pada Drag Me To Hell. Jadi untuk mengantisipasi rasa takut yang mungkin nanti muncul gara-gara nonton pilem ini, aku baca-baca dulu di internet tentang pilem ini. Abis tu aku baru nonton pilemnya.

Cerita Orphan ini ternyata bukan cerita tentang setan atau makhluk halus lainnya, tapi tentang manusia biasa. Yang GILA!!!

Ceritanya, seorang ibu yang kehilangan anaknya karena meninggal di dalam kandungan, ingin mengadopsi seorang anak lagi. Sebenarnya dia dan suaminya sudah punya 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Lalu ketika mereka mengunjungi panti asuhan, mereka bertemu dengan Esther, seorang anak perempuan yang pandai melukis.

Ternyata Esther ini bisa melakukan kejahatan demi kejahatan, tidak seperti anak-anak pada umumnya. Dia juga pandai menyembunyikan kejahatannya, dan menimbulkan perpecahan pada keluarga yang mengadopsinya. Ternyata, Esther bukanlah anak kecil berumur 9 tahun, tapi seorang wanita penderita penyakit kekurangan hormon pertumbuhan (kalo gak salah namanya hipopituitari) sehingga dia terus menjadi anak kecil meskipun sebenarnya sudah berusia 33 tahun. Dia melarikan diri dari RSJ dan memalsukan identitasnya.

Aku jadi urung dengan keinginanku mengadopsi anak hahaha .. Susah juga ternyata kalau mengadopsi anak yang kita tidak tahu asal-usulnya dengan jelas.