Ketika akan membacakan Alkitab untuk anak saya di malam hari, saya melihat Kitab Pengkotbah secara sekilas. Meskipun malam itu saya tidak membacakan Kitab Pengkotbah untuk anak saya, namun penglihatan yang sekilas terhadap Kitab Pengkotbah itu terngiang-ngiang di hati saya. Saya ingat, kitab itu sangat berkesan untuk saya (semua kitab di dalam Alkitab berkesan untuk saya dengan cara yang berbeda-beda) karena Pengkotbah menunjukkan banyak kesia-siaan dalam hidup ini.
Kekayaan sia-sia, kecantikan sia-sia, bahkan hikmatnya pun dianggap sia-sia karena baik orang bodoh maupun orang berhikmat sama-sama akan mati.
Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, sambil memasak saya merenungkan Kitab Pengkotbah yang kemarin saya lihat sekilas itu, dan merasa heran. Salomo dalam karunia hikmatnya yang sangat terkenal juga kekayaan yang melimpah dan kesenangan-kesenangan yang mengelilinginya, mengatakan bahwa segala segala sesuatu di bawah kolong langit ini adalah sia-sia, karena pada akhirnya semua manusia akan mati, dan ketika kita mati, kita tidak akan membawa semua itu.
Sungguh kontras dengan yang dikatakan oleh Paulus yang hobby keluar masuk penjara karena memberitakan imannya, dia tidak pernah mengatakan bahwa hidupnya sia-sia. Bahkan Paulus berkata, "hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan".
"Lihatlah!" kata Tuhan sambil menemani saya memasak :), "Salomo dengan karunia hikmatnya yang spektakuler menganggap sia-sia semua yang pernah diperolehnya karena menganggap semua itu tidak bisa dibawa dan hanya akan ditinggalkan untuk orang lain ketika dia mati. Tentu saja, semua sia-sia jika kita hanya memikirkan apa yang bisa kita bawa untuk diri sendiri. Tetapi Paulus, yang tidak tenar dengan karunia-karunia yang kelihatan hebat, malah sering keluar masuk penjara seolah-olah dia adalah seorang penjahat, telah membawa banyak orang ke jalan kebenaran, dan dia tidak merasa ada yang sia-sia dalam hidupnya."
Ya. Paulus telah mengumpulkan harta yang penting, harta yang dia simpan di sorga.
Seringkali kita mengukur kekayaan kita (maupun kekayaan orang lain) dari barang-barang yang dimiliki, bentuk rumah, merek mobil, merek baju dan aksesoris yang digunakan. Bahkan terkadang ada orang yang bangga karena bisa main perempuan, mabuk-mabukan, dan menikmati semua yang dia pikir adalah kesenangan-kesenangan bagi dirinya. Semua ukuran itu sifatnya egosentris dan hanya mementingkan diri sendiri. Pertanyaannya selalu, "berapa banyak yang sudah saya miliki atau pernah pakai?" Itu yang menjadi ukurannya untuk merasa kaya. Tidak heran, kita selalu merasa miskin dan kurang, karena manusia selalu merasa kurang ketika melihat orang lain kemudian melihat dirinya sendiri.
Padahal, orang yang (merasa) berkelimpahan tidak akan merasa sayang untuk memberi kepada orang lain. Kita mungkin tidak pernah mengukur kekayaan kita dari "berapa yang sudah/bisa kita berikan kepada orang lain atau bahkan Tuhan?" Hal itu tidak lazim :)
Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, pada akhirnya akan merasa semua yang dia lakukan sia-sia, karena dia tidak akan menikmati semua usahanya selama hidup ketika dia mati. Tetapi orang yang hidup untuk melayani Tuhan dan orang lain, tidak akan merasa sia-sia karena meskipun dia mati, dia telah menjadikan hidupnya berguna untuk orang lain dan menikmati sukacita yang Tuhan berikan ketika dia hidup.
Salomo pada akhirnya menyadari bahwa semua yang dia miliki sia-sia tanpa Tuhan.
Jadi, inilah pencerahan yang saya dapatkan pagi ini. Manusia tidak akan pernah bahagia jika hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan selalu merasa kekurangan, tetapi ketika peduli dan ingin melayani dan membangun orang lain, dia akan merasa bahagia dengan hidupnya sendiri. Coba saja :)
1 komentar:
Mam, boleh gue sebarluaskan gak?
Post a Comment