Tuesday, December 7, 2010

Pelajaran dari Sepatuku :D

Bulan April kemarin, saya membeli sebuah sepatu hitam yang ... sebenarnya saya sendiri merasa aneh dengan sepatu itu hehehe ... Sebab, umumnya sepatu, biasanya terbuat dari kulit atau kain, tapi ini dari karet seluruhnya. Saya memilih model yang paling nyaman menurut saya, cukup sederhana tapi bisa dipakai untuk acara formal maupun non formal .. sambil berpikir, "Bagaimana caranya karet yang kelihatannya keras bisa jadi bahan sepatu dan banyak orang yang bilang bahwa sepatu itu enak dipakainya?" Tapi suami saya membeli merek sepatu yang sama dan mengatakan sepatunya enak sekali dipakainya. Baiklah .. akan saya coba.

Suerrr! Saya jarang sekali merasakan seperti apa sih pakai sepatu enak itu. Pernah sih, saya beli sepatu yang enak dipakai dari awal sampai akhir, tapi akhir-akhirnya terasa kedodoran walaupun masih enak di kaki, dan karena sudah tampak butut, akhirnya saya lepaskan juga.
Kebanyakan sepatu wanita sangat menyiksa menurut saya. Terutama yang berhak tinggi. Saya lebih suka pakai sandal jepit .. seandainya saja sandal jepit selalu cocok di semua suasana hehehe .. Sepatu sport adalah pilihan kedua, tapi .. juga tidak semua pakaian mau berpadu dengan sepatu sport :D

Bulan-bulan pertama mengenakan sepatu baru itu, awalnya biasa saja di kaki, tapi lama-kelamaan, punggung jari kaki saya koq jadi lecet, terutama kalau harus berjalan cukup jauh. Kaki bagian belakang biasanya jadi sasaran empuk sepatu baru .. lecet juga.
Lalu kuku-kuku kaki saya pun terasa sakit. Ya tentu saja, sepatu itu menutup seluruh jari kaki saya dengan bahan karetnya itu, meskipun dari luar kelihatannya beludru.

Saya mencoba berganti sepatu, ada satu sepatu juga yang cukup enak dipakai, tapi terlalu mengkilap hehehe .. dan entah kenapa ... kalau kaki saya sudah kembali sembuh dari lecet-lecet itu, saya kembali lagi ke sepatu hitam itu .. baik secara sadar maupun tidak sadar.

Pagi ini saya sedang dalam perjalanan ke Thamrin, ketika saya akhirnya menyadari .. dan terkejut, ternyata sepatu saya nyaman sekali dipakai. Entah sejak kapan sepatu itu mulai terasa nyaman. Yang jelas, saya baru menyadari, ternyata sepatu itu sekarang rasanya nyaman di kaki dan saya pun jarang punya keluhan tentang sepatu itu lagi. Terasa pas di kaki, tidak ada rasa sakit sama sekali di kaki. Bahkan kaki rasanya terbungkus dan nyaman.

Tiba-tiba .. saya mendapat pengertian seperti ini :

Kita ini seperti kaki dan keadaan kita adalah sepatu kita.
Seringkali kita merasa tidak cocok dengan keadaan yang baru, merasa asing dan mungkin juga keadaan baru itu menyakitkan hati atau sangat tidak mengenakkan.

Ada orang yang ketika merasa tidak tahan dengan keadaaan tertentu langsung pergi dan meninggalkan keadaan/masalah tersebut. Orang itu tidak pernah belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak dia sukai itu.
Atau tetap tinggal tetapi akhirnya merasa jenuh karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyesuaikan diri. Orang ini, jika tidak juga menemukan cara mengubah keadaan atau menyesuaikan diri, hanya sedang menunggu waktu untuk akhirnya pergi dari keadaan tersebut atau mati dengan kesedihannya.

Namun ternyata, kita dan keadaan bisa saling menyesuaikan. Ketika keadaan tidak seperti yang kita inginkan, kita bisa mengubahnya .. atau jika kita tidak bisa mengubah keadaan, kita bisa menyesuaikan diri supaya bisa hidup berdampingan dengan keadaan tersebut.
Malahan, dengan menyesuaikan diri dengan keadaan yang sulit/tidak kita inginkan, akan membuat kita menjadi pribadi yang semakin kuat.

Ketika "berkenalan" dengan sepatu itu, kaki saya sering lecet, terutama ketika digunakan untuk berjalan jauh. Jika kuku-kuku kaki saya mulai memanjang dan saya lupa memotongnya, kuku-kuku itu akan membuat saya kesakitan karena tertekan oleh ujung sepatu itu.
Saya mencoba berbagai macam cara, menaruh tissue di belakang kaki atau menempel plester untuk melindungi kulit kaki saya.
Saya juga memotong kuku-kuku kaki saya sependek mungkin. Kebetulan saya memang tidak suka berkuku panjang sedikit saja, tapi suka lupa memotong kuku. Ketika kuku-kuku kaki saya sudah sangat pendek pun, ternyata rasa sakit itu tidak serta merta langsung hilang. Malah yang ada, antara kuku dan sepatu itu menjepit daging/bagian jari kaki yang ujung .. sakit juga .. hahaha ..

Bukankah kita sering begitu juga? Ketika menghadapi seseorang atau keadaan yang sulit dan kita berusaha mengubahnya atau menyesuaikan diri, tapi ternyata kadang-kadang hasilnya tidak instant dan kita menjadi kurang sabar.
Ada kalimat Paulus yang saya suka, bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita (Roma 5 : 3-5).

Mungkin keadaan itu terjadi karena kesalahan kita atau keadaan itu terjadi karena ujian hidup, yang jelas, tidak sehelai pun rambut kita akan jatuh di luar kehendak Tuhan kan? Jadi kalau masalah sesepele rambut rontok saja butuh otorisasi dari Tuhan, apalagi masalah kehidupan? Pasti diijinkan Tuhan untuk terjadi, bukan untuk menekan kita, menyiksa kita, atau membuat kita jadi gila, tapi justru untuk melatih kita supaya jadi pribadi yang lebih kuat.

Saya ingat cerita dosen saya, ketika temannya, karena sebuah kecelakaan terpotong tangannya. Memang awalnya teman dosen saya ini berteriak-teriak kesakitan, tapi kemudian dia diam dan tenang membuat dosen saya bertanya-tanya, "Memangnya sudah tidak sakit lagi ya?".
Si teman ini menjawab, "Ya sakit, tapi mau gimana lagi? Sakit itu kan sinyal yang dikirimkan bagian tubuh ke otak, dan kemudian otak mendefinisikan itu sebagai 'sakit'. Sekarang, saya teriak, dengan saya tidak teriak, sakit tetap sakit. Ya sudah nikmati saja dengan tenang, tidak ada gunanya juga teriak-teriak, tidak akan mengurangi rasa sakit itu, malah mungkin jadi tambah sakit."

Jika ujian dari Tuhan datang dan kita mengucap syukur, kita tidak akan berlama-lama dalam ujian itu, tapi jika kita terus mengeluh, berarti kita gagal dengan ujian tersebut. Sebagai seorang guru, pasti ingin muridnya bisa melewati ujian dengan nilai yang baik, dengan asumsi, "kalau kamu lulus ujian ini, berarti kamu sudah menguasai pelajarannya". Dan guru yang menginginkan muridnya jadi lebih baik akan terus memberikan ujian-ujian ke muridnya sampai si murid itu paham maksud pelajaran dari gurunya sehingga bisa lulus dengan nilai yang baik. Jadi .. mengeluh tidak akan membuat masalah kita jadi selesai, malah mungkin bisa semakin runyam karena keluhan-keluhan kita itu.


Demikianlah wangsit yang saya terima hari ini. Ketika saya memikirkannya, saya merasa ditonjok berulang-ulang, meskipun Tuhan juga menghibur saya dengan mengingatkan saya pada latihan-latihan saya di masa lalu. Ketika menjalaninya saya merasakan banyak perasaan yang tidak menyenangkan, malu, sedih, sakit hati, kacau lah pokoknya, tapi tanpa semua kesakitan itu saya pun mungkin tidak akan menyadari bahwa kasih Tuhan itu indah. Setelah melewati semuanya itu dan melihat ke belakang, saya baru bisa melihat lukisan yang Tuhan buat dalam hidup saya, setiap goresan yang Tuhan buat, jadi sangat berharga bagi saya. Dan menjadi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan langkah berikutnya karena TUHANku TAK AKAN TERKALAHKAN.

*Ngomong-ngomong, kalau pakai "saya" kesannya lebih kalem daripada pakai "aku" seperti biasanya ya? hehehe ..

2 komentar:

Anonymous said...

with HIM and a best friend like u.. smuanya pasti bisa dilewatin :)

O.L.S.Y. said...

Saya sudah membaca tulisan ini, tapi ternyata tidak nyaman rasanya menggunakan kata ganti orang pertama dengan "saya". "Gue" adalah kata ganti orang pertama paling netral :D