Kejadian ini hampir 2 minggu yang lalu. Sore-sore ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah, Isaac bilang pada saya, "Mami, aku mau beli piala di sekolah, harganya Rp 45.000".
"Ha? Apa Saac? Beli piala? Emang ada apa sekolahnya jualan piala?" tanya saya.
"Iya, pialanya dijual di sekolah harganya Rp 45.000," kata Isaac.
Secara refleks, sebagai orang tua yang saat itu memang tidak merasa kekurangan uang dan ingin membiarkan anaknya memegang-megang piala, saya tidak keberatan mengeluarkan uang segitu untuk memenuhi keinginan anak saya. Tapi saya berpikir lagi, "Apakah bijak saya membiarkan anak saya membeli piala yang notabene sebenarnya tidak diperlukan?"
"Ga papa kan anggap saja seperti beli mainan lainnya."
"Tapi anak saya ini bosenan, buat orang bosenan seperti dia, mainan seharga Rp 45.000 seharusnya masuk kategori mahal, dan piala itu .. apa yang bisa diperbuat dengan piala itu selain untuk dipegang-pegang, dibuat mainan yang gak karuan?"
"Biarin lah, wong namanya juga pingin megang, pingin nyoba."
"Tetap rasanya aneh membeli piala."
"Bukannya piala itu seharusnya dilombain ya, Saac? Di sekolahnya kamu ada perlombaan apa?" tanya saya lagi.
"Iya, ada lomba, ada yang menang, tapi bukan aku. Yang menang itu dapet piala. Aku engga. Tapi aku pingin piala itu Mami," jawab Isaac.
"Kalau kamu pingin piala kamu harusnya ikut lomba dong, trus berusaha biar menang, atau kamu deketi aja temen kamu yang menang itu, pinjem pegang pialanya sebentar," kata saya.
"Tapi aku gak suka ikut lombanya,"
"Ya kalo gitu kamu gak perlu punya piala."
"Tapi aku pingin pialanya."
"Kalau gitu kamu harus ikut lomba."
"Yaaa Mami .. boleh ya... kan aku pingin."
"Ya kalau pingin kamu harus ikut lomba dan menangin lombanya. Begitu caranya dapat piala, bukan dengan membeli."
Isaac diem ...
"Gini ya, Saac, yang namanya piala itu kan lambang kemenangan. Kalau orang ikut lomba, trus menang, dia dapat piala, supaya bisa dipajang di rumahnya, trus kalau ada orang lihat, nanti tanya, "Wah kamu ikut lomba apa? Juara berapa?" Kalau kamu gak ikut lomba tapi kamu punya piala, nanti orang tanya, kamu jawab apa?"
"Tapi aku gak suka ikut lombanya."
"Ya ga papa, tapi kamu ga bisa punya piala kalau gak pernah menangin lomba. Itu juga ga papa. Kalau kamu pingin pegang pialanya, kamu pinjem aja pialanya temen kamu yang menang itu. Dulu Papi sering dapat piala juga karena juara, ga pernah beli. Kalau kamu cuma pingin mainan piala, nanti kita ambil aja pialanya Papi yang di Pekalongan."
Di rumah, Isaac masih berusaha minta uang, bahkan dia mengambil uang saya yang tergeletak di meja, dan bilang pada saya, "Ini ya Mami, buat beli piala ya."
Tetap saya jawab, "Engga Isaac."
Walaupun kecewa dia tetap mengembalikan uang tersebut di meja.
Keesokan harinya saya mengirim message di fesbuk gurunya dan menanyakan perihal jual beli piala di sekolahnya Isaac. Ternyata memang ada di sekolah. Jadi sekolah mengadakan lomba apaaa gitu, lalu ada juara satu, dua, dan tiga. Sementara anak-anak yang tidak menang, kalau ingin memiliki pialanya, bisa membelinya dengan harga Rp 45.000.
Saya akhirnya menyampaikan kepada bu guru, bahwa saya tidak mengijinkan Isaac untuk membeli piala, mohon koordinasinya kalau nanti ternyata Isaac mendapat bantuan dana dari pihak-pihak lain, misalnya neneknya atau siapapun juga, atau menggunakan uang yang ada di mobil, supaya ditolak.
Saya juga menyampaikan kepada bu guru, mengenai keberatan saya dengan penjualan piala tersebut. Apakah sekolah tidak sedang menanamkan benih-benih korupsi dengan menjual benda yang oleh anak lain diperoleh dengan susah payah dan seharusnya menimbulkan kebanggaan karena memperolehnya, sementara anak lain bisa mendapatkannya dengan mudah hanya dengan minta uang kepada orang tuanya?
Seharusnya anak belajar, walaupun yang menang itu bukan dirinya, dia juga ikut senang dengan keberhasilan orang lain, karena perlombaan itu kan untuk kesenangan bersama, dan yang menang tidak boleh sombong tapi membagi kebahagiaannya dengan orang lain.
Saya tidak protes ketika bu guru memberi nilai 58 di raport untuk nilai pelajaran moral anak saya, karena saya tahu bagaimana cara penilaian di sekolah formal yang serba terbatas, dan saya tahu bagaimana sebenarnya anak saya, jadi saya tidak menjadikan nilai dari sekolah sebagai acuan untuk anak saya. Bahkan saya katakan padanya, nilai tidak penting, yang penting, kamu ke sekolah untuk belajar supaya menambah pengetahuan kamu. Saya bahkan tidak membawa pulang raportnya Isaac karena nantinya juga harus dikembalikan lagi, dan tidak sedikitpun membahasnya dengan Isaac karena saya pikir, yang penting anak saya mendapat ilmu yang berguna untuk hidupnya. Untuk apa saya bahas nilai-nilai, nanti anaknya malah berfokus ke situ daripada ke ilmu yang seharusnya dia serap. Biar saja anak-anak belajar dengan senang hati, tanpa harus ada tuntutan harus dapat nilai sekian. Tapi jika ada praktek-praktek yang menurut saya menyimpang dari pelajaran moral, itulah yang saya anggap ancaman untuk anak saya.
Saya mungkin memang tidak bisa melindungi anak-anak dari menemukan fakta-fakta yang aneh-aneh di lapangan, tapi saya tetap harus melakukan semaksimal mungkin untuk menjaga hati anak-anak saya dari pengaruh-pengaruh asing yang buruk di luar rumahnya.
2 komentar:
Yang udah ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. kok jadi kayak nunggu komet ya?
Lalu, bagaimana soal seorang murid yang disuruh ikut les tambahan oleh guru karena nilainya tidak mencapai standar yang diterapkan sekolah, Mam?
Kalau menurut gue, kan tugas guru supaya muridnya bisa mencapai standar yang ditentukan. Tapi ini malah anaknya udah disuruh sekolah, malah disuruh ikut les lagi oleh sekolah untuk mencapai standar yang seharusnya sudah disiapkan oleh sekolah lewat jam pelajaran regular.
Wah .. kalau itu saya tidak tahu, kalau dipaksa ikut dan harus bayar lagi ya itu namanya pemerasan, tapi kalau anaknya memang pingin waktu belajar tambahan dari gurunya, ya alangkah baiknya orang tuanya punya kesadaran untuk mengganti waktu gurunya yang sudah dikorbankan di luar jam kerjanya.
Soalnya namanya belajar di sekolah formal secara massal, kecepatan anak menyerap pelajaran kan beda-beda, belum lagi kalau anaknya ternyata ga cocok dengan cara belajar rame-rame sehingga dia gak bisa konsentrasi menerima pelajaran.
Tapi kalau saya pribadi, ketika saya jadi guru, meskipun sorenya saya kerja jadi operator warnet (hehehe..), ketika ada murid saya kelas 5 yang belum bisa perkalian 1-10 dan curhat ke saya (meskipun sebenarnya saya tidak mengajar matematika di kelas 5), saya ajari secara gratis, dia asalkan dia mau ke warnet karena saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya :D
Kalo aku bilang, sebaiknya sih TST aja biar gak terlalu kapitalis :))
Post a Comment