Kemarin aku ke Kidzania mengantar anak-anak ikut acara di Kidzania. Rombongan terdiri dari :
1. Anak-anakku (Isaac, Grace, Milen)
2. Anak-anaknya Vivi (Ss dan Uis)
3. Ncus Yuni (asistennya Vivi)
4. Ana dan Ros (asistenku)
Aku tidak mengajak Ana dan Ros masuk ke Kidza, tapi aku mengijinkannya jalan-jalan keliling mall karena mereka tetap membawa kereta dan tas yang berisi popoknya Milen.
Setelah aku selesai makan dengan Milen, aku cek popoknya, ternyata Milen sudah pup di popoknya itu.
Lalu aku ajak Milen keluar ke toilet dan memanggil Ros dan Ana.
Selesai nyebokin Milen, Ros dan Ana tiba di toilet. Lalu aku menyerahkan Milen pada mereka supaya mereka memakaikan popok yang baru untuk Milen.
Sementara aku bermaksud mencuci popok yang sudah dipakai karena belepotan e'eknya Milen. Kran air di toilet mall itu tidak menggunakan keran air semprot, sehingga aku berpikir, asistenku mungkin tidak bisa mencuci popoknya dengan benar menggunakan kran yang ada di situ.
Belum selesai aku mencuci popoknya, pintu toiletku digedor-gedor oleh asistenku. Ketika aku buka pintu, aku lihat Milen sedang dipangku oleh salah satu asistenku dan tangannya berdarah! Bukan hanya berdarah, tapi ujung jempolnya itu sudah mau putus!
Aku kaget bukan main. Apakah ini nyata atau tidak? Melihat bagian tubuh seseorang dalam keadaan seperti itu saja sudah merupakan trauma tersendiri, apalagi tubuh anak kita sendiri!
Apakah aku boleh memilih? Biar aku saja yang menanggung luka itu. Tapi tidak bisa :((
Aku merasa hatiku sangat tersayat-sayat. Tapi aku mencoba untuk tetap pakai logika. Si Tante yang pintu toiletnya telah menjepit jari anakku sampai mau putus itu berkata dengan angkuhnya, "Saya ga tau apa-apa lho ... Saya ga tau apa-apa lho".
Aku yang meskipun tahu, itu bukan tanggung jawabnya, tetap memberikan tatapan mata paling tajam yang bisa dibuat oleh mata sipitku ini :D. Belum juga disalahin koq sudah berusaha membela diri. Tentu saja ... Karena sebenarnya dalam hati dia merasa bersalah. Semoga perasaan bersalah itu akan terus menghantuinya karena pernyataannya yang angkuh itu.
Aku tidak mau ambil pusing dengan Si Tante. Aku juga tidak mau berlama-lama menginterogasi orang-orang yang sudah pasti akan berusaha membela dirinya sendiri. Aku hanya memikirkan keselamatannya Milen. Ingin segera menutup lukanya supaya rasa sakitnya berkurang. Dia sungguh tidak layak menanggung akibat dari kecerobohan orang-orang dewasa di sekelilingnya. :(( bisakah aku saja???
Aku segera mengambil celananya Milen yang masih bersih karena hanya itu satu-satunya kain bersih yang bisa aku harapkan untuk menutup lukanya (adakah sebutan lain untuk daging yang sudah mau putus seperti itu? "Luka" sepertinya kurang menggigit untuk menggambarkan keadaannya). Menyuruh asistenku membawa Milen keluar dari toilet, langsung menuju lift, diantar oleh salah satu petugas sekuriti mall. Menuju lobby, sambil menelpon sopirku, dan berencana menunggu mobil di lobby. Sekarang Milen sudah dalam gendonganku.
Tapi rupanya asistenku yang lain dengan cerobohnya telah membawa kunci mobil bersamanya. Koq bisa? Mbuh!
Yang jelas akhirnya aku naik taksi dan meninggalkan salah satu asistenku untuk mencari supir dan menyusulku.
"Ke mana Bu?" tanya supir taksi.
"Rumah Sakit terdekat Pak," jawabku.
Sambil jalan supir taksi bertanya lagi, "Rumah Sakit dekat sini di mana ya? Yang di Kuningan?"
"Ga tau lah Pak, saya ga hapal daerah sini, dan sudah ga bisa mikir" jawabku sekenanya sambil berharap jawabanku itu tidak membuat supir taksi malah ngerjain aku dan ngajak kami berputar-putar ga genah.
Akhirnya supir taksi memutuskan membawa kami ke RS Pusat Pertamina. Langsung menuju ke UGD.
Di UGD aku di sambut seorang pria berseragam biru, aku langsung bilang, "Tolongin Pak, jarinya sudah mau putus karna kecepit pintu, tolongin sekarang deh, jangan suruh daftar-daftar dulu. Takut darahnya habis."
Rupanya pria itu baik hati dan tidak sombong. Dia langsung membawaku dan Milen ke ruang bedah kecil. Tidak lama kemudian dia kembali lagi bersama dua suster dan beberapa peralatan. Segera membersihkan jempolnya Milen, melihat keadaannya baik-baik dan membalutnya dengan perban. Selama dibalut, Si Milen sempat beberapa kali berusaha berontak dan nangis, "Mau sama Papi ... Miyen mau sama Papiii" hehe..
(Ketiga anakku punya kebiasaan yang bersumber dari Isaac dan diturunkan ke adik-adiknya, ketika mereka harus melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka akan mengajukan syarat, "mau sama mami" atau jika aku yang minta, mereka akan bilang "mau sama papi". Sebenarnya hanya untuk mengulur waktu hehehe)
Awalnya aku tidak ingin memberitahu suamiku dulu tentang kejadian ini. Karena dia pasti langsung lemes dan lagi dia tidak berani melihat darah. Hari Jumat sebelumnya dalam perjalanan pulang dari Bandung dia sempat cerita padaku, bahwa dulu dia merasa papahnya tidak sayang sama dia karena tidak pernah memeluk atau kasih pujian. Ketika suamiku kecelakaan berat waktu SMA, mamahnya sering cerita bahwa papahnya langsung lemes ngeliat suamiku yang waktu itu tergeletak penuh jahitan dan mengerang-erang. Tapi dia pikir itu hanya ceritanya Mamah aja, ga mungkin papahnya yang biasanya terlihat cool dan tegar bisa seperti itu. Tapi setelah dia merasakan sendiri jadi seorang ayah yang anaknya tidak bisa diam sehingga kadang jatuh, berdarah dll, dia sendiri merasa lemes kalau anaknya ada yang jatuh. Dari situ dia baru menyadari, ternyata Papah itu sayang sama dia. Karena sudah tahu suamiku bakal lemes liat kondisi anaknya apalagi kalau melihat lukanya sebelum diperban, aku bermaksud menghadapinya sendiri.
Tapi karena Milen nangisnya sampe "mau sama papi", akhirnya aku iseng-iseng bbm suamiku. Tapi tidak memberitahu lebih dulu kejadiannya. Hanya memberi kabar bahwa aku sedang di RS bersama Milen dan Milen minta sama Papinya.
Kembali ke RS ... Kemudian, atas persetujuanku, petugas RS uang baik hati itu segera mendaftarkan Milen ke ruang radiologi untuk ngefoto tulang jempolnya Milen. Kami tidak perlu menunggu lama untuk antri dan segera difoto.
Kemudian kami kembali lagi ke UGD untuk menunggu hasil sinar x tulang jempolnya Milen. Sejak dibalut Milen sudah tidak banyak nangis lagi, mungkin rasa sakitnya sudah banyak berkurang. Dia sudah ngantuk pastinya, sudah hampir tertidur.
Setelah hasil rontgen keluar dan ternyata tulang jempolnya baik-baik saja, aku berdiskusi dengan dokter UGD untuk pilihan apakah akan menggunakan dokter bedah atau staf UGD untuk menangani jempolnya Milen.
Orang tua mungkin menginginkan yang terbaik untuk anaknya sehingga akan memilih dokter bedah. Tapi aku ingin tahu, apa bedanya dokter bedah dengan staf UGD?
Kalau di ruang UGD, hanya menggunakan bius lokal, dokter bedah pasti akan menggunakan bius total. Dan karenanya aku pasti tidak akan diijinkan untuk mendampingi Milen dan tidak bisa tahu Milen diapain aja.
Tindakan yang diambil sama saja, "dijahit"!
Akhirnya aku pilih dijahit di UGD. Ternyata yang menjahit adalah staf yang tadi membantuku ke sana kemari.
Aku tetap memangku Milen sementara mereka menjahit jempolnya.
Awalnya Milen menangis lagi ketika disuntik bius lokal. Karena bagaimanapun suntikan bius harus diberikan di bagian lukanya. Tapi setelah obat bius bekerja dia mulai diam.. Ngelendot ke dadaku dan membiarkan saja jempolnya dijahit.
Aku seperti nonton acara discovery channel ngeliat orang menjahit luka di depan mataku. Dan aku tetap melihatnya. Sekarang aku tahu bahwa kain penutup dengan lubang kecil untuk operasi memang secara psikologis diperlukan demi rasa kemanusiaan kita supaya sejenak melupakan bahwa yang dioperasi itu adalah bagian tubuh manusia yang bernyawa seperti pengoperasinya :D. Mungkin dunia kedokteran punya tujuan lain dengan kain itu, tapi bagiku, itulah gunanya hehehe...
Peristiwa sebesar dan sepedih ini ... mungkin aku harus bersyukur atas kepercayaan yang diberikan Tuhan padaku untuk mengalaminya secara langsung. Karena menurut iman yang diajarkan padaku sejak kecil, tidak sehelai rambut pun akan jatuh tanpa seijin Tuhan. Dan aku mengamininya meski belum tahu apa gunanya.
Sementara sedang dijahit, suamiku sudah tiba di RS dan masuk ke ruangan kami. Tapi aku melarangnya mendekat karena sedang proses jahitan. Hatinya juga sepertinya sudah tidak kuat melihat kondisi anaknya seperti itu, akhirnya dia keluar juga.
Selesai proses jahitan barulah suamiku mendekat meskipun masih takut-takut, tapi seperti ketika menunggui aku melahirkan, sadar atau tidak sadar, demi ingin melihat kondisi jempolnya Milen dia berusaha untuk berani.
Setelah proses jahitan selesai, barulah kami mengurus administrasi RS :D pendaftaran ... input data ... dan pembayaran.
Aku benar-benar sangat berterima kasih. Nama staf UGD itu Ali ... Suwajdi??? Aku lupa nama belakangnya soalnya aneh.
Aku bilang sama suamiku, sebaiknya kita kasih bonus lah karena dia sudah memberikan pelayanan terbaik untuk Milen. Tapi kata suamiku, ga usah, itu memang sudah tugasnya dia.
Kalo dipikir-pikir, pola pikirku memang lucu. Bukankah memang tugas staf di RS adalah memberikan pelayanan terbaik? Memang sudah seharusnya demikian. Tapi karena hampir semua RS mengutamakan administrasi ketimbang pelayanan, maka orang seperti Pak Ali ini jadi sangat langka dan istimewa. Padahal, yang normalnya itu ya yang seperti yang dilakukan oleh Pak Ali dan yang mengutamakan administrasi RS di atas segalanya adalah yang tidak normal. Hehehe...
Ketika masih di taksi, aku sempat menanyai asistenku yang ikut denganku, "Bagaimana mungkin anak kecil satu, yang jaga dua orang, koq masih bisa kecelakaan seperti ini? Kamu ngapain aja Ros??"
Ceritanya begini menurut asisten yang waktu itu ikut denganku : dia sudah selesai memakaikan popok untuk Milen, kemudian sedang mengambil celana. Sementara Milen dijagai oleh asisten satunya. Tau-tau Milen nangis, dia tanya ke asisten satunya, "An, Milen nangis kenapa?"
"Ga tau," jawabnya. Ketika dia lihat ternyata tangannya Milen kecepit dan dia langsung memberitahu temannya kemudian temannya langsung menggedor-gedor pintu toilet yang ternyata dimasuki oleh tante-tante yang tidak tahu ada anak kecil di depan pintu toilet yang akan dia masuki apalagi mau ngecek apakah anak kecil itu mainan pintu atau tidak.
Versi asistenku yang satunya lagi, yang jadi terdakwa di kisah versi temannya : dia sedang betulin pampersnya Milen dan sambil nyanyi-nyanyi sama Milen, trus tau-tau Milen nangis. Ternyata jarinya kecepit.
Ga tau deh. Temenku Si Sherly yang bekerja di bagian HRD menjadi gemas ketika aku ceritain kejadian ini, langsung menyuruhku memotong gaji asistenku :D supaya jera dan jadi pelajaran untuk hati-hati lain kali. "Kalau tidak ada hukuman dia bakal seenaknya aja kerja," begitu argumennya.
Tapi suamiku bilang, "ga usah, lebih baik dia jangan dikasih jagain Milen lagi, tambahin aja gaji asisten yang satunya".
Memang sih... Kalau orang masih punya hati nurani pasti akan menghukum dirinya sendiri sebelum orang lain memghukum dirinya. Dan dia malah akan merasa tersiksa kalau dibaikin.
Asistenku sih sudah minta maaf ke aku dan suamiku ketika kami keluar dari ruang bedah di UGD itu. Aku bilang, "minta maaf tu sama Milen". Dimintain maaf, Milen cums mlengos :D
Kejadian ini menimbulkan trauma tersendiri buatku. Meskipun aku bisa tegar dan tetap menguasai pikiranku selama proses dari toilet mall sampai keluat rs, tapi kejadian di toilet itu seperti video yang terus diputar di otakku. Dan setiap kali, hatiku terasa sakit sekali.
Memang ini sebuah kecelakaan. Aku juga tidak bisa menyalahkan siapapun. Baik si tante, asisten-asistenku, atau Milen yang tidak hati-hati. Tapi aku menyesal sekali tidak bersama Milen ketika itu, kalau aku sendiri yang menjaga, mungkin lain ceritanya. Bahkan ketika tiba2 terlintas di benakku ketika mereka memakaikan popok untuk Milen, aku ingin menyuruh mereka melakukannya di luar toilet atau cari tempat duduk atau di wastafel, tapi tidak aku lakukan.
Sebenarnya aku menyalahkan diriku sendiri lebih besar ketimbang menyalahkan orang lain. Kenapa bukan aku yang handle waktu itu???
Sepulang dari rs, aku kembali ke kidza untuk menjemput anak-anak yang lain, sementara Milen sudah tertidur. Tapi aku tidak membiarkannya pulang bersama asisten.
Dari mall itu, kami mampir lagi ke Citraland untuk makan malam dan mengantar Isaac tambal gigi. Baru kami pulang ke rumah.
Di Citraland Si Milen sudah mulai ceria lagi. Padahal diperkirakan oleh dokter, setelah pengaruh obat bius hilang, dia bakal rewel karena lukanya akan terasa sakit sekali. Perkiraan itu dibenarkan juga oleh suamiku yang sudah mengalami sendiri dijahit karena kecelakaan.
Tapi Milen seperti tidak merasakan apa-apa. Boro-boro rewel, dia malah ngajak becandan terus dan sudah mau lompat-lompat lagi.
Aku rasa Tuhan pun tidak tega membiarkan dia kesakitan dan mengambil rasa sakit itu daripadanya :)
Semogaa...
Tapi akibat trauma itu, aku masih saja memperlakukan dia seperti porselen. Takut dia kebentur apa sedikit saja. Setidaknya sampai jempolnya pulih lah.
Hari ini nih.. Aku tunjukkan padanya foto yang diambil oleh papinya waktu dia sedang dijahit. Dia masih ingat koq. Katanya, "Yen angis ... Yen au ama papi huuuuu..." (Milen waktu itu nangisnya gini ... Milen mau sama papi huuuuu...)
Dalam hati aku sangat heran, koq bisa ya dia ingat kata-katanya waktu dia nangis padahal sudah kesakitan banget?
Hehehe...
Aku masih dengan trauma dan penyesalanku yang besar.
Milen masih dengan jempolnya yang dibalut perban.
Berharap Tuhan bekerja melalui waktu atau mukjizat untuk cepat memulihkan kami...
1. Anak-anakku (Isaac, Grace, Milen)
2. Anak-anaknya Vivi (Ss dan Uis)
3. Ncus Yuni (asistennya Vivi)
4. Ana dan Ros (asistenku)
Aku tidak mengajak Ana dan Ros masuk ke Kidza, tapi aku mengijinkannya jalan-jalan keliling mall karena mereka tetap membawa kereta dan tas yang berisi popoknya Milen.
Setelah aku selesai makan dengan Milen, aku cek popoknya, ternyata Milen sudah pup di popoknya itu.
Lalu aku ajak Milen keluar ke toilet dan memanggil Ros dan Ana.
Selesai nyebokin Milen, Ros dan Ana tiba di toilet. Lalu aku menyerahkan Milen pada mereka supaya mereka memakaikan popok yang baru untuk Milen.
Sementara aku bermaksud mencuci popok yang sudah dipakai karena belepotan e'eknya Milen. Kran air di toilet mall itu tidak menggunakan keran air semprot, sehingga aku berpikir, asistenku mungkin tidak bisa mencuci popoknya dengan benar menggunakan kran yang ada di situ.
Belum selesai aku mencuci popoknya, pintu toiletku digedor-gedor oleh asistenku. Ketika aku buka pintu, aku lihat Milen sedang dipangku oleh salah satu asistenku dan tangannya berdarah! Bukan hanya berdarah, tapi ujung jempolnya itu sudah mau putus!
Aku kaget bukan main. Apakah ini nyata atau tidak? Melihat bagian tubuh seseorang dalam keadaan seperti itu saja sudah merupakan trauma tersendiri, apalagi tubuh anak kita sendiri!
Apakah aku boleh memilih? Biar aku saja yang menanggung luka itu. Tapi tidak bisa :((
Aku merasa hatiku sangat tersayat-sayat. Tapi aku mencoba untuk tetap pakai logika. Si Tante yang pintu toiletnya telah menjepit jari anakku sampai mau putus itu berkata dengan angkuhnya, "Saya ga tau apa-apa lho ... Saya ga tau apa-apa lho".
Aku yang meskipun tahu, itu bukan tanggung jawabnya, tetap memberikan tatapan mata paling tajam yang bisa dibuat oleh mata sipitku ini :D. Belum juga disalahin koq sudah berusaha membela diri. Tentu saja ... Karena sebenarnya dalam hati dia merasa bersalah. Semoga perasaan bersalah itu akan terus menghantuinya karena pernyataannya yang angkuh itu.
Aku tidak mau ambil pusing dengan Si Tante. Aku juga tidak mau berlama-lama menginterogasi orang-orang yang sudah pasti akan berusaha membela dirinya sendiri. Aku hanya memikirkan keselamatannya Milen. Ingin segera menutup lukanya supaya rasa sakitnya berkurang. Dia sungguh tidak layak menanggung akibat dari kecerobohan orang-orang dewasa di sekelilingnya. :(( bisakah aku saja???
Aku segera mengambil celananya Milen yang masih bersih karena hanya itu satu-satunya kain bersih yang bisa aku harapkan untuk menutup lukanya (adakah sebutan lain untuk daging yang sudah mau putus seperti itu? "Luka" sepertinya kurang menggigit untuk menggambarkan keadaannya). Menyuruh asistenku membawa Milen keluar dari toilet, langsung menuju lift, diantar oleh salah satu petugas sekuriti mall. Menuju lobby, sambil menelpon sopirku, dan berencana menunggu mobil di lobby. Sekarang Milen sudah dalam gendonganku.
Tapi rupanya asistenku yang lain dengan cerobohnya telah membawa kunci mobil bersamanya. Koq bisa? Mbuh!
Yang jelas akhirnya aku naik taksi dan meninggalkan salah satu asistenku untuk mencari supir dan menyusulku.
"Ke mana Bu?" tanya supir taksi.
"Rumah Sakit terdekat Pak," jawabku.
Sambil jalan supir taksi bertanya lagi, "Rumah Sakit dekat sini di mana ya? Yang di Kuningan?"
"Ga tau lah Pak, saya ga hapal daerah sini, dan sudah ga bisa mikir" jawabku sekenanya sambil berharap jawabanku itu tidak membuat supir taksi malah ngerjain aku dan ngajak kami berputar-putar ga genah.
Akhirnya supir taksi memutuskan membawa kami ke RS Pusat Pertamina. Langsung menuju ke UGD.
Di UGD aku di sambut seorang pria berseragam biru, aku langsung bilang, "Tolongin Pak, jarinya sudah mau putus karna kecepit pintu, tolongin sekarang deh, jangan suruh daftar-daftar dulu. Takut darahnya habis."
Rupanya pria itu baik hati dan tidak sombong. Dia langsung membawaku dan Milen ke ruang bedah kecil. Tidak lama kemudian dia kembali lagi bersama dua suster dan beberapa peralatan. Segera membersihkan jempolnya Milen, melihat keadaannya baik-baik dan membalutnya dengan perban. Selama dibalut, Si Milen sempat beberapa kali berusaha berontak dan nangis, "Mau sama Papi ... Miyen mau sama Papiii" hehe..
(Ketiga anakku punya kebiasaan yang bersumber dari Isaac dan diturunkan ke adik-adiknya, ketika mereka harus melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka akan mengajukan syarat, "mau sama mami" atau jika aku yang minta, mereka akan bilang "mau sama papi". Sebenarnya hanya untuk mengulur waktu hehehe)
Awalnya aku tidak ingin memberitahu suamiku dulu tentang kejadian ini. Karena dia pasti langsung lemes dan lagi dia tidak berani melihat darah. Hari Jumat sebelumnya dalam perjalanan pulang dari Bandung dia sempat cerita padaku, bahwa dulu dia merasa papahnya tidak sayang sama dia karena tidak pernah memeluk atau kasih pujian. Ketika suamiku kecelakaan berat waktu SMA, mamahnya sering cerita bahwa papahnya langsung lemes ngeliat suamiku yang waktu itu tergeletak penuh jahitan dan mengerang-erang. Tapi dia pikir itu hanya ceritanya Mamah aja, ga mungkin papahnya yang biasanya terlihat cool dan tegar bisa seperti itu. Tapi setelah dia merasakan sendiri jadi seorang ayah yang anaknya tidak bisa diam sehingga kadang jatuh, berdarah dll, dia sendiri merasa lemes kalau anaknya ada yang jatuh. Dari situ dia baru menyadari, ternyata Papah itu sayang sama dia. Karena sudah tahu suamiku bakal lemes liat kondisi anaknya apalagi kalau melihat lukanya sebelum diperban, aku bermaksud menghadapinya sendiri.
Tapi karena Milen nangisnya sampe "mau sama papi", akhirnya aku iseng-iseng bbm suamiku. Tapi tidak memberitahu lebih dulu kejadiannya. Hanya memberi kabar bahwa aku sedang di RS bersama Milen dan Milen minta sama Papinya.
Kembali ke RS ... Kemudian, atas persetujuanku, petugas RS uang baik hati itu segera mendaftarkan Milen ke ruang radiologi untuk ngefoto tulang jempolnya Milen. Kami tidak perlu menunggu lama untuk antri dan segera difoto.
Kemudian kami kembali lagi ke UGD untuk menunggu hasil sinar x tulang jempolnya Milen. Sejak dibalut Milen sudah tidak banyak nangis lagi, mungkin rasa sakitnya sudah banyak berkurang. Dia sudah ngantuk pastinya, sudah hampir tertidur.
Setelah hasil rontgen keluar dan ternyata tulang jempolnya baik-baik saja, aku berdiskusi dengan dokter UGD untuk pilihan apakah akan menggunakan dokter bedah atau staf UGD untuk menangani jempolnya Milen.
Orang tua mungkin menginginkan yang terbaik untuk anaknya sehingga akan memilih dokter bedah. Tapi aku ingin tahu, apa bedanya dokter bedah dengan staf UGD?
Kalau di ruang UGD, hanya menggunakan bius lokal, dokter bedah pasti akan menggunakan bius total. Dan karenanya aku pasti tidak akan diijinkan untuk mendampingi Milen dan tidak bisa tahu Milen diapain aja.
Tindakan yang diambil sama saja, "dijahit"!
Akhirnya aku pilih dijahit di UGD. Ternyata yang menjahit adalah staf yang tadi membantuku ke sana kemari.
Aku tetap memangku Milen sementara mereka menjahit jempolnya.
Awalnya Milen menangis lagi ketika disuntik bius lokal. Karena bagaimanapun suntikan bius harus diberikan di bagian lukanya. Tapi setelah obat bius bekerja dia mulai diam.. Ngelendot ke dadaku dan membiarkan saja jempolnya dijahit.
Aku seperti nonton acara discovery channel ngeliat orang menjahit luka di depan mataku. Dan aku tetap melihatnya. Sekarang aku tahu bahwa kain penutup dengan lubang kecil untuk operasi memang secara psikologis diperlukan demi rasa kemanusiaan kita supaya sejenak melupakan bahwa yang dioperasi itu adalah bagian tubuh manusia yang bernyawa seperti pengoperasinya :D. Mungkin dunia kedokteran punya tujuan lain dengan kain itu, tapi bagiku, itulah gunanya hehehe...
Peristiwa sebesar dan sepedih ini ... mungkin aku harus bersyukur atas kepercayaan yang diberikan Tuhan padaku untuk mengalaminya secara langsung. Karena menurut iman yang diajarkan padaku sejak kecil, tidak sehelai rambut pun akan jatuh tanpa seijin Tuhan. Dan aku mengamininya meski belum tahu apa gunanya.
Sementara sedang dijahit, suamiku sudah tiba di RS dan masuk ke ruangan kami. Tapi aku melarangnya mendekat karena sedang proses jahitan. Hatinya juga sepertinya sudah tidak kuat melihat kondisi anaknya seperti itu, akhirnya dia keluar juga.
Selesai proses jahitan barulah suamiku mendekat meskipun masih takut-takut, tapi seperti ketika menunggui aku melahirkan, sadar atau tidak sadar, demi ingin melihat kondisi jempolnya Milen dia berusaha untuk berani.
Setelah proses jahitan selesai, barulah kami mengurus administrasi RS :D pendaftaran ... input data ... dan pembayaran.
Aku benar-benar sangat berterima kasih. Nama staf UGD itu Ali ... Suwajdi??? Aku lupa nama belakangnya soalnya aneh.
Aku bilang sama suamiku, sebaiknya kita kasih bonus lah karena dia sudah memberikan pelayanan terbaik untuk Milen. Tapi kata suamiku, ga usah, itu memang sudah tugasnya dia.
Kalo dipikir-pikir, pola pikirku memang lucu. Bukankah memang tugas staf di RS adalah memberikan pelayanan terbaik? Memang sudah seharusnya demikian. Tapi karena hampir semua RS mengutamakan administrasi ketimbang pelayanan, maka orang seperti Pak Ali ini jadi sangat langka dan istimewa. Padahal, yang normalnya itu ya yang seperti yang dilakukan oleh Pak Ali dan yang mengutamakan administrasi RS di atas segalanya adalah yang tidak normal. Hehehe...
Ketika masih di taksi, aku sempat menanyai asistenku yang ikut denganku, "Bagaimana mungkin anak kecil satu, yang jaga dua orang, koq masih bisa kecelakaan seperti ini? Kamu ngapain aja Ros??"
Ceritanya begini menurut asisten yang waktu itu ikut denganku : dia sudah selesai memakaikan popok untuk Milen, kemudian sedang mengambil celana. Sementara Milen dijagai oleh asisten satunya. Tau-tau Milen nangis, dia tanya ke asisten satunya, "An, Milen nangis kenapa?"
"Ga tau," jawabnya. Ketika dia lihat ternyata tangannya Milen kecepit dan dia langsung memberitahu temannya kemudian temannya langsung menggedor-gedor pintu toilet yang ternyata dimasuki oleh tante-tante yang tidak tahu ada anak kecil di depan pintu toilet yang akan dia masuki apalagi mau ngecek apakah anak kecil itu mainan pintu atau tidak.
Versi asistenku yang satunya lagi, yang jadi terdakwa di kisah versi temannya : dia sedang betulin pampersnya Milen dan sambil nyanyi-nyanyi sama Milen, trus tau-tau Milen nangis. Ternyata jarinya kecepit.
Ga tau deh. Temenku Si Sherly yang bekerja di bagian HRD menjadi gemas ketika aku ceritain kejadian ini, langsung menyuruhku memotong gaji asistenku :D supaya jera dan jadi pelajaran untuk hati-hati lain kali. "Kalau tidak ada hukuman dia bakal seenaknya aja kerja," begitu argumennya.
Tapi suamiku bilang, "ga usah, lebih baik dia jangan dikasih jagain Milen lagi, tambahin aja gaji asisten yang satunya".
Memang sih... Kalau orang masih punya hati nurani pasti akan menghukum dirinya sendiri sebelum orang lain memghukum dirinya. Dan dia malah akan merasa tersiksa kalau dibaikin.
Asistenku sih sudah minta maaf ke aku dan suamiku ketika kami keluar dari ruang bedah di UGD itu. Aku bilang, "minta maaf tu sama Milen". Dimintain maaf, Milen cums mlengos :D
Kejadian ini menimbulkan trauma tersendiri buatku. Meskipun aku bisa tegar dan tetap menguasai pikiranku selama proses dari toilet mall sampai keluat rs, tapi kejadian di toilet itu seperti video yang terus diputar di otakku. Dan setiap kali, hatiku terasa sakit sekali.
Memang ini sebuah kecelakaan. Aku juga tidak bisa menyalahkan siapapun. Baik si tante, asisten-asistenku, atau Milen yang tidak hati-hati. Tapi aku menyesal sekali tidak bersama Milen ketika itu, kalau aku sendiri yang menjaga, mungkin lain ceritanya. Bahkan ketika tiba2 terlintas di benakku ketika mereka memakaikan popok untuk Milen, aku ingin menyuruh mereka melakukannya di luar toilet atau cari tempat duduk atau di wastafel, tapi tidak aku lakukan.
Sebenarnya aku menyalahkan diriku sendiri lebih besar ketimbang menyalahkan orang lain. Kenapa bukan aku yang handle waktu itu???
Sepulang dari rs, aku kembali ke kidza untuk menjemput anak-anak yang lain, sementara Milen sudah tertidur. Tapi aku tidak membiarkannya pulang bersama asisten.
Dari mall itu, kami mampir lagi ke Citraland untuk makan malam dan mengantar Isaac tambal gigi. Baru kami pulang ke rumah.
Di Citraland Si Milen sudah mulai ceria lagi. Padahal diperkirakan oleh dokter, setelah pengaruh obat bius hilang, dia bakal rewel karena lukanya akan terasa sakit sekali. Perkiraan itu dibenarkan juga oleh suamiku yang sudah mengalami sendiri dijahit karena kecelakaan.
Tapi Milen seperti tidak merasakan apa-apa. Boro-boro rewel, dia malah ngajak becandan terus dan sudah mau lompat-lompat lagi.
Aku rasa Tuhan pun tidak tega membiarkan dia kesakitan dan mengambil rasa sakit itu daripadanya :)
Semogaa...
Tapi akibat trauma itu, aku masih saja memperlakukan dia seperti porselen. Takut dia kebentur apa sedikit saja. Setidaknya sampai jempolnya pulih lah.
Hari ini nih.. Aku tunjukkan padanya foto yang diambil oleh papinya waktu dia sedang dijahit. Dia masih ingat koq. Katanya, "Yen angis ... Yen au ama papi huuuuu..." (Milen waktu itu nangisnya gini ... Milen mau sama papi huuuuu...)
Dalam hati aku sangat heran, koq bisa ya dia ingat kata-katanya waktu dia nangis padahal sudah kesakitan banget?
Hehehe...
Aku masih dengan trauma dan penyesalanku yang besar.
Milen masih dengan jempolnya yang dibalut perban.
Berharap Tuhan bekerja melalui waktu atau mukjizat untuk cepat memulihkan kami...
(nanti akan ku update lagi dengan foto kalau internetnya sudah beres :D)
Sent from my iPhone
Sent from my iPhone
0 komentar:
Post a Comment