Monday, May 31, 2010

Pergi dari Zona Nyaman :D

Teminku menyuruhku update blog ini dengan cerita tentang pembantu-pembantuku hihihi .. sebenarnya bukan hal yang penting, tapi .. siapa tau memang bisa jadi pelajaran terutama untuk ibu-ibu muda dan malas seperti aku ini :D.

Setelah pernah punya 4 orang pembantu yang bikin rumah cukup rame setiap hari, abis lebaran, pembantuku hanya 2. Bukan karena mereka tidak mau balik lagi, tapi karena aku memutuskan untuk tidak lagi menggunakan jasa yang dua lainnya. Yang satu pembohong, dan yang satu bego setengah mati.

Pada bulan Maret, salah satu dari keduanya pulang karena anaknya sakit keras. Karena urusan sakitnya lama banget dan aku tidak bisa menunggu lama karena kasihan juga temannya sendirian mengurus rumah dan anak-anakku sendirian, aku cari asisten rutang lagi. Dapet dua orang tapi sudah tuek-tuek .. yang satu o'on, yang satu lagi penakut. "Mati dah", pikirku, "Alamat kerja keras lagi nih".

Baru sebulan kerja, Mbak yang penakut ditelpon oleh suaminya karena anaknya sakit demam sudah 3 hari dan masuk ICU. Satu sisi, aku pingin ngasih tau si Mbak ini, supaya tidak usah pulang, tapi kirim uang saja untuk berobat anaknya. Karena dia pulang pun, kalau sudah masuk rumah sakit berarti kan sudah ada yang merawat, jadi dia cuma buang-buang uang, tenaga dan waktu. Apalagi dia baru sebulan kerja di tempatku, dan sudah berjanji bahwa kalau belum 3 bulan minta pulang, berarti gajinya bakal dipotong ongkos travel, berarti dia gak dapet apa-apa karena baru berangkat kerja aja udah ngebon dulu untuk ninggalin keluarganya.

Tapi aku tidak berani, karena ini urusannya ibu sama anak. Kadang anak kecil memang butuh ibunya di sampingnya supaya cepat sembuh. Meskipun kalau aku ada di posisi dia, paling cuma bisa nelpon ke anakku supaya berjuang dan tetap kuat, doain bareng, tapi akan berusaha mati-matian untuk tidak pulang karena efisiensi. Uangnya lebih baik utuh kukirim ke kampung supaya bisa bayar RS daripada untuk bayar bus. Di samping itu, ni Mbak penakut banget dan belum pernah pergi jauh sebelumnya. Tapi aku tidak berani mengenakan ukuranku padanya. Sudah lah, kalau dia memang pola pikirnya memang sudah seperti itu ya sudah, yang penting jangan merugikan aku juga.

Awalnya dia mau minta temennya ikut nemenin dia pulang, tapi aku tidak mengijinkan. Kalau mau pulang ya pulang sendiri, aku repot kalau temennya ikutan pulang hanya untuk nganter dia, karena asistenku yang tinggal satu pertama tadi, sudah mengundurkan diri juga karena menikah dan suaminya gak mau dia kecapean karena ngurusin anak-anakku yang gak mau dipegang oleh asisten baru.

Nah, akhirnya suamiku meminjamkan hpnya ke mbak yang o'on ini untuk menelpon suaminya supaya suaminya menjemput mbak penakut yang akan pulkam ini di terminal bus. Entah apakah memang karena tidak punya otak atau tidak punya etika, sudah dipinjami hp, bukannya bicara seperlunya, si suami malah ngajak berantem dengan menuduh dia selingkuh di Jakarta. Kalau mau berantem mbok ya pake pulsanya sendiri, jangan pake pulsa orang lain :P

Akhirnya aku pun jadi nyonya cerewet yang gak merasa gak enak-gak enakan lagi. Kubilang sama si o'on, "Wes ra, ojo tukaran terus, pulsane entek ngko, nek Bapak arep nelpon malah ora biso" (udah dong, jangan berantem terus, nanti pulsanya habis, kalau Bapak mau nelpon malah gak bisa).

Biasanya kalau aku denger dan liat Mamiku bicara blak-blakan gitu, aku ngerasa Mamiku koq tega banget sama orang lain. Eh .. ternyata memang ada waktu dan kondisinya perlu bersikap dan bicara blak-blakan terutama kalau menghadapi orang yang tidak bisa diajak bicara baik-baik.

Kewalahan ditinggal sendirian bersama seorang pembantu yang o'on, aku minta bantuan Mamiku untuk datang ke rumahku untuk membantu aku, minimal ada yang ngawasin pembantu ini lah karena masih o'on banget. Aku gak bisa kerja di rumah karena kalau sudah di rumah suka gak konsen ngurusin kerjaan. Tapi Mamiku bilang, kakinya masih sakit sejak pulang dari Hong Kong. Akhirnya aku putuskan Mamiku gak usah ke sini deh, biar aku hadapi sendiri aja, ini kan rutangku. Lagipula .. aku pingin liat, kira-kira bisa apa aku ngadepin tantangan kayak gini?

Eh .. tanpa sepengetahuanku, mertuaku menelpon Mamiku dan memintanya datang ke Jakarta, alasannya karena kasihan cucu-cucunya, takut gak dikasih makan sama aku. Sungguh, mendengar hal itu, aku sebenarnya jadi sangat mangkel sama mertuaku. Memangnya aku ini ibu macam apa di matanya sampai dia berpikiran aku gak akan kasih makan anak-anakku? Kalau kasihan dan mau bantu, ya bantu aja, tapi mbok ya gak usah ngomong yang aneh-aneh, kalau dia sok kasihan hanya untuk mencela aku, aku dan anak-anakku rasanya gak perlu dikasihani deh, masih banyak orang yang masalahnya lebih rumit daripada aku.

Tapi akhirnya aku putuskan untuk tidak ambil pusing aja dengan ucapannya, toh aku juga tidak mendengarnya secara langsung.

Hahaha ..tentang mertuaku ini, aku pernah bilang sama suamiku, "Kamu itu tampak sempurna di mataku, hanya satu kekuranganmu, Mamahmu". Dan suamiku setuju dengan hal itu hahaha .., "anggap saja begitu," katanya.

Bagiku masih worth it kalau harus mengabaikan satu kekurangan setelah menerima seribu kebaikan dan kelebihan suamiku. Hahaha .. Bukan masalah itung-itungan lho ya, maksudku kebaikan dan kebahagiaan yang diberikan suamiku memberikan lebih banyak kekuatan untuk menghadapi kekurangan yang melemahkan itu.

Aku sebenarnya agak bingung setelah malamnya Mamiku memberi kabar tidak bisa ke Jakarta, paginya Papiku nelpon, Mamiku akan segera ke Jakarta bersama Tanteku. Aku kira, suamiku yang memaksa Mamiku untuk ke Jakarta. Ternyata ulah mertuaku. Bagaimanapun .. thanks Mah :)

Setibanya Mamiku di Jakarta memang aku malah jadi bingung karena Mamiku mengeluh kakinya sakit gak sembuh-sembuh, sementara aku punya urusan anak-anak dan pekerjaan yang malah semakin nambah. Untung Tanteku ikut, hilang satu kekhawatiran :) Aku tetep gak ngantor, sebisa mungkin kerja dari rumah, tapi setidaknya, ketika ada meeting yang penting, aku bisa pergi sebentar.

Salah satu keuntungan menyandera Mamiku adalah, Papiku jadi sangat mengusahakan bisa mendapatkan asisten rutang lagi. Hehehe ..

Aku akhirnya bawa Mamiku berobat ke dokter bedah tulang untuk melihat ada apa dengan kaki Mamiku itu karena sudah diminumin obat macem-macem dan dipijat tetap saja tidak sembuh-sembuh. Ternyata syaratnya ada yang terjepit tulang belakang. Harus operasi!

Akhirnya diputuskan untuk operasi. Untungnya, ada teman Tanteku yang membantu karena suaminya bekas dokter di RS Halim. Karena diantar oleh temannya Tanteku dan suaminya, kami diusahakan untuk menanggung biaya semurah mungkin. Bahkan untuk plat yang digunakan untuk mengganti ruas tulang belakang Mamiku itu, kami dipertemukan langsung dengan penjualnya, supaya bisa nego harga sendiri.

Aku sebenarnya cukup teng-tengan dengan keadaan ini. Pembantu gak ada, pekerjaan nambah, duit menipis gara-gara ada project baru, suamiku meninggalkan kegiatan penjualannya dan mengurus project sehingga pemasukan berkurang tapi dari project itupun dia belum mendapat hasil apa-apa, pengeluaran pun akhirnya jadi membengkak karena biaya liburan ke HK sebagai "project menyenangkan orang tua" membuat aku kehujanan tagihan bulan ini, operasi dan perawatan Mamiku ini siapa lagi kalau bukan anak pertamanya yang menanggungnya : diriku!

Justru suamiku yang sangat mantap akan menanggung semua biaya itu.

Akupun akhirnya pasrah aja, memang semua beban ini maunya jatuh di pangkuanku ya apa lagi yang bisa aku buat selain mengerjakannya satu-satu semampuku.

Ndilalah .. (aku suka kata ini hehehe ..), di awal aku menghadapi masalah seperti ini, Tuhan mempertemukan aku kembali dengan sahabatku waktu SMP, dari fesbuk, turun ke BB hehehe ..

Ketika ngobrol-ngobrol sama dia, aku diingetin lagi, intinya, "Kamu iklas aja, nanti Tuhan pasti berkati kamu, kalau kamu gak iklas, ya gak ada berkatnya."

Ya .. ya .. ya .. dia memang tidak tau kondisi detailnya, tapi teori itu kan memang memang yang dijanjikan Tuhan untuk kita anak-anaknya. Dan aku akhirnya memutuskan, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu, kalau memang harus nabrak tembok ya akan kutabrak, apapun akibatnya. Bukankah hidupku ini milik Tuhan? Jadi kalau Tuhan pingin hidupku sehabis-habisnya, maka habislah, kalau tidak maka tidak akan habis."

Sekarang ini Mamiku sudah keluar dari RS dan sedang rawat jalan .. dan aku belum mati hahaha .. Berarti Tuhan memang tidak bermaksud menghabisi aku dengan masalah ini :))

Sekarang aku sudah dapat 2 suster yang walaupun kurang memuaskan, tapi aku bersyukur aja, dengan 2 suster dan 1 asisten rutang yang masih harus diajarin ini itu dari nol, membuat aku gak terlena lagi. Mungkin memang Tuhan ngeliat aku sudah terlalu enak setahun kemarin dikeloni oleh pembokat-pembokat. Aku sudah nyadar dengan keadaan nyaman yang membahayakan ini sebenarnya, tapi untuk bangun dan membenahi diriku rasanya malas banget.

Jadi terpaksa zona nyamanku diobrak-abrik supaya aku terpaksa bangun dan melihat keadaan sekelilingku.

Jadi sebulan ini, cukup kacau hidupku akibat ditinggal oleh pembokat yang cukup handal mengurus anak-anakku, dari mulai sekolah, les, dll. Selama ini aku bisa ngurusin kerjaan tanpa "gangguan" anak-anak dan urusan sekolah mereka, pulang ke rumah tinggal main aja sama mereka. Tapi sekarang, aku jadi harus tau jadwal mereka sekolah, les dan semuanya.

Sekarang aku bahkan belajar masuk dapur lagi setelah sekian lama malas masuk ke dapur. Meskipun sekarang sih belum sepenuhnya masuk dapur karena Tanteku masih ada untuk ngajarin pembantuku masak. Tapi tetep aku yang harus ngajarin bersih-bersih dapurnya, sebab orang yang doyan masak biasanya kurang bisa bersih-bersih, kecuali adik iparku hehehe ..

Sekarang keadaanku udah mulai stabil secara rutinitas sehari-hari. Kalau keuangan masih mblegedes :) tapi aku yakin Tuhan bakal nyediain kebutuhanku dan keluarga.
Untungnya aku bukan orang yang suka punya banyak keinginan. Kalo pas pegang uang, liat barang bagus ya aku beli aja kalo pas pingin, tapi aku gak pernah ngarang-ngarang pingin ini pingin itu. Kalo gak punya uang, liat barang bagus ya ga ada keinginan untuk beli hehehe ..
Yang gak pernah ngarang kayak aku aja suamiku terpacu banget nyari duitnya demi aku dan anak-anak, katanya.
Gimana kalo aku ini tukang ngayal dan suka pingin ini itu? Mungkin malah jadi bete dan gak semangat dianya hahaha ..

2 komentar:

Anonymous said...

Yupp.. Blessed to bless other!!

Lea said...

Ga seru kalo anonymous :D