Sebenarnya bukan baru-baru ini saja kami mendengar tentang camp tersebut, tapi karena cara penyampaian di gereja terkesan lebay menurut kami, dan suami saya tergolong orang yang malas meluangkan waktu untuk acara-acara yang harus dijalani sendiri apalagi sampai nginep (kecuali acara meeting yang menghasilkan duit :D), maka dia tidak pernah mengikutinya .. sampai suatu saat .. rekan bisnisnya mendaftarkan dia untuk ikut camp bersama.
Suami saya tidak ada masalah dengan saya, sayalah yang rasanya ada masalah dengan dia karena kesalahannya yang menyebabkan saya terluka dan ketika saya berharap dia mengobati luka itu, dia malah membuat luka itu semakin parah :)
Kembali dari acara camp itu, dia share beberapa hal pada saya, antara lain :
1. bahwa ada beberapa pria non kristen yang juga ikut serta dalam camp tersebut
2. banyak mantan-mantan banci yang sudah dipulihkan kepriaannya dan ikut melayani dalam camp tersebut
3. beberapa kesaksian pria-pria yang dipulihkan dalam camp tersebut
Pulang dari situ pun, suami saya kelihatannya lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga daripada sebelumnya. Sehingga beberapa hari kemudian, saya memberanikan diri untuk membahas masalah luka hati saya dan lagi-lagi berharap dia akan melakukan sesuatu untuk mengobati luka hati itu.
Ternyata saya mengharapkan terlalu banyak, suami saya tetap tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika melukai hati istrinya. Dia benar-benar tidak tahu karena dia sendiri juga merasa bersalah sekali dengan kesalahannya itu sampai-sampai jika saya mengungkit kembali kejadian itu, dia merasa tidak nyaman dengan hatinya sendiri, sehingga kata-kata terakhir yang saya dengar dari mulutnya tentang masalah ini adalah, "Kalau kamu merasa takut dengan hal itu hadapilah sendiri ketakutanmu!"
Setelah itu, apapun yang dia ucapkan, secara psikologis saya "menutup telinga".
Karena saya harus menghadapi ketakutan saya sendirian, maka saya harus tegar. Berada dalam perlindungan dan kasih sayang seorang pria, hanya membuat saya menjadi lemah karena "kecanduan". Jadi cara yang saya pikir paling bisa saya lakukan untuk menjadi tegar adalah dengan menganggap bahwa saya hanya punya diri saya sendiri (dan Tuhan) untuk diandalkan (sampai sini masih benar), dan harus menghilangkan rasa sayang saya kepada suami supaya saya bisa kuat berdiri, karena rasa sayang itu membuat saya lemah (nah, yang ini sudah keliru :D).
Suatu hari entah bagaimana dan mengapa, saya merasakan perubahan pada suami saya. Sepertinya dia sangat mengerti saya dan "memanjakan" perasaan saya. Sejak saat itu, tanpa diminta luka hati saya terhadapnya langsung sembuh. Dan saya tidak lagi ingin membahasnya sama sekali, karena sudah tidak perlu lagi.
Kemudian suami saya meminta saya untuk menghadiri acara pertemuan pria sejati di Mangga Dua, di situ saya baru tahu, diapain saja suami saya selama camp :))
Merasa terberkati dengan perubahan suami saya, saya jadi ingin memberkati wanita-wanita lain. Jadilah saya kemarin membawa 4 orang teman ikut camp Wanita Bijak di Serpong dan beberapa karyawan di kantor mengikut camp Pria Sejati di Puncak. Harapan saya, semakin banyak pria dan wanita yang menyadari hakekat jenis kelaminnya (apaan sih? hihihi..), mudah-mudahan semakin berkurang kasus-kasus kejahatan dan kekerasan yang berhubungan dengan kelamin ini. Jauh sekali dari pemikiran untuk membuat orang menjadi Kristen.
Beberapa karyawan saya yang non kristen menolak tawaran untuk mengikuti camp pria sejati ini karena kuatir mereka akan "dikristenkan". Semudah itukah menjadi Kristen di pemandangan mereka? Suami saya sudah mengatakan pada mereka, "seperti makan buah, ambil buahnya, buang kulitnya". Tapi mereka tetap takut. Saya sungguh takjub, tidak menyangka kekristenan begitu hebatnya di mata orang-orang non kristen, sehingga mereka berpikir bahwa jika seorang yang non kristen hadir saja dalam sebuah camp, maka orang itu bisa jadi kristen wkwkw .. Sebenarnya mereka lebih beriman daripada orang kristennya sendiri, karena sadar atau tidak sadar mereka mengakui kehebatan Tuhannya orang kristen yang kalau mereka berani dekat-dekat saja, maka bisa jadi kristen :D.
Beberapa tahun yang lalu, saya sering sekali mendengar kotbah-kotbah Zainuddin MZ dan A'a Gym. Sampai-sampai saya dan suami pernah melalui beberapa minggu tanpa ke gereja karena memang belum bergereja di mana-mana, tapi sorenya malah menunggu A'a Gym tampil di TV untuk mendengarkan kotbahnya, karena menurut kami kotbah mereka lebih membumi daripada kotbah pendeta-pendeta di gereja (sampai akhirnya A'a Gym berpoligami dan tidak lagi ditampilkan di tipi, dan kami akhirnya menemukan sebuah gereja yang cukup "membumi"). Sehingga kalau orang tua kami bertanya, "kamu ke gereja mana hari ini?" maka mereka akan mendapat jawaban, "ke gereja A'a Gym" :D Tapi tetap sampai hari ini saya dan suami tidak juga memeluk agama yang sama dengan mereka.
Kembali ke WB ..
Sebenarnya, teori-teori yang saya dapatkan di Wanita Bijak, adalah rangkuman dari apa yang saya pelajari dari buku-bukunya Benny Hinn, T.D. Jakes, Gary Smalley, John M. Gottman, Joyce Meyer, dan penulis-penulis lain yang menuliskan baik tentang membangun roh kita maupun tentang pernikahan dan hubungan pria wanita.
Dimulai dengan pemulihan gambar diri wanita dan keberhargaannya, lalu kami belajar tentang pemulihan fungsi, dan akhirnya bagaimana menjadi teladan bagi generasi berikutnya maupun wanita lain. Sebenarnya semua itu secara umum ada dalam pelajaran di pemuridan, dan saya sudah belajar itu dari Tuhan, dari penulis-penulis buku rohani, dari bapak rohani saya, dan belajar praktek dengan suami dan anak-anak saya :D.
Hebatnya, Tuhan tidak pernah memberikan "makanan" yang basi untuk kita.
Ketika semua pelajaran itu diberikan dalam kemasan baru dan disajikan dalam kehidupan pernikahan, Tuhan menunjukkan pada saya yang selama ini suka ragu-ragu akan kehadiran Tuhan dan seringkali bertanya-tanya apakah Tuhan memang ada atau hanya sugesti psikologis para pendeta dan kaum agamawi belaka. Kali ini Tuhan membuat mata hati saya melihat dan hati saya menjadi hangat karena mengetahui bahwa Tuhan memang ada di sana ketika semua masalah terjadi dalam hidup saya dan semua itu memang latihan-latihan untuk roh dan jiwa saya supaya menjadi semakin dewasa dan kuat di dalamNya.
Melihat kejadian-kejadian dalam hidup saya diputar ulang seperti sebuah film, saya merasa, jika saya hanya sendiri, tanpa Tuhan, saya tidak mungkin mengambil keputusan atau tindakan-tindakan seperti itu. Saya ini impulsif, meledak-ledak, bodoh dan tidak bisa apa-apa, jika semua masalah itu terlewati dan saya masih selamat dan pernikahan saya masih utuh, maka pasti ada pribadi yang lain yang menggerakkan saya untuk berpikir dan bertindak dengan bijaksana dan menyelamatkan saya dari masalah-masalah yang terjadi.
Maka itu pastilah Tuhan yang sedang dan telah melatih saya selama ini, dan akan terus melatih saya sampai saya menjadi sempurna seperti Dia.
Berkat yang nyeleneh untuk ukuran "pulang dari camp wanita bijak". Ketika sesi demi sesi saya lalui, saya berkali-kali bicara pada Tuhan, "Ya, itu koq seperti saya ya, penyelesaiannya juga seperti itu, jadi selama ini Engkau memang mengajari saya dan tidak meninggalkan saya ya?"
"Dudul! Emangnya siapa lagi?" mungkin seperti itu Tuhan memaki saya, tapi tidak kedengaran oleh telinga jasmani saya :))
0 komentar:
Post a Comment