Ini berkat atau gara-gara pelajaran moralnya Isaac yang sekalian memaksa saya untuk memberikan pengalaman hidup dengan materi pelajarannya.
Masih ingat pertanyaan tentang ibu yang sibuk memasak dan dijawab oleh Isaac dengan menunggunya?
Awalnya saya berniat membicarakan ini dengan guru pelajaran moralnya Isaac. Mengapa tidak membuat soal yang lebih realistis untuk anak-anak kelas 1 SD ketimbang memperhadapkannya dengan kegiatan memasak yang pasti jarang dilakukan oleh anak-anak kelas 1 SD? Kenapa pekerjaan rumah yang ditanyakan harus "memasak"? Kenapa bukan "membereskan mainan", "membersihkan kamar tidur", dll?
Tapi saya berulang kali merenungkan soal tersebut. Si pembuat soal memang sudah memberikan suasana sendiri pada soal tersebut dengan memberikan sebuah kalimat di atas soal berbunyi :
Saya sayang pada ayah dan ibu, maka saya suka membantu ayah dan ibu.
Lalu di bawahnya ada soal : ketika ibu sibuk memasak, saya akan ....
Mungkin gurunya juga sudah membacakan kembali soal tersebut ketika anak-anak mengerjakannya, mungkin memang dasar Isaac yang tidak ngeh maksud kalimat di atas soal itu sebenarnya untuk memberitahukan jawaban soal di bawahnya :D
Saya mencoba berdiri di posisi sang guru, yang mungkin sudah digarisi oleh kurikulum dengan hafalan-hafalan yang mematikan potensi siswa .. ya sudah lah ..
Jawaban anak saya juga sebetulnya tidak salah, walaupun dia menyayangi saya, dia tidak perlu menunjukkan rasa sayangnya dengan membantu saya memasak.
Karena jika Mami sedang memasak, dia berpikir, lebih baik menunggu di radius yang aman, supaya tidak kena cipratan gorengan, atau karena dorongan rasa ingin tahunya jadi ingin memegang ini dan itu sehingga bisa saja menyebabkan kecelakaan di dapur yang berakibat acara masaknya Mami jadi berantakan dan tambah lama. Ini disebabkan karena saya jarang memasak karena sudah ada asisten atau Mami atau Mamah saya yang memasak, dan mereka pasti tidak akan mengijinkan anak kecil berada di dapur ketika mereka sedang memasak.
Saya tidak mengatakan bahwa dia salah dengan jawabannya, saya hanya mengatakan, "jawaban kamu ga apa-apa, lao shi hanya menginginkan jawaban yang lain". Entah bagaimana dia menangkapnya, semoga tidak ditangkap secara keliru seperti yang saya takutkan.
Beda ketika pertanyaan itu ditanyakan mungkin kepada anak kelas 3 atau yang lebih tinggi, mereka mungkin sudah lebih bisa berhati-hati di dapur, atau minimal, sudah lebih bisa munafik memberikan jawaban yang baik-baik saja :D.
Ketika saya merenungkan berulang-ulang kejadian itu, akhirnya saya berkeputusan mengurungkan niat saya untuk mendebat si guru atau pembuat soal. Teorinya sudah bagus, hanya penerapannya yang menurut saya terlalu tinggi untuk anak saya. Maka mungkin saya lebih baik "mengupgrade" diri saya sendiri supaya bisa mengupgrade anak saya. Bukan dengan mengajarkan hafalan teorinya, tapi dengan belajar mempraktekkan teori tersebut.
Kemarin saya iseng-iseng mengajak Isaac terlibat dalam acara memasak saya di dapur. Tentu saja, tidak hanya Isaac, tapi kedua adiknya juga. Bedanya, Isaac sudah lebih serius melakukannya karena dia sebenarnya memang suka membantu saya.
Walapun pada kenyataannya, kali ini sayalah yang membantu dia memasak :) Tapi pengalaman yang kami sebut dengan "membantu mami" itu tampaknya disukai oleh Isaac.
Ada beberapa makanan yang bisa dibuat tanpa perlu kompor yang menyala-nyala bisa dibuat sendiri oleh Isaac. Misalnya meramu koko crunchnya dengan susu, mengupas apel dan memotongnya, atau meracik roti tawarnya sendiri, malahan Isaac yang mengajari kami orang tuanya cara mengupas apel yang paling gampang dan aman.
Tapi karena dia jarang dilibatkan dalam kegiatan rumah baik oleh asisten rumah tangga ataupun nenek-neneknya, dia jadi jarang membuat sendiri makanannya dan terbiasa meminta dibuatkan meskipun sebenarnya bisa membuatnya sendiri.
Hanya kalau ada saya di rumah, tanpa asisten, bersama anak-anak, Isaac bisa bereksperimen sendiri dengan makanannya. Tapi kesempatan seperti itu bisa dibilang jarang, karena hampir sepanjang hari saya menghabiskan waktu di kantor.
Jika saya mengajak anak-anak ke kantor pun, tidak selalu ada kesempatan untuk belajar melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah, karena semua sudah ada yang melakukannya :D.
Sekarang saya berusaha untuk mengerjakan urusan kantor dari rumah selama tidak ada meeting atau orang yang membutuhkan kehadiran saya, supaya saya bisa lebih banyak bersama anak-anak. Dan kalau harus ke kantor pun, saya berusaha untuk melibatkan anak-anak lagi dalam kegiatan-kegiatan saya.
Ada satu soal lain lagi yang beda standar dengan saya :D Menurut saya, rasa malu adalah kontrol yang lebih kuat atas moralitas seseorang, karena muncul dari diri sendiri.
Ketika kemarin ada soal "saya terlambat datang ke sekolah, akibatnya saya...", anak saya menjawab malu, tetapi si guru menginginkan jawaban dimarahi guru.
Mengapa tidak lebih mengharapkan siswa punya kesadaran sendiri dengan merasa malu kalau terlambat ke sekolah, atau merasa rugi karena ketinggalan pelajaran ketimbang takut dimarahi guru?
Bagi saya, dimarahi guru karena terlambat datang ke sekolah bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti (apalagi ditanamkan kepada siswa), karena tidak ada manfaatnya terhadap proses belajar-mengajar. Bahkan saya mungkin bisa marah balik ke gurunya karena anak saya sebagai customer seharusnya diperlakukan dengan baik, bukannya dimarahi karena terlambat hadir di sekolah. Keterlambatan seharusnya menjadi kerugian di pihak siswa karena sebagai customer yang sudah membayar, mereka jadi ketinggalan materi pelajaran, atau menyebabkan mereka malu karena menjadi satu-satunya orang yang melintasi kelas sementara yang lain sudah duduk manis dan akhirnya dia menjadi pusat perhatian yang negatif.
Beda standar moral nih? :)
5 komentar:
Mam, tulisan ini boleh gue bagiin lewat facebook, gak?
boleh
Jadi menurut kalo menurut Mami Lea, "Halo para orangtua, jangan update status melulu, nanti lupa upgrade diri..." :D
lupa kapan gue terakhir update status, seringnya sih update game, itupun dibantu temen wkwkwkw ..
wah, lupa update, berarti sekarang upgrading-nya udah hebat, dong. Kira-kira lebih hebat dari inte core-i 7 gak, Mam?
Post a Comment