Monday, November 21, 2011

Tidak Jadi Dongkol

Sepulang dari kantor tadi, tiba di rumah, saya merasa dongkol karena supir saya tidak mengerjakan tugasnya seperti yang saya katakan padanya.

Rasa dongkol ini mungkin juga dipicu karena saya sudah lelah secara fisik, kedua anak saya ketiduran sejak dari kantor, sehingga saya harus menggendong mereka, ditambah lagi, suami saya yang walaupun pulang bersama saya saat itu, tapi sudah bilang kalau kondisi badannya kurang fit, sehingga saya rasa tidak mungkin meminta bantuan kepadanya. Meskipun pada akhirnya suami saya membantu saya menggendong anak kedua saya dan membawa tasnya sendiri, saya tetap dongkol.

Saya ingin ngomel ke supir saya itu, atau ke OB saya yang menurut dugaan saya buru-buru pergi dari rumah saya sehingga supir saya tidak mengerjakan perintah saya dengan baik. Tapi ketika saya menghubungi hp-nya berkali-kali tetap tidak bisa nyambung juga, akhirnya saya putuskan untuk memandikan anak bungsu saya dulu dan mandi. Saya pikir, lebih baik saya segar dulu, supaya ngomel pun lebih enak :D

Setelah saya memandikan anak saya, iseng-iseng saya membuka laptop dan melihat fesbuk saya. Ternyata teman saya mentag saya di fotonya dia tentang pendidikan. Entah mengapa, ketika melihat gambar itu, saya langsung terhanyut dengan tema gambar itu, bahkan sempat ngobrol dengan Milen, anak bungsu saya, karena dia menanyai saya tentang gambar itu.

Setelah beberapa saat terhanyut dengan gambar tersebut dan comment-comment di bawahnya, saya mengingat kembali tentang supir saya. Sebenarnya saya ingin posting status, untuk menumpahkan kedongkolan saya, tapi semangat saya untuk dongkol tiba-tiba redup bahkan setelah saya obok-obok hati saya, saya pastikan lagi, saya benar-benar tidak bersemangat lagi untuk tetap tinggal dalam kedongkolan itu. Saya bahkan sudah tidak ambil pusing lagi. Memang, saya tetap akan menanyai supir saya, karena saya perlu dia membantu meringankan beban kerja saya, dan kalau saya biarkan kejadian sekali ini dengan diam saja, jangan-jangan nantinya dia beranggapan saya tidak keberatan dengan kelalaiannya. Tapi saya sudah tidak emosi lagi.

Aneh ..

Apakah karena matahari sudah terbenam?
Apa hubungannya?
Karena kitab suci saya berkata, "janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu" (Ef 4:26) :))

Entahlah. Akhirnya, tidak jadi posting status dongkol, malah saya mengirim message kepada teman saya itu karena telah mengirim gambar yang bermanfaat sehingga pikiran dan hati saya yang sedang dongkol ini bisa terbelokkan fokusnya ke tema gambar dia.

Jadi, jika sedang marah, mungkin lebih baik kita berdiam diri saja, mengumpat dalam hati, namun berusaha mencari pengalih perhatian supaya fokus kita tidak melulu ke pemicu rasa marah itu.
Dan sekali lagi Tuhan membuktikan, Dia menghibur saya, menjadi penolong dan sahabat saya. Ketika seseorang sedang marah, karena keinginannya tidak terpenuhi, dan tidak mungkin terpenuhi lagi, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk membuatnya senang adalah dengan mengalihkan pikiran dan hatinya ke hal-hal yang lain. Itulah yang selama ini saya lakukan untuk orang-orang yang saya kenal, dan ternyata sekarang Tuhan melakukannya untuk saya :D

Friday, November 11, 2011

Sia-sia?

Ketika akan membacakan Alkitab untuk anak saya di malam hari, saya melihat Kitab Pengkotbah secara sekilas. Meskipun malam itu saya tidak membacakan Kitab Pengkotbah untuk anak saya, namun penglihatan yang sekilas terhadap Kitab Pengkotbah itu terngiang-ngiang di hati saya. Saya ingat, kitab itu sangat berkesan untuk saya (semua kitab di dalam Alkitab berkesan untuk saya dengan cara yang berbeda-beda) karena Pengkotbah menunjukkan banyak kesia-siaan dalam hidup ini.
Kekayaan sia-sia, kecantikan sia-sia, bahkan hikmatnya pun dianggap sia-sia karena baik orang bodoh maupun orang berhikmat sama-sama akan mati.

Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, sambil memasak saya merenungkan Kitab Pengkotbah yang kemarin saya lihat sekilas itu, dan merasa heran. Salomo dalam karunia hikmatnya yang sangat terkenal juga kekayaan yang melimpah dan kesenangan-kesenangan yang mengelilinginya, mengatakan bahwa segala segala sesuatu di bawah kolong langit ini adalah sia-sia, karena pada akhirnya semua manusia akan mati, dan ketika kita mati, kita tidak akan membawa semua itu.
Sungguh kontras dengan yang dikatakan oleh Paulus yang hobby keluar masuk penjara karena memberitakan imannya, dia tidak pernah mengatakan bahwa hidupnya sia-sia. Bahkan Paulus berkata, "hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan".

"Lihatlah!" kata Tuhan sambil menemani saya memasak :), "Salomo dengan karunia hikmatnya yang spektakuler menganggap sia-sia semua yang pernah diperolehnya karena menganggap semua itu tidak bisa dibawa dan hanya akan ditinggalkan untuk orang lain ketika dia mati. Tentu saja, semua sia-sia jika kita hanya memikirkan apa yang bisa kita bawa untuk diri sendiri. Tetapi Paulus, yang tidak tenar dengan karunia-karunia yang kelihatan hebat, malah sering keluar masuk penjara seolah-olah dia adalah seorang penjahat, telah membawa banyak orang ke jalan kebenaran, dan dia tidak merasa ada yang sia-sia dalam hidupnya."

Ya. Paulus telah mengumpulkan harta yang penting, harta yang dia simpan di sorga.

Seringkali kita mengukur kekayaan kita (maupun kekayaan orang lain) dari barang-barang yang dimiliki, bentuk rumah, merek mobil, merek baju dan aksesoris yang digunakan. Bahkan terkadang ada orang yang bangga karena bisa main perempuan, mabuk-mabukan, dan menikmati semua yang dia pikir adalah kesenangan-kesenangan bagi dirinya. Semua ukuran itu sifatnya egosentris dan hanya mementingkan diri sendiri. Pertanyaannya selalu, "berapa banyak yang sudah saya miliki atau pernah pakai?" Itu yang menjadi ukurannya untuk merasa kaya. Tidak heran, kita selalu merasa miskin dan kurang, karena manusia selalu merasa kurang ketika melihat orang lain kemudian melihat dirinya sendiri.

Padahal, orang yang (merasa) berkelimpahan tidak akan merasa sayang untuk memberi kepada orang lain. Kita mungkin tidak pernah mengukur kekayaan kita dari "berapa yang sudah/bisa kita berikan kepada orang lain atau bahkan Tuhan?" Hal itu tidak lazim :)

Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, pada akhirnya akan merasa semua yang dia lakukan sia-sia, karena dia tidak akan menikmati semua usahanya selama hidup ketika dia mati. Tetapi orang yang hidup untuk melayani Tuhan dan orang lain, tidak akan merasa sia-sia karena meskipun dia mati, dia telah menjadikan hidupnya berguna untuk orang lain dan menikmati sukacita yang Tuhan berikan ketika dia hidup.

Salomo pada akhirnya menyadari bahwa semua yang dia miliki sia-sia tanpa Tuhan.

Jadi, inilah pencerahan yang saya dapatkan pagi ini. Manusia tidak akan pernah bahagia jika hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan selalu merasa kekurangan, tetapi ketika peduli dan ingin melayani dan membangun orang lain, dia akan merasa bahagia dengan hidupnya sendiri. Coba saja :)