Sepulang dari kantor tadi, tiba di rumah, saya merasa dongkol karena supir saya tidak mengerjakan tugasnya seperti yang saya katakan padanya.
Rasa dongkol ini mungkin juga dipicu karena saya sudah lelah secara fisik, kedua anak saya ketiduran sejak dari kantor, sehingga saya harus menggendong mereka, ditambah lagi, suami saya yang walaupun pulang bersama saya saat itu, tapi sudah bilang kalau kondisi badannya kurang fit, sehingga saya rasa tidak mungkin meminta bantuan kepadanya. Meskipun pada akhirnya suami saya membantu saya menggendong anak kedua saya dan membawa tasnya sendiri, saya tetap dongkol.
Saya ingin ngomel ke supir saya itu, atau ke OB saya yang menurut dugaan saya buru-buru pergi dari rumah saya sehingga supir saya tidak mengerjakan perintah saya dengan baik. Tapi ketika saya menghubungi hp-nya berkali-kali tetap tidak bisa nyambung juga, akhirnya saya putuskan untuk memandikan anak bungsu saya dulu dan mandi. Saya pikir, lebih baik saya segar dulu, supaya ngomel pun lebih enak :D
Setelah saya memandikan anak saya, iseng-iseng saya membuka laptop dan melihat fesbuk saya. Ternyata teman saya mentag saya di fotonya dia tentang pendidikan. Entah mengapa, ketika melihat gambar itu, saya langsung terhanyut dengan tema gambar itu, bahkan sempat ngobrol dengan Milen, anak bungsu saya, karena dia menanyai saya tentang gambar itu.
Setelah beberapa saat terhanyut dengan gambar tersebut dan comment-comment di bawahnya, saya mengingat kembali tentang supir saya. Sebenarnya saya ingin posting status, untuk menumpahkan kedongkolan saya, tapi semangat saya untuk dongkol tiba-tiba redup bahkan setelah saya obok-obok hati saya, saya pastikan lagi, saya benar-benar tidak bersemangat lagi untuk tetap tinggal dalam kedongkolan itu. Saya bahkan sudah tidak ambil pusing lagi. Memang, saya tetap akan menanyai supir saya, karena saya perlu dia membantu meringankan beban kerja saya, dan kalau saya biarkan kejadian sekali ini dengan diam saja, jangan-jangan nantinya dia beranggapan saya tidak keberatan dengan kelalaiannya. Tapi saya sudah tidak emosi lagi.
Aneh ..
Apakah karena matahari sudah terbenam?
Apa hubungannya?
Karena kitab suci saya berkata, "janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu" (Ef 4:26) :))
Entahlah. Akhirnya, tidak jadi posting status dongkol, malah saya mengirim message kepada teman saya itu karena telah mengirim gambar yang bermanfaat sehingga pikiran dan hati saya yang sedang dongkol ini bisa terbelokkan fokusnya ke tema gambar dia.
Jadi, jika sedang marah, mungkin lebih baik kita berdiam diri saja, mengumpat dalam hati, namun berusaha mencari pengalih perhatian supaya fokus kita tidak melulu ke pemicu rasa marah itu.
Dan sekali lagi Tuhan membuktikan, Dia menghibur saya, menjadi penolong dan sahabat saya. Ketika seseorang sedang marah, karena keinginannya tidak terpenuhi, dan tidak mungkin terpenuhi lagi, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk membuatnya senang adalah dengan mengalihkan pikiran dan hatinya ke hal-hal yang lain. Itulah yang selama ini saya lakukan untuk orang-orang yang saya kenal, dan ternyata sekarang Tuhan melakukannya untuk saya :D
4 komentar:
Apakah cara seperti yang elu tulis ini termasuk mendiamkan masalah, Mam? Soalnya, kalo ada satu hal didiemin, dan kemudian lega sendiri sebelum matahari terbenam, tu masalah bakal ada lagi, dan lama-lama bakal menumpuk.
Kalo gue sih, mending ngamuk dalam hati dulu ketimbang diam. Meski berseberangan dengan jurus dari Camp PS, mengingat kembali kemarahan, gue pikir salah satu langkah untuk beresolusi tentang kemarahan itu.
Cuma untuk kasus tadi pagi aja teori ini gak mempan. Soalnya lagi asyik kerja, multi-tasking pula dengan kerjaan lain, tiba-tiba listrik padam. Tapi, sembari ngamuk dan sudah bikin status di Facebook, gue agak lega dan bisa berbikir, "Pegawai PLN memang brengsek, tapi kerjaan gue tidak akan kelar kalo gue tetap marah-marah." Jadi, setelah agresi kemarahan gue salurkan, dan itu tidak menjurus ke satu pribadi sehingga gue gak sungkan untuk mem-post-kannya di Facebook, gue punya kesempatan membersihkan kamar yang sekaligus jadi kantor, gudang, perpustakaan dan ruang tidur.
Ada untungnya juga mati lampu, bisa ngerapiin kamar. Yang jelas, gue gak tega membiarkan diri gue larut dalam kemarahan dan berleha-leha dengan alasan sedang marah. Toh kalo kerjaan menjadi sangat lama lantaran PLN sering bikin ulah, dalam dua bulan ini gue catet sudah enam kali listrik padam seharian, Pak Fredy pasti bisa paham. Tapi tentu tidak mau paham kalo gue gak bisa menyalurkan kedongkolan dengan baik sehingga sudah empat belas kali matahari terbenam, belum bisa juga gue mengendalikan amarah hehehehehehe....
Wew .. bukan masalahnya, tapi amarahnya.
Amarah itu yang kalo gak bijak-bijak nanganinya bisa bikin masalah tambah runyam hehehe ..
Kemaren lusa gue sukses mengendalikan marah terhadap hal yang gue anggap gue punya wewenang untuk marah. Bapak kos gue tiba-tiba masuk ke kamar gue dan nongkrong di samping gue yang sedang kerja di depan komputer. Kehadirannya tanpa ketukan pintu. Kosan ini memang punya dia, tapi gue gak pernah mangkir bayar uang bulanan sehingga kamar ini ada dalah kewenangan gue, milik gue.
Dada gue langsung menggelegak rasanya begitu pensiunan prajurit Angkatan laut Republik Indonesia itu masuk dan nanya-nanya berapa jam dalam sehari gue menggunakan komputer.
Pertanyaannya gue jawab belakangan. Setelah diam sejenak sembari tetap melihat ke monitor, gue bilang ke dia, "Pak, di kamar ini, saya tuan rumah. Saya bukan orang Jawa tapi sudah lama tinggal di Jogja. Saya belajar tatakrama orang Jogja. Saya sangat menghormati orang yang bertata-krama. Setahu saya, setiap orang yang bertamu, ngomong kulo nuwun dulu. Nah, bagaimana saya harus menghormati bapak selain dengan cara bayar kos tepat waktu bila bapak masuk ke kamar saya dengan cara seperti ini?"
Si pensiunan tentara itu diam lama, tapi sampai urusannya selesai soal penggunaan daya listrik, dia tetap tidak ngeh kenapa gue marah. Apa gue kudu banting gelas ya?
Itu bapak kos mungkin sangat nyaman dekat kamu dan merasa kamu itu seperti anaknya sendiri walaupun dia ketar-ketir melihatmu sepanjang hari di depan komputer. Karena mungkin dipikirnya, kapan kamu bersosialisasi dan yang menanggung akibatnya salah satunya adalah dia karna tagihan listriknya bakal membengkak hahaha .. (Ini kalau aku "pake sepatu"nya si Bapak Kos ya, meskipun kalau aku jadi ibu kos kayaknya aku gak sejauh itu nyelidikin anak kos sampe segitunya)
Nah, kalo kamu pingin marah ya marah aja Ol, tapi inget-inget aja, jangan sampe berbuat dosa. Misalnya bersikap kurang ajar terhadap orang tua, mencederai orang lain, merugikan orang lain. Dan kalau orang lain tidak paham itu bahwa mereka telah membuat kamu marah, itu tidak majalah, yang penting kemarahanmu sudah tersalurkan. Tidak semua orang dikaruniai kemampuan untuk memahami orang lain. Apalagi mungkin bahasamu terlalu muter-muter buat dia, tinggal bilang aja, "Pak, tolong ulangi lagi masuknya, kali ini pake kulo nuwun!" wkwkwkkw
Aku juga kalau pingin marah ya marah, tapi di cerita kali ini, kemarahanku itu sepertinya diambil begitu saja dari hatiku sehingga ketika aku ingat lagi dengan persoalan supirku itu, aku seperti orang kehilangan, "mana ya perasaan marah yang tadi, koq sekarang jadi gak pingin marah" :))
Itulah sebabnya, aku bilang, itu penghiburan Tuhan, karena aku tidak berusaha menghilangkan kemarahanku atau berusaha supaya tidak marah. Aku "terbelokkan" sebentar ke urusan lain, dan ketika kembali, sudah tidak marah lagi :D
Post a Comment