Beberapa hari yang lalu, sahabat saya mengajak saya keluar malam, ke diskotik. Sahabat saya ini rupanya diajak oleh teman saya yang datang dari luar kota dan ingin bersenang-senang bersama suaminya. Awalnya saya ingin menolaknya, karena saya sudah mulai terbiasa bangun pukul 4 pagi dan kebiasaan baru ini membuat saya mengantuk sebelum larut malam tiba. Saya juga sudah membayangkan, karena suami saya kebetulan pulang cepat, kami akan tidur-tiduran dan menonton film-film yang telah didownload oleh suami saya.
Sungguh, ini bukan masalah dosa atau maksiat atau bukan, diskotik dan segala keriuhan yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang saya inginkan malam itu.
Ketika saya menceritakan hal ini ke suami saya, sambil makan malam di sebuah warung nasi, suami saya berkata, "Yah ga papa, kamu pergi aja, sapa tau kamu bisa observasi, kenapa orang-orang pada suka ke sana." Saya sudah pernah ke diskotik bersama suami saya, dan saya tidak tahan berada di dalamnya berlama-lama karena penuh dengan asap rokok. Tetapi jawaban suami saya membuat saya berpikir, "Mungkin saya tidak menginginkannya, tapi mungkin sahabat saya membutuhkan saya. Mana tahu dia mabok dan tidak bisa menyetir sendiri untuk pulang."
Selain itu, rupanya teman yang mengajak sahabat saya ini juga mengajak saya bertemu, meskipun tidak ke diskotik. Dia tidak pede untuk mengajak saya ke tempat-tempat yang punya image negatif karena dia pikir saya ini pendeta :)). Beda dengan sahabat saya, sahabat saya merasa nyaman membawa saya ke mana saja, karena dia tahu saya menerima dia apa adanya.
Akhirnya saya katakan pada sahabat saya, bahwa saya mau pergi bersamanya, saya akan menjemputnya dan malam itu saya yang jadi supirnya :D. Biasanya dia yang jadi supir saya. Rupanya sahabat saya juga sudah merencakan begitu hehehe ..
Ketika akhirnya kami bertemu bertiga di depan sebuah cafe tempat teman saya itu mengajak bertemu, kami akhirnya ngobrol-ngobrol di mobil, menunggu teman suami saya. Teman saya sepertinya heran kenapa saya mau diajak ke diskotik dan lebih heran lagi kenapa sahabat saya mengajak saya ke diskotik. Bertambah lagi keheranannya ketika dia bertanya bagaimana saya ijin dengan suami saya, dan saya jawab bahwa saya ijin apa adanya, malah suami saya yang memanaskan mobil yang akan saya pakai untuk pergi.
Saya bilang, "Saya pergi demi menemani sahabat saya." Sahabat saya bilang, "Nobody is perfect lah, saya sih apa adanya aja sama Lea."
Saya mengamini kata-katanya, tapi hati saya menjadi tidak sejahtera.
Nobody is perfect ..
Trus kenapa?
Apakah karena manusia tidak sempurna lalu silahkan nyemplung ke jurang maut dan berbuat seenaknya selama hidupnya?
Lalu saya jadi teringat dengan kata-kata Paulus, "Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?" (Rm 6:1)
Begini maksud saya, kita sering menggunakan alasan "tidak ada manusia yang sempurna", lalu kita memaklumi perbuatan atau pemikiran yang kita tahu bahwa itu salah atau tidak benar atau merugikan kita.
Kita lupa bahwa Tuhan menciptakan kita sempurna. Bahkan kita ini dilahirkan dari benih pemenang. Dalam proses penciptaan kita, hanya sperma yang berhasil menembus sel telur saja lah yang bisa membuahinya dan menghasilkan janin. Ketika ada sel sperma yang berhasil menembus sel telur, maka dialah pemenangnya, karena yang lain tidak akan mendapat kesempatan lagi sesudahnya.
Bukankah itu menunjukkan Tuhan tidak main-main dengan penciptaan kita? Bahkan dosa yang diwariskan oleh Adam pun tidak membuat SOP (standard operating procedure) penciptaan kita berubah menjadi terlahir dari benih yang tidak sempurna.
Dia juga sudah menyiapkan tujuan yang mulia untuk hidup kita, yaitu menjadi "mempelaiNya", menikmati kemuliaan bersamaNya. Apakah tujuan semulia itu bisa dicapai jika kita tidak sempurna? Apa ada mempelai pria yang mau menikah dengan gembel?
Saya terus merenungkan hal itu, dan menemukan ternyata Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48)
Apakah mungkin, kita diberi perintah untuk menjadi sempurna jika kita memang tidak bisa sempurna? Apakah Tuhan asal saja memerintahkan sesuatu yang tidak bisa kita kerjakan?
Perintah yang kedengaran sangat berat itu ternyata ada kuncinya, dalam kalimat Paulus di atas dia memberikan kuncinya, "Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya" (Rm 6:2)
Manusia memang tidak sempurna, Adam telah mewariskan dosa untuk kita dan kita akhirnya berkubang dalam ketidaksempurnaan itu. Tetapi kasih Allah yang begitu besar, telah mengambil kita yang awalnya adalah gembel ini, dari kubangan dosa dan membersihkan kita dengan darahNya ketika Yesus mati di kayu salib. Kematian Yesus adalah kematian yang harus kita alami, yaitu kematian kehidupan lama kita, maka kita memasuki kehidupan yang baru, yang sudah Allah sediakan untuk kita.
Jadi ... (saya suka ketika seorang pendeta menggambarkan ini begitu mudah bagi saya), kita sudah mati bagi dosa, dan sekarang hidup bagi Kristus. Kita ini seperti mayat bagi dosa. Mungkinkah mayat melakukan sesuatu? Tetapi kita dibangkitkan bagi Kristus, sehingga kita bisa melakukan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan.
Jadi, kesempurnaan memang tidak mungkin kecuali kita mengalami "kematian Kristus" (kematian kehidupan lama) dalam hidup kita. Karena itu, hanya Yesus yang berani memerintahkan kita untuk menjadi sempurna, karena Dia saja yang bisa menyempurnakan hidup kita. Hanya dengan melekat kepadaNya dan hidup di dalam kasihNya kita bisa menjadi sempurna seperti yang diinginkanNya.
Seringkali slogan "nobody is perfect" berakhir dengan "jadi ya sudah, begini-begini saja, tidak usah jadi lebih baik lagi". Slogan ini akhirnya menutupi mata kita dari melihat tujuan mulia penciptaan kita.
Apakah ini hanya monopoli untuk umat Kristiani saja? Tidak! Yesus mati untuk semua manusia di bumi tanpa kecuali. Pasti Dia ingin semua manusia mati terhadap dosa dan dibangkitkan dalam Dia.
Cerita yang LainMenyimpang dari judul kali ini, saya cukup terkejut ketika saya menemukan dalam kitab suci agama lain yang sebetulnya mengakui tentang Yesus, mereka menyebutnya dengan nama yang lain. Yang membuat saya terkejut adalah bahwa selama ini saya menganggap agama-agama yang lain itu tidak benar, tapi sebetulnya ada beberapa agama yang Tuhan ijinkan untuk muncul yang ujung-ujungnya sebenarnya adalah Tuhan yang sama dengan yang saya sembah. Saya merasa bahwa agama sebenarnya tidak penting diperdebatkan, agama adalah usaha manusia untuk mencari Allahnya, agama seperti budaya, semua berisi usaha manusia untuk hidup yang lebih baik.Tetapi apapun namanya, Tuhan sebenarnya sudah menyatakan diriNya, dan Ia ingin kita menerima dan hidup dalam kasihNya.
Awalnya saya iseng-iseng googling tentang salah satu aliran agama yang dianggap sesat, ketika saya membaca beberapa postingan pengikutnya, saya terkejut karena mereka ternyata menyembah Tuhan yang sama dengan saya meskipun dengan cara yang berbeda.
Namun dalam perkembangannya, agama itu disebarkan atas dasar pemikiran pribadi orang-orang yang menyebarkannya, ayat-ayat dalam kitab suci itu dicomot sebagian-sebagian sesuai kebutuhan pribadi, sambil ditunggangi kepentingan politik dan sebagainya, sehingga yang terjadi, umatnya tidak diberitahukan jalan keselamatan yang sebenarnya, malah ujung-ujungnya menimbulkan keributan yang sebetulnya tidak ada artinya. Penyimpangan terjadi ketika ada pengkultusan individu, sehingga pokoknya orang ini yang paling benar, yang lain salah.
Beberapa hari yang lalu saya sempat menghabiskan waktu saya untuk membaca kitab suci tersebut, meskipun tidak bisa semuanya karena keterbatasan waktu saya.
Nobody is Perfect .. slogan itu tidak boleh diakhiri dengan titik, karena kasih Allah telah dikaruniakan kepada sehingga kita adalah ciptaan yang sempurna. Maukah kita mati dalam kebodohan jika pada awalnya kita diciptakan dengan sempurna dan diberi tujuan yang mulia?
Slogan di atas sebetulnya menempatkan kita dalam persimpangan, dalam ketidaksempurnaan kita, apakah kita akan berkubang dalam kegelapan atau mensyukuri bahwa pribadi yang tidak sempurna ini dikasihi oleh Allah yang sempurna sehingga menjadi sempurna.
Kita pasti punya kelemahan, tetapi itu untuk mengingatkan kita supaya tidak menghakimi orang lain, supaya kita tidak bisa lepas dari kasih Allah dalam hidup kita, bukan untuk membuat kita putus asa dan menyerah.
0 komentar:
Post a Comment