Diyenggg!!!
Kali ini saya menghadapi dilema dengan pelajaran moral anak sulung saya.
Sebenarnya, walaupun menggelikan, saya kasihan juga pada anak saya yang sudah menjawab dengan tulus dan jujur :)
Saya selalu menasehati anak saya untuk menjawab soal tes sesuai keadaan dirinya. Kalau memang tidak bisa atau tidak tahu, ya sudah, tidak perlu melihat jawaban temannya, itu namanya tidak jujur. Kalau jawabannya salah, berarti dia tidak tahu, maka perlu belajar supaya bisa menjawab dengan benar.
Bahkan ada kalanya saya tidak terlalu memaksa dia untuk belajar walapun besoknya ada tes, untuk memberi "pelajaran" lain, bahwa kalau dia tidak belajar dengan serius, akan susah mengerjakan tes dengan benar.
Tapi kali ini bukan soal eksak seperti matematika atau science. Untuk hal-hal yang eksak seperti itu saya nyaris tidak perlu khawatir karena Isaac mudah mempelajarinya.
Ini adalah pelajaran moral, dan seperti ilmu sosial, jawabannya seringkali bergantung pada budaya masing-masing tempat atau bahkan keluarga.
Dalam kasus pertanyaan ini, memang secara teori, seorang anak yang dianggap bermoral sesuai standar ... entah standar mana yang digunakan :D, jika ibunya memasak, maka anak diharapkan membantu ibunya.
Tapi pada kenyataannya tidak semua ibu dapat menuntut si anak untuk membantu di dapur, dan tidak semua anak kelas 1 SD dapat dituntut untuk membantu ibunya di dapur. Baik karena kondisi dapur, kemampuan koordinasi motorik anak, kebiasaan dalam keluarga, maupun waktu yang terbatas.
Maka bisa jadi, bagi beberapa keluarga, menunggu adalah tindakan yang paling baik untuk dilakukan seorang anak ketimbang dia berusaha membantu di dapur yang mungkin berujung pada acara memasak si ibu malah bertambah lama dan dapur jadi kacau sehingga si ibu punya pekerjaan tambahan lagi :D.
Kalau saya suruh anak saya menjawab seperti yang diharapkan lao shi-nya, yaitu membantu, maka yang dibayangkan anak saya membantu ibu memasak adalah ikut terlibat di dapur, sementara pada prakteknya saya malah lebih suka dia mengerjakan hal lain sementara saya memasak, maka ada bahaya yang lain lagi yang mungkin timbul, yaitu munculnya pemikiran di benak si anak bahwa teori tidak harus sama dengan prakteknya, alias .. munafik.
Apakah hal-hal ini yang menyebabkan pelajaran moral tidak banyak berguna untuk membangun moral generasi muda sekarang? Sebab isinya hal-hal yang tidak terjangkau oleh anak, sulit dilakukan dan hanya teori. Sehingga sedari kecil anak sudah terbiasa dengan kegiatan menjawab sesuai yang diinginkan oleh gurunya, bukan apa yang menjadi kenyataan hidupnya supaya terukur pemahamannya akan moral.
Ini adalah salah satu resiko bersekolah formal hehehe .. Maka saya akan menanggung resiko ini dengan mengerahkan segala kreatifitas saya untuk meminimalkan akibatnya. Semoga tidak sering-sering berhadapan dengan yang seperti ini :D
0 komentar:
Post a Comment