Thursday, July 21, 2011

Hari Pertama Isaac Masuk SD

Tanggal 18 Juli 2011 kemarin adalah hari pertama Isaac masuk SD. Prosesnya sudah lebih mudah ketimbang ketika dia masuk Preschool dulu. Isaac sudah lebih mandiri dan tidak takut jalan sendiri di sekolahan.
Yang cukup berat awalnya adalah persiapan ke sekolahnya. Karena jarak rumah ke sekolah sangat jauh, saya harus bangun pukul 4 pagi untuk mempersiapkan sarapan dan bekal sekolahnya. Isaac mulai dibangunkan pukul 5 pagi.

Di hari pertama dia dibangunkan pukul 5 pagi untuk sekolah, tau gak reaksinya bagaimana? "Aku gak mau sekolah malem-malem" katanya merengek. hahaha ..
"Lho ini sudah pagi, nanti kamu siap-siap sebentar langitnya udah terang,"
Akhirnya dia mau jalan ke kamar mandi.

Suami saya juga awalnya susah bangun. Tadinya saya minta dia membantu persiapannya Isaac karena saya sendiri sebenarnya masih ngantuk berat walaupun sudah sempat sibuk di dapur menyiapkan bekalnya Isaac. Saya minta dia untuk membantu persiapannya Isaac karena dia yang paling ngotot untuk menyekolahkan Isaac di Serpong di sekolahnya yang sekarang ini.
Jadi rasanya tidak adil kalau dia tidak ikutan merasakan "penderitaan" dalam persiapannya hahaha ..

Tidak lama kemudian suami saya bangun, malah lebih bersemangat daripada saya. Wow .. Dia malah mau mengantar sendiri Isaac ke sekolahnya padahal saya sudah pesan supir untuk datang pagi untuk nganterin Isaac ke Serpong. Saya bahkan tadinya berencana tidak akan mengantar Isaac ke Serpong karena toh sampai sana tetap saya tidak bisa masuk pintu sekolahan. Jadi saya pikir, daripada saya mengantar sampai Serpong dan hanya menunggu saja di lobby sekolah, lebih baik saya di rumah melanjutkan tidur :D

Karena suami saya ingin mengantar, dia juga mengajak saya untuk ikut, akhirnya saya ikut mengantar ke Serpong. Supirnya gak jadi nganterin karena ternyata ban mobil kempes, jadi kami menggunakan mobil yang lain sementara si supir membawa mobil kempes itu ke bengkel.
Saya yang jadi supirnya sekarang :D

Tiba di sekolah, saya baru sadar, Isaac tidak pakai dasi dan tidak bawa topi x_x
Parah banget saya ini sebagai Maminya :)) Lama tidak sekolah formal dan di TKnya Isaac dulu kan tidak pakai topi dan dasi, jadi saya benar-benar sama sekali tidak terpikir masalah dasi dan topi walaupun sebenarnya sudah beli sejak saya membeli buku-buku dan seragamnya Isaac.
Perhatian saya sepenuhnya tertuju pada persiapan bekalnya Isaac.

Menyiapkan makanan memang menguras banyak energi saya karena saya sendiri tidak terlalu hobby dengan makanan dan sepertinya otomatis tidak hobby ke dapur. Bagi saya, memikirkan "hari ini mau makan apa?" atau "hari ini keluarga saya mau dikasih makan apa?" itu sudah menimbulkan stress sendiri yang rasanya lebih berat daripada menghadapi pemeriksaan pajak.
Membayangkan memberi makan anak-anak sehari 3 kali saja sudah berat karena mereka tidak selalu makan dengan cepat, kadang makanan bisa lama berada di mulutnya. Waktu makan jadi lebih lama sementara masih banyak pekerjaan lain yang menunggu. Kalau disambi, pasti urusan makannya yang jadi terbengkalai karena saya dengan mudah melupakan urusan makan ketika sudah menyentuh pekerjaan lain.
Itulah sebabnya, untuk urusan yang satu itu, mau tidak mau saya tidak bisa menolak ketika suami saya memaksa saya untuk memakai asisten untuk memastikan bahwa anak-anak saya makan dengan baik.

Balik lagi ke sekolahnya Isaac. Karena turun dari mobil agak buru-buru, saya lupa kalau saya memisahkan makanan dengan buku-bukunya Isaac. Tas makanannya ketinggalan di mobil, sehingga saya kembali lagi ke gedung sekolah untuk mengantarkan tas makanannya Isaac.
Saya melihat barisan anak-anak yang mau masuk melewati pintu sekolah, saya berpikir, "Kenapa anak-anak ini berbaris sampai di luar gerbang sekolah?"
Pikiran saya tertuju pada aturan sekolah yang mengharuskan setiap anak yang masuk harus diberi cairan untuk mensterilkan tangannya. Jadi anak masuk satu-satu untuk ditetesi tangannya dengan cairan itu.

Ketika saya sudah semakin dekat dengan pintu sekolah, akhirnya saya melihat bahwa Pak Satpam akhirnya sudah tidak membawa botol cairan itu lagi, jadi anak-anak masuk begitu saja. Tapiiiii .. anak-anak itu tetap tidak bisa masuk karena banyak orang tua murid yang masih bercokol di pintu sekolahan untuk melihat anak-anak mereka yang sudah berada di dalam. Wkwkwkw .. Antara geli dan dongkol. Kenapa pada orang tua ini tidak mempercayakan saja anak-anak mereka selama jam sekolah untuk menjadi mandiri selama belajar di sekolah? Setelah jam sekolah selesai toh mereka masih bisa bertemu lagi dengan anak-anak mereka dan menanyai mereka tentang apa yang mereka lakukan di dalam.

Ada seorang guru yang sampai berteriak-teriak menyingkirkan para orang tua tersebut, "Orang tuanya minggir dulu ya, kasih jalan untuk anak-anaknya." Wkwkwk .. ya ampuuuunn ...

Selesai menitipkan tas makanannya Isaac pada salah satu guru, saya pun pergi dari situ. Saya mengajak suami saya ke Pasar Modern untuk sarapan. Tidak seperti saya yang selalu melewatkan waktu sarapan, suami saya suka sarapan pagi-pagi. Jadi saya ajak dia sarapan di Pasar Modern.
Dasar suami saya, dia suka sekali di tempat ramai dan banyak orang berjual beli seperti di pasar. Rupanya dia senang sekali diajak makan di sana. Dia bilang ke saya, "Nah kalau begini jadi pingin cepat-cepat pindah ke Serpong nih. Abis ada tempat beginian, bisa pergi makan sendiri, kamu boleh tidur sampai siang" hahaha ..

Biasanya kalau ke Gading Serpong kami makan di rumah makan, tapi beberapa hari yang lalu saya minta diantar teman untuk melihat pasar modern seperti apa sih, apa bedanya dengan pasar tradisional seperti yang di dekat rumah saya. Rupanya banyak orang berjualan makanan juga, dan di situ relatif lebih bersih.

Lalu saya bilang pada suami saya, "Kalau begitu, urusan ngantar Isaac sekolah kamu aja ya. Biar sekalian sarapan di sini." :))

Karena Isaac hanya orientasi saja selama seminggu ini, dia pulang pukul 10 pagi dan kami memutuskan untuk menunggunya sampai selesai. Keluar dari sekolah, dia sih keliatan senang.
Sementara saya masih dag dig dug dengan keputusan kami menyekolahkan dia di Serpong ini.

Saya bukannya tidak memikirkan jarak yang sangat jauh itu yang harus ditanggung oleh seorang anak berusia 6 tahun dan resiko penderitaan lainnya yang harus bangun pagi, selain resiko cape di jalan.
Saya memutuskan memasukkan anak-anak ke sekolah karena waktu saya untuk menghandle perusahaan sambil mengurus anak rasanya sudah tidak mencukupi lagi. Kalau saya harus mencari sendiri sumber-sumber pembelajaran, maka saya harus banyak belajar lagi hal-hal baru dan itu butuh banyak waktu.
Maka dalam hal ini saya membutuhkan asisten untuk mengajari anak-anak saya, yaitu sekolah. Memang dengan segala kekurangan dan kelebihannya, asisten ini tidak bisa saya atur semau saya, tapi beban saya mudah-mudahan bisa jadi lebih ringan berkat keprofesionalan mereka.

Kenapa harus sejauh itu?

Hehehe .. saya sudah mencari, sekolah nasional plus trilingual hanya ada di Serpong itu. Yang lain, bahkan sekolah internasional pun paling banter hanya menggunakan bahasa inggris sebagai pengantar. Ada sih sekolah taiwan di kelapa gading, meskipun belum pernah mampir untuk bertanya-tanya, tapi karena itu sekolah internasional saya kurang tertarik. Jauh dan mahal.
Kalau yang ini, jauh tapi murah dan trilingual digunakan bersama-sama.

Sebagai pebisnis yang sudah beberapa kali menjajaki kerja sama dengan orang-orang China, kami sangat merasakan kendala bahasa berpengaruh besar. Lebih-lebih, tidak banyak orang China yang bisa berbahasa Inggris. Menjadi tergantung pada penerjemah juga kurang asik rasanya, karena ada hal-hal tertentu yang semestinya dibicarakan secara privat jadi tidak bisa dilakukan. Itulah sebabnya, saya dan suami sepakat, anak-anak harus bisa berbahasa mandarin.

Kendala utama adalah orang tuanya tidak bisa berbahasa mandarin dan lingkungan kami juga tidak berbahasa mandarin, tapi berbahasa jawa hehehe... Memang bahasa jawa sangat berguna ketika di pasar tradisional, jika menawar menggunakan bahasa jawa, kita bisa mendapat harga lebih murah ketimbang menggunakan bahasa indonesia, tapi kalau sudah ke pasar internasional lain lagi ceritanya.
Jadi hal yang terpikir oleh kami adalah memberikan lingkungan kepada anak-anak kami di mana bahasa mandarin dan inggris akan menjadi sesuatu yang biasa untuk mereka gunakan sehari-hari. Sehingga mereka bisa belajar tanpa beban karena dimulai sejak kecil dan digunakan secara natural.
Dengan berada di lingkungan itu, nantinya sudah tidak perlu lagi mereka les bahasa yang hampir sama mahalnya dengan uang sekolah mereka dan hanya masuk seminggu dua kali. Plus mereka bisa belajar mata pelajaran yang lain.

Mata pelajaran lainnya, biarlah anak-anak menunjukkan prestasi sesuai minat mereka masing-masing. Saya juga tidak menuntut apa-apa dari mereka, meskipun sekolah akan menuntut mereka mencapai nilai minimal 7 untuk setiap mata pelajaran.

0 komentar: