Tuesday, February 21, 2012

Akhirnya Kutemukan

Saya punya hobby baru, mendownload filem dan buku-buku digital.
Tentu saja tidak semua saya kerjakan. Untuk download filem dan musik, suami saya lebih jago, jadi saya biarkan dia yang melakukannya :D

Salah satu buku yang cukup berharga, karena menurut saya berisi "harta karun", adalah buku yang berjudul "Semakin Dibabat Semakin Merambat".
Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, ketika saya masih berpacaran dengan suami saya dan blio masih full time pelayanan di gereja, saya pernah membaca buku itu karena tergeletak di rumahnya. Waktu itu bukunya sudah cukup kumal, tapi bisa bikin orang tenggelam keasikan membacanya.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah googling mencari buku tersebut, tapi tidak banyak link yang menampilkannya. Penerbit BPK GM menjualnya secara online tapi stok kosong. Saya bilang, saya mau dikabari kalau buku tersebut dicetak lagi. Tapi tentu saja mereka lupa :D
Kemarin, saya iseng-iseng googling lagi. Kali ini saya menemukan e-book onlinenya di google books, dan ada toko buku online juga menjualnya.

Buku "Semakin Dibabat Semakin Merambat" ini menceritakan tentang penganiayaan yang dialami oleh pengikut-pengikut Yesus dari masa ke masa. Ketika membaca buku ini, saya menjadi sangat dikuatkan, bahwa penderitaan-penderitaan dan masalah yang kita hadapi di bumi sekarang ini, sebetulnya nyaris tidak ada artinya. Membaca tentang keberanian para martir yang dengan gagah berani menerima penganiayaan sampai hembusan napas terakhir karena iman mereka, membuat kita jadi lebih berani dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidup kita. Apalagi kalo masalahnya cuma diputus pacar hihihi .. (geli membayangkan ada orang yang lebay, sampai mau mati saja gara-gara diputus pacarnya).

Di Indonesia, baru gedung gerejanya aja yang dibakar, dianiaya, dihalang-halangi pembangunannya, belum sampai gereja yang sesungguhnya, yaitu orangnya. Sebetulnya penganiayaan atau masalah itu membuat iman kita semakin kuat kalau kita menghadapinya dengan berserah sama Tuhan. Banyak mukjizat justru terjadi di tengah penganiayaan, bukan di tengah kenyamanan.

Coba deh cicipin buku ini, terutama untuk kalian yang mengaku dirinya pengikut Kristus. Buku ini bagus banget!

1 komentar:

V Olsy Vinoli Arnof said...

Dalam keadaan teraniaya banyak sekali kekuatan muncul dalam diri seseorang. Kekuatan itu kerap gak ada dalam keadaan nyaman atau, bisa jadi, orang lupa bahwa dia punya kekuatan bila keadaannya baik-baik saja. Tapi rasanya, gak harus jadi teraniaya dulu sebelum merasakan suatu kekuatan.

Dulu, waktu gempa di Jogja, ada bapak tua yang nekat masuk ke rumahnya yang atapnya berantakan. Kening bapak itu tertimpa genteng dan lukanya belum kering. Gempa-gempa susulan masih terasa banter. Orang-orang berkerumun di tempat aman, di pinggir jalan. Ketika bapak itu masuk ke rumahnya, orang pada khawatir tapi takut juga untuk menemaninya masuk ke rumahnya.

Tapi, tak lama kemudian, si Bapak keluar dengan satu termos air teh manis dan beberapa gelas. Lalu menawarkan ke orang-orang yang mencemaskan keadaannya yang tentu saja masih cemas oleh gempa.